Oleh:
Abu Rokhmad*
Abu Rokhmad*
Dalam seluruh napas hidupnya, santri terus berikhtiar menjalankan agamanya secara kaffah. Karena itu, ia selalu belajar ilmu agama Islam setiap saat. Komunitas santri menyebutnya mengaji, yakni suatu aktivitas mengkaji Islam dan ilmu-ilmu yang menyertainya di hadapan para kiai dengan menjadikan kitab kuning sebagai referensinya.
Cara belajar santri sangat khas. Mereka mengandalkan semua kekuatan yang dibutuhkan dalam belajar. Kekuatan lahir dan batin. Hafalan, pemahaman, penghayatan, praktik, logika, adab dan doa, dikombinasikan sedemikian rupa sehingga mendapatkan hasil mengaji yang terbaik.
Para santri termasuk figur pembelajar yang hebat dan terbuka (open mind). Hampir tidak pernah santri mengkritik cara belajar orang-orang berpendidikan modern. Sebab masing-masing memiliki teori dan landasannya sendiri. Tapi, bandingkan dengan ahli pendidikan modern yang menganggap cara belajar kaum santri sebagai kuno dan tradisional. Hafalan adalah contoh metode belajar santri yang paling dikritik oleh pencelanya.
Laku atau adab santri di hadapan kiai adalah contoh lainnya. Cium tangan atau berjalan merendah sebagai bentuk takzim dan tawaduk santri pada kiai begitu dibenci. Padahal adab santri kepada kiai memiliki landasan sejarah. Para santri menghamba kepada ilmu dan para ahlinya.
Laku atau adab santri di hadapan kiai adalah contoh lainnya. Cium tangan atau berjalan merendah sebagai bentuk takzim dan tawaduk santri pada kiai begitu dibenci. Padahal adab santri kepada kiai memiliki landasan sejarah. Para santri menghamba kepada ilmu dan para ahlinya.
Tradisi pengabdian yang tulus dari santri kepada kiai atau sebaliknya merupakan tradisi pesantren yang terus akan dirawat dan dipelihara. Jika tradisi pengabdian itu hilang, maka santri mungkin juga akan lenyap. Sebab tidak ada lagi bedanya antara santri dengan lainnya.
Dalam dunia di mana batas baik dan buruk semakin tidak jelas, santri konsisten memegang obor kehidupan. Obor yang menjadi penyemangat dan penerang dari hidup dirinya dan komunitasnya. Obor yang terus membuat dirinya terang dan tidak salah jalan hidup. Dalam perjalanannya, pemegang obor adalah orang terdekat dengan obor. Ia orang yang paling mendapat cahaya penerang dan penunjuk arah bagi orang lain.
Obor tersebut lahir dari kecintaan kepada agama, pesantren, dan kiainya. Lampu penerang yang bahan bakarnya yang berasal dari cinta ilmu dan adab. Bagi santri , pilihanya sudah jelas. di atas ilmu adalah adab.
Ilmu dan Kemanusiaan
Ilmu dan Kemanusiaan
Dalam seluruh kesederhanaan dan kemandiriannya, santri merupakan manusia pembelajar sejati. Tanpa dukungan pendanaan dan sarana prasarana yang memadai, santri terus belajar dan mencintai ilmu. Semangatnya didorong oleh motivasi agama. Keseimbangan hidup dunia akhirat selalu dijaga. ilmu agama dan ilmu dunia dikaji, meski kebanyakan titik beratnya pada ilmu pertama.
Kiblat kemajuan ilmu sekarang masih di Eropa dan Amerika. Tidak sedikit santri dan alumni pesantren yang menjelajah dan berusaha menaklukkan pusat-pusat iptek tersebut. Pusat ilmu-ilmu keislaman di Timur sudah hampir tuntas didominasi. Jujur saja, tradisi ilmiah para santri dan pesantren sangat mendukung untuk menguasai semua jenis ilmu pengetahuan.
Kiblat kemajuan ilmu sekarang masih di Eropa dan Amerika. Tidak sedikit santri dan alumni pesantren yang menjelajah dan berusaha menaklukkan pusat-pusat iptek tersebut. Pusat ilmu-ilmu keislaman di Timur sudah hampir tuntas didominasi. Jujur saja, tradisi ilmiah para santri dan pesantren sangat mendukung untuk menguasai semua jenis ilmu pengetahuan.
Generasi santri mewarisi semangat mencari ilmu yang tidak pernah padam. Secara mandiri, mereka merawat tradisi ilmiah dan obor pencari ilmu yang tidak mudah padam. Hari ini mungkin mungkin kaum santri belum mampu menaklukkan pusat ilmu dunia. Tapi, santri adalah anak kandung sejarah pembawa obor pengetahuan yang mumpuni dan pantang menyerah.
Tidak ada tradisi ilmiah yang begitu rigid dan detail sebagaimana santri dan pesantren. Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif, satu-satu persatu kata dikuliti makna dan kedudukannya. Pendapat-pendapat para ulama terdahulu dirawat dan dirujuk sebagai sanad ilmu yang terus dibanggakan dengan penuh takzim dan kejujuran. Jika sampai hari ini, santri belum menguasai puncak ilmu pengetahuan dunia, mungkin hanya soal waktu saja.
Pada sisi kemanusiaan, santri merupakan teladan. Toleransi dan cintanya pada kemanusian tak pernah goyah. Paham keagamaannya yang wasatiyah (moderat) merupakan penjaga kemanusiaan yang efektif. Radikalisme dan intoleransi tidak mendapat tempat di hati santri. Santri merupakan garda terdepan menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan kedamaian.
Pada dimensi ini, loyalitas santri pada Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945 tidak perlu diragukan. Santri sering diolok-olok sebagai yang paling sok NKRI. Olok-olok ini adalah penyemangat agar santri tidak lupa jati diri. DNA santri tidak akan mengkhianati NKRI. Sebab, ia ikut melahirkan dan berjuang untuk Indonesia. Obor ilmu dan kemanusiaan ini harus terus dijaga agar terus hidup dan menjadi penerang bagi diri, bangsa, dan negaranya.
*Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag RI



