Jakarta, bimasislam— Berbagai musibah sedang melanda bangsa kita. Di Sumatera Utara, gunung Sinabung meletus, banjir besar menenggelamkan pemukiman penduduk Jakarta dan beberapa kota lainnya di pulau Jawa, dan banjir bandang di Manado yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Kenyataan ini menjadi perhatian dan keprihatinan Ustadz Arifin Ilham dalam khutbahnya di Masjid Istiqlal hari Jumat (24/1) kemarin. “Yang bisa kita lakukan adalah permohonan kepada Allah agar diberikan kesabaran, keikhlasan, baik sangka, dan kepasrahan. Kita berharap ada pelajaran, hikmah, dan tadzkiroh. Karena kalau sudah takdir Allah, tidak ada yang bisa menolaknya“, demikian pesannya. Itu sikap cerdas seorang mukmin menghadapi ujian, tegas Ustadz yang bersuara serak ini.
Tidak ada kehidupan seorangpun tanpa ujian dan tantangan, lanjut Arifin. Jangankan kita, semua Nabi juga menghadapi ujian dan tantangan, bahkan lebih berat. Nabi Ibrahim As. dengan Raja Namruj, Nabi Musa As. dengan Fir'aun, begitu pula dengan Nabi Isa As. dan Rasulullah Muhammad Saw. dengan perlawanan kaumnya masing-masing. Ini semua dinamika hidup manusia, agar kita bisa naik kelas. Alquran menegaskan, “(Dia) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji coba mana di antara kalian yang lebih baik amalnya”, urai Arifin seraya menyitir Ayat 2 dari Surah Al-Mulk/67 di hadapan ribuan jamaah yang mengikuti shalat Jumat.
Hanya masalahnya, maukah kita mengevaluasi diri (muhasabah) dan mengambil pelajaran, serta bergegas memperbaiki diri bila ada yang salah pada kita. Bila ada kemaksiatan yang dilakukan oleh sebagian dari kita, sesungguhnya musibah itu peringatan (tadzkiroh) buat kita semua, ingatnya. Ada sebuah riwayat yang menceritakan bahwa ketika musibah terjadi pada suatu kaum, yang ditanyakan Khalifah Umar ibn Khattab adalah “apa kemaksiatan yang telah dilakukan oleh kaum itu?” bukan yang lain, sentil Arifin penuh emosi dan perasaan.
Karenanya, bergegaslah menyadari dan memperbaiki diri atas apa yang terjadi, ajak da’i yang dikenal dengan pendekatan dzikirnya ini. Solusi atas apa yang kita alami sekarang ini, tawarnya, adalah dengan bertaubat sebenar-benarnya (taubatan nasuha), bersedekah, bersungguh-sungguh beriman kepada Allah, dan menghidupkan sunnah Rasul-Nya dalam kehidupan kita. (edijun/foto:vivanews)



