Oleh:
Nasuha Abu Bakar, MA*
Tahun 1987 saya terdaftar sebagai mahasiswa fakultas adab jurusan sastra Arab IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang letak kampusnya di Wilayah Kecamatan Ciputat. Gedung bangunan yang sudah tua konon dibangun tahun enam puluhan, saya lebih senang menyebutnya bangunan klasik bukan ketinggalan sekedar menyenangkan isi batin saja. Pilihan yang sangat pragmatis setelah saya renungkan secara sungguh-sungguh. Dan merenung nya hari ini bukan ketika saya akan mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa. Kalau saja renungan itu terjadi saat saya akan mendaftarkan diri mungkin saya batal menjadi mahasiswa.
Fakultas Adab jurusan sastra Arab merupakan satu satunya fakultas yang dihindari oleh sebagian calon mahasiswa dan mahasiswi yang latar belakangnya sekolah umum. Karena di fakultas ini semuanya serba Arab, kata kuliah sebagian besar naskah materi nya bertuliskan huruf Arab dan menggunakan bahasa Arab. Biasanya yang berminat ke fakultas ini terbatas hanya alumni pondok pesantren modern, pondok pesantren salafiyah. Yang tidak bukan alumni pondok pesantren biasanya macet di tengah perjalanan, bisa pindah fakultas, bisa pindah Kampus atau pulang kampung karena gagal untuk melanjutkan ke semester berikutnya. Kalau istilah sahabat saya menyebutnya drop out (DO).
Alhamdulillah saya termasuk yang lulus seleksi masuk ke fakultas adab jurusan sastra Arab. Ada dua kelas yaitu kelas A dan kelas B, saya masuk di kelas B. Baik di kelas A dan di kelas B kurikulum mata kuliah nya sama ada filsafat Islam, ada mata kuliah bahasa Indonesia, bahasa Arab, bahasa Inggris, ada Nahwu, ada Sharaf, ada ilmu 'Aruld, ada adabul jahiliah. Semua Mata kuliah nya sama, bahkan dosen nya juga sama, yang membedakan hanya ruang kelas dan hari kuliah nya saja.
Dalam tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa para pejuang agama dan para pejuang kebangsaan memiliki nilai nilai kurikulum yang sama, pemerhati dan para pejuang agama menyampaikan, mengajak seluruh komponen masyarakat supaya menjadi masyarakat yang taat, tunduk patuh pada nilai ajaran agama. Yang beragama Islam jadilah muslim sejati, yang Nasrani jadilah Nasrani yang konsisten dengan faham dan keyakinan nya. Demikian juga yang Hindu, Budha, Konghucu, berusahalah agar menjadi pemeluk agama yang baik, menjadi manusia Sholeh bukan salah.
Sebagai pemerhati dan pejuang nilai nilai kebangsaan selalu mengajak untuk melakukan, mewujudkan nilai-nilai ajaran dasar negara yang terkandung dalam butir butir Pancasila. Nilai nilai yang dikandung dalam dasar negara dapat mewujudkan kemaslahatan kehidupan bermasyarakat berbangsa, bernegara dan beragama. Demikian juga nilai nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya ajaran agama agama dapat selaras, bahkan menjadi "BINGKAI KEHIDUPAN" bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tidak bersifat lokal, atau nasional bahkan dunia internasional dapat dicapai melalui pendekatan agama dan kebangsaan.
Agama dan kebangsaan keduanya memiliki nilai dan misi yang sama, di antaranya sama sama melindungi hak masyarakat, mensejahterakan, memberikan wawasan dan pengetahuan, serta memberikan perlindungan dan kenyamanan di dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa serta bernegara.
Peringatan peristiwa Pancasila merupakan membangun peningkatan kesadaran masyarakat, warga negara untuk menjaga nilai nilai yang telah diperjuangkan oleh para pendiri dan para pahlawan tanpa membedakan latar belakang pendidikan, ras, suku, agama, strata sosial, karena kita sudah dibingkai dengan kurikulum yang sama yaitu Bhineka tunggal Ika, hanya ruang belajar yang berbeda.
Wallaahu'alamu bish shawaab wa ilahil musta'aan.
*Penyuluh Agama Islam Kota Tangerang Selatan



