Ponorogo, bimasislam— Cuaca terik sekali pagi itu. Matahari seperti menyengat ke kulit. Pondok Modern Darussalam Gontor yang terkenal itu tengah bersiap menyambut tamu kehormatan. Ribuan santri duduk di bawah tenda, berkemeja putih dengan songkok hitam di kepala, khidmat. Sementara itu seratusan lainnya berbaris sepanjang gerbang hingga ke gedung aula. Mereka mengibarkan bendera negeri kinanah, Mesir, ditemani rombongan marching band yang memainkan lagu-lagu rancak.
Sejumlah ustadz dan santri senior yang tampil perlente dalam balutan jas hitam berdasi nampak sibuk mengondisikan arena. Tamu yang tengah ditunggu itu seorang tokoh besar, tak tanggung-tanggung ia adalah ulama berpengaruh di dunia Islam, terutama kalangan sunni. Ia adalah Prof. Dr. Ahmad Mohammad Ahmad Al-Thayeb, Grand Syaikh di Universitas al-Azhar al-Syarif, sebuah lembaga keilmuan yang sangat terhormat dan disegani, bahkan salah satu yang tertua di dunia.
Ulama yang juga merupakan pakar tasawuf dan filsafat itu datang dengan iring-iringan pejabat kedutaan Mesir dan pejabat Universitas al-Azhar. Hadir pula sejumlah tokoh nasional antara lain Prof. Quraish Shihab, Mbah Hasyim Muzadi, Prof. Din Syamsuddin, serta sejumlah awak media.
Mengawali gelaran akbar itu, pimpinan Pondok Modern Darussalam, Kyai Hasan Abdullah Sahal menyampaikan sambutan yang sangat emosional. Ceramahnya yang terkadang berapi-api membakar semangat hadirin, namun tiba-tiba membuat suasana menjadi haru diliputi isak tangis, dan tak lama kemudian membalikan suasana menjadi riang penuh tawa, menjadi awal sambutan yang sempurna dalam majelis yang dihadiri para ulama dan ribuan santri itu. Kyai kelahiran 24 Mei 1947 itu benar-benar memiliki kemampuan public speaking yang luar biasa!
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin tak kalah luar biasanya, dalam pidato yang disampaikan dalam Bahasa Arab, pria yang juga merupakan alumni Gontor itu sedikit bernostalgia ketika ia menimba ilmu di pondok itu pada era 80-an.
"Suatu kebahagiaan dan kebanggaan bagi saya, dapat mengenyam pendidikan melalui para masyayikh di pondok Gontor tercinta ini, saat saya menempuh pendidikan tingkat menengah, saat saya menghabiskan hari-hari untuk menimba ilmu dan menempa diri di pondok Gontor ini pada tahun 80-an," kenangnya.
“Hubungan persahabatan antara Indonesia dan Mesir sudah terjalin sejak lama, bahkan sudah terjalin sebelum kemerdekaan dan sebelum adanya hubungan diplomasi antar kedua negara. Yaitu dengan pengiriman pelajar-pelajar Indonesia yang ingin belajar di Universitas al-Azhar sejak abad ke-19. Al-Azhar dengan paham moderatnya selalu menjadi penerang bagi pedamba ilmu pengetahuan dan pengkaji ilmu-ilmu keagamaan. Oleh karena itu masyarakat Indonesia dan para ulamanya senantiasa meletakkan al-Azhar dalam hati mereka dengan penuh rasa cinta dan kemuliaan,” papar Menag diiringi tepuk tangan hadirin.
Momen yang paling mengharukan dalam perhelatan akbar itu adalah saat melihat kyai Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal tak kuasa menitikkan air mata, pun demikian dengan Menteri Agama yang berkali-kali menyeka air matanya saat Grand Syaikh menyampaikan ceramah.
“Pondok Darussalam Gontor adalah miniatur Al-Azhar dalam upaya membentuk generasi muda Indonesia yang berpegang teguh pada ajaran Islam. Pondok Gontor memiliki peran penting dalam membentuk jiwa dan pikiran moderat melalui pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan. Di mana usaha ini sesungguhnya merupakan usaha paling berat yang sebagian besar negara Islam di dunia ini tidak mampu melaksanakannya sampai saat ini” Ungkap Grand Syeikh Al-Azhar yang diiringi tangis dan tepuk tangan para hadirin.
Demikian terkesannya Grand Syaikh Al-Azhar terhadap Pondok Modern Darussalam Gontor, Syaikh Ahmad Al-Thayeb juga menjanjikan bahwa dalam rangka mempererat hubungan antar dua lembaga keilmuan itu, Universitas Al-Azhar Mesir akan memberikan 50 beasiswa khusus untuk santri Pondok Modern Gontor di semua fakultas baik fakultas agama ataupun sains.
Selepas pertemuan dengan para santri, Grand Syaikh bertolak ke Univeritas Darussalam (UNIDA) Gontor, Ponorogo untuk membuka acara peringatan 90 tahun pondok Gontor di Kampus UNIDA. Kunjungan ke Gontor merupakan agenda terakhir dalam lawatan Grand Syaikh Al-Azhar ke Indonesia kali ini sebelum bertolak kembali ke Mesir pada Jumat pagi (26/2). (sigit/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



