Jaja Zarkasyi
(Rumah Moderasi Islam/Rumi, Alumni UIN Jakarta)
Email: [email protected]
Saya bukanlah alumni Al-Azhar. Juga bukan alumni Madinah. Saya besar di Ciputat, kampus yang memberi ruang publik yang begitu ramah bagi para santri untuk mengeksplorasi berbagai pemikiran. Dahulu, saya dan teman-teman biasa menghabiskan waktu untuk berkeliling mengikuti diskusi di gang-gang kecil sudut Pesanggarahan, Kampung Utan ataupun Semanggi. Di sana berjejer sekelompok kecil pemuda yang tengah asyik menyantap sajian Filsafat, Sosiologi hingga tasawuf. Karena itulah saya bangga menjadi alumni Ciputat.
Hari itu, Selasa (23/2), setelah sekian lama tak menginjakan kaki di Auditorium Utama, akhirnya tiba saatnya saya dapat menghadiri sebuah seminar yang sebetulnya tak begitu menarik perhatian. Ya, hanya karena tugaslah saya akhirnya menaiki commuter line menuju kampus yang 16 tahun ke belakang masih sangat sederhana. Hari itu Grand Syekh al-Azhar Ahmad at-Thayyibhadir memberi cemarah dalam kunjungan singkatnya di Indonesia. Meski terlambat, berkat kartu pengenal saya, alhamdulillah dapat juga masuk kedalam ruangan.
Di kanan dan kiri saya ada banyak almuni Azhar yang begitu antusias menyambut kehadiran sang guru. Sementara saya, masih belum merasakan aura yang “wah”. Biasa saja, layaknya tamu-tamu lainnya yang berbicara normatif dan datar. Begitulah kesan saya.
Tapi hari itu saya salah. Justru saya melihat antusiasme yang begitu besar dari sosok pemimpin tertinggi di al-Azhar ini. Sorotan mata dan intonasi selama menyampaikan kuliah umum menegaskan bahwa ada banyak pesan yang hendak disampaikan dari dunia Islam bagi muslim Indonesia, sekaligus harapan besar kepada kita sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Dan mulai saat itu saya serius menyimak penuturannya.
Kedatangan Syekh Azhar menjadi penanda besar bahwa moderasi Islam yang dikembangkan di Nusantara sejalan dengan visi Azhar sebagai universitas Islam tertua di Dunia. Baginya, Indonesia bukan sekedar sahabat dalam politik, lebih dari itu Indonesia dan Azhar adalah dua entitas yang saling mengisi, menguatkan dan menjadi jembatan bagi transformasi ilmu-ilmu dan pemikiran keislaman yang moderat.
Syekh Ahmad at-Thayyibsecara tegas menyatakan bahwa, agama hadir tidak untuk menyusahkan atau memecah belah umat. Agama tidak boleh dijadikan alasan untuk bertikai, saling membunuh atau memfitnah. Pun, ia menegaskan bahwa menyebarluaskan konflik Syiah dan Sunni hanya akan menggerus kekuatan Islam dan memperkuat hegemoni dunia lain terhadap dunia Islam. Pada akhirnya, konflik tersebut melahirkan gerakan radikal dan ekstrim.
Radikalisme maupun ekstrimisme lahir dari kedangkalan pemahaman agama, sebagai konsekuensi lemahnya pengetahuan keilmuan Islam. Syekh Ahmad at-Thayyib mengingatkan, nash-nash al-Qur’an maupun Hadits harus dipahami secara komperehensif melalui berbagai disiplin keilmuan. Menurutnya, jika Islam hanya dipahami dari aspek kebahasaan, ini akan melahirkan pemahaman dangkal dan merusak tata kehidupan keberagamaan.
Pujiannya terhadap pola keberagamaan di Nusantara menjadi penanda bahwa kita tak boleh “rendah diri” di hadapan dunia Islam. Sebagai muslim, kita tidak harus menjadi Arab, karena masing-masing tradisi memiliki ragam penafsiran sebagai aktualisasi keislamannya. Ajakannya agar Nusantara tumbuh sebagai pioner pengembangan tata kehidupan muslim di dunia, merupakan apresiasi yang luar biasa agar kita lebih percaya diri dan tidak selalu membandingkan keislaman kita dengan atribut-atribut formil yang sesungguhnya merupakan bagian dari penafsiran itu sendiri.
Kedatangannya bukan sekedar tamu biasa. Ia datang sebagai representasi al-Azhar dan berbagai otoritasnya dalam keilmuan Islam. Ada pesan yang begitu mendalam untuk kita renungkan bersama sekaligus kekhawatiran yang juga besar di benaknya. Bahwa apa yang terjadi di dunia Islam yang terus berkonflik dikhawatirkan terus menjerumuskan dunia Islam kedalam kehancuran. Sementara, tak ada yang dapat diperoleh dari konflik tersebut kecuali kehancuran dan penyesalan. Karena itulah, kehadirannya di tengah-tengah akademisi dan ulama Indonesia mengirimkan pesan agar Indonesia mampu memjaga harmoni di tengah guncangan fitnah, yang mana di beberapa belahan dunia berhasil menarik negara-negara Islam dalam lingkaran konflik ayng begitu rumit.
Saya bangga pada akhirnya dapat mendengar langsung pemikirannya yang sejalan dengan spirit moderasi Islam di Nusantara selama ini. Apalagi pesan-pesan tersebut disampaikan melalui mimbar UIN Jakarta, salah satu kampus Islam terbesar. Hal ini mengirimkan pesan kuat bahwa kampus-kampus Islam harus berada di garda terdepan menjaga moderasi Islam, memberi pencerahan kepada ummat untuk menyikapi berbagai isu-isu keagamaan yang dapat merongrong NKRI.
Azhar dan Nusantara terikat oleh ribuan lembaran kisah-kisah heroik para pencari ilmu. Seperti disampaikan Zainul Majdi, mulai dari era Gus Dur, Mustofa Bisri, Quraish Shihab hingga kini, ada banyak jejeran alumni Azhar yang terus merangkai moderasi Islam, dengan bidangnya yang beragam. Hubungan yang begitu kuat tak mungkin terjalin dalam waktu yang lama jika tidak terbangun kesamaan visi dan misi. Dan saya berkeyakinan, spirit Azhar dan Nusantara dalam penguatan moderasi Islam akan terus berjalan, setidaknya selama para sarjana kita belajar kelimuan Islam secara mendalam.
Benar. Sudah saatnya kita menanggalkan berbagai sentimen golongan maupun aliran. Toh, pembelaan kita terhadap golongan tertentu yang kini tengah berkonflik di Suriah, Irak maupun negera-negara lainnya, tidak menyelesaikan masalah. Justru, pembelaan membabi buta dengan menyebarkan propaganda, link-link berita yang belum terkonfirmasi validitasnya, atau fitnah yang merusak kerukunan kita, adalah satu bukti nyata betapa sentimen golongan dalam konteks tersebut sangatlah buruk.
Alangkah baiknya jika anak-anak muda, kader-kader yang telah menempuh berbagai pendidikan di manapun, berlomba mengabdi dan mengembangkan ide-ide progresif bagi pembinaan ummat. Di era pembangunan, kita harus memperjelas peran dan posisi, sehingga tidak menjadi subordinat atau bahkan penonton yang hanya pintar mengkritik tapi sepi prestasi dan kerja.
Setidaknya itulah spirit yang saya tangkap dari kehadirannya di Indonesia. Dan saya pun bangga meski bukan almumni al-Azhar. Walhamdulillah.



