Oleh:
Nasuha Abu Bakar, MA*
Ahad sore menjelang waktu magrib, teh Odah, panggilan sehari hari istrinya kang Sanusi. Nama sebenarnya adalah Saodah. Sore itu terlihat sibuk sekali dengan senter baterai berwarna merah di tangan kanannya. Sebentar sebentar dinyalakan sebter baterai nya sambil melangak longok di sekeliling rumahnya. Sepertinya ada sesuatu yang hilang dan rupanya dia sedang mencarinya.
Entah apa yang sedang dicarinya, saking teramat seriusnya, sampai-sampai ucapan salam suaminya pun tidak terdengar. Padahal suaminya sudah berdiri di belakangnya bersama pak uatadz Dzul Birri yang baru saja pulang menjenguk kang Didi di tetangga kampung yang sudah dua kali malam Jum'at Kliwon tidak terlihat kehadirannya.
Teh Odah terperanjat saat berbalk badan yang niatnya akan pindah ke dalam rumah nya ternyata sudah ada suaminya dan pak ustadz.
"Astagfirullah....., Akang mah bikin neng kaget saja, kenapa diam diam, mau ngagetin neng yaa...? Masya Allah....ada pak ustadz, assalaamu 'alaikum, pak ustadz", sapa teh Odah kepada pak ustadz Dzul Birri.
"Akang sudah ucapkan salam, nih saksinya pak ustadz, pak ustadz juga mengucapkan salam, tapi neng khusyu' sekali sedang melongok longok semua tempat, neng gak sadar dan tidak kedengaran salam akang sama salaam bpak uatadz", sanggah kang Sanusi yang dibenarkan oleh pak ustadz.
"Gelang neng yang dibelikan akang tidak tahu jatuhnya dimana, neng belum kemana mana kecuali dari kamar,terus menyapu di kamar dan ruangan tamu. Neng takut akang marah klo tahu gelangnya hilang"
"Takut akang marah atau neng takut tidak memakai gelang klo ke pengajian, klo kondangan, atau pas arisan keluarga dan warga?, kang Sanusi menggoda isterinya.
"Ah....akang mah ngeledekin neng terus" , gerutu teh Odah sambil tersipu malu.
"Sore ini teh Odah sudah buatkan segelas teh hangat, atau susu buat ema tercinta?" tanya pak ustadz sambil menatap ke arah seorang wanita tua yang sedang asik duduk di atas dipan. Wanita tua itu tidak lain ibunda tercinta dsri kang Sanusi.
"Itu adalah mutiara termahal bagi anak, jimat yang sangat berharga dan keramat baik bagi anak juga menantu. Karena kehadiran dan keberadaan orang tua di rumah, rahmat, kemudahan, pertolongan serta keberkahan Allah akan dilimpahkan kepada setiap anak dan menantu yang memuliakan orangtua nya. Gelang hilang tidak perlu panik, apalagi sampai sedih. Tidak ysah galau, karena toko gelang, toko perhiasan masih banyak, kapan kepingin punya madih banyak bentuk dan model apa saja. Tapi klo orang tua kita sudah tidak ada, selamanya kita akan selalu merasakan kehilangan. Bukan sekedar kehilangan orang tua saja tetapi kita juga kehilangan kesempatan memuliakan nya. Kang Sanusi dan teh Odah beruntung masih mempunyai mutiara termahal, yaitu seorang ibu, jaga dan muliakan beliau semaksimal mungkin, Allah akan menyayangi akang dan teh Odah. Maaf saya pamit pulang ya sudah hampir magrib. Jangan lupa pagi dan sore buatkan untuk ibu segelas teh atau susu hangat ya";pesan pak ustadz
Selamat hari ibu, semoga Allah memuliakan kita karena kita memuliakan ibu
Wallaahu 'alamu bish shawaab wa ilaihil musta'aan
(Pamulang, Kantor MUI, Kamis, 19 Desember 2019 jam 16.00)
*Penyuluh Agama Islam Kota Tangerang Selatan



