Jakarta, bimasislam – "Penghulu itu telinga Kementerian Agama yang paling depan. Karena penghulu langsung mendengar dari masyarakat, bukan Sekjen, Dirjen, Direktur, bukan pula pak Menteri sekalipun", demikian dikatakan Sekjen Kementerian Agama, Nursyam, di hadapan para penghulu peserta Musabaqah Baca Kitab dan Lomba Karya Tulis Ilmiah di Aryaduta (31/10).
Terkait dengan hal tersebut, Nur Syam berharap agar penghulu dapat menyerap dan mengumpulkan informasi dari masyarakat untuk selanjutnya dijadikan bahan masukan dan perbaikan kinerja KUA dalam memberikan layanan publik.
Lebih lanjut Nursyam menyampaikan bahwa jabatan sebagai penghulu itu sangat mulia, di mana keberadaannya sejak Indonesia belum ada. Orang-orang yang diangkat menjadi penghulu adalah dari para tokoh umat selevel ulama yang dianggap mumpuni dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat Islam.
"Posisi sebagai penghulu itu sangat mulia. Keberadaannya sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Saat itu belum ada Sekjen, apalagi direktur, sehingga posisinya sangat penting dalam kaitannya dengan perkawinan dan masalah-masalah keagamaan", ujarnya.
Terkait dengan Reformasi Birokrasi di Kantor Urusan Agama (KUA), Nursyam memberikan penekanan bahwa perubahan merupakan sebuah keniscayaan meskipun setiap perubahan tidak selalu membawa kebaikan. Namun, menurutnya, yang mengutip quote Renald Kasali, jika tanpa perubahan maka tidak akan ada kemajuan.
"Reformasi Birokrasi itu erat hubungannya dengan perubahan. Renald Kasali mengatakan bahwa perubahan tidak selalu membawa kebaikan. Namun, tanpa perubahan tidak akan ada kemajuan. Karena itu Kemenag telah melakukan berbagai kebijakan, khususnya perampingan Satker agar organisasinya ramping dengan kontribusi atau peran lebih besar", tandasnya.
Dalam menyikapi perubahan, tambah Nursyam, setidaknya ada tiga golongan besar, orang yang selalu berubah, orang yang tidak menginginkan perubahan, dan orang yang ingin berubah dengan cara yang kritis.
"Ada tiga golongan besar orang dalam menyikapi perubahan. Pertama, orang yang selalu berubah, ada maupun tanpa alasan. Tipe ini orang yang tidak memiliki prinsip, hanya ikut tren. Kedua, kelompok orang yang tidak mau berubah sama sekali. Ketiga, orang yang mau berubah tetapi dengan cara kritis. Nah, dalam Islam kita mengenal Al-Muhafadzatu ala al-qadim al-shalih wal al-akhdzu bi al-jadidil ashlah, dan ini kaidah yang paling bagus dibanding teori-teori sosial yang ada", katanya.
Di akhir pidatonya, mantan Dirjen Pendis ini berpesan agar penghulu jangan hanya menekuni tugas-tugas administratif, tetapi harus memposisikan diri sebagai tokoh umat yang berperan besar dalam pembinaan dan pembimbingan masyarakat.
(thobib al-asyhar)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



