Jakarta, bimasislam—Untuk meningkatkan kualitas kinerja Bimas Islam, seluruh aparatur Bimas Islam, Pusat dan Daerah harus mengembangkan berbagai budaya positif dalam bekerja. Budaya yang perlu terus dikembangkan adalah budaya mengabdi, budaya belajar, budaya unggul, budaya bekerja sama, dan budaya ikhlas. Demikian dikatakan oleh Prof. Dr. Muhammadiyah Amin, M.Ag., Sekretaris Ditjen Bimas Islam mengutip pendapat mantan Sekjen Kemenag, Bahrul Hayat, ketika memberikan pengarahan dalam TOT SIMBI Provinsi Tingkat Nasional Angjatan II di hotel Mercure, Jakarta Sabang (16/10).
Lebih lanjut Amin menguraikan tentang maksud budaya tersebut. Pertama, budaya mengabdi. Yaitu budaya yang diorientasikan pada pengabdian kepada masyarakat. Seluruh sikap dan perilaku kerja diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan publik. Dalam konteks Bimas Islam, budaya mengabdi harus menjadi cerminan teman-teman yang ada di KUA dalam bidang pernikahan, perwakafan, dan bimbingan keislaman lainnya. Salah satu dari upaya ini adalah kebijakan Bimas Islam dalam pemanfaatan IT melalui SIMBI (Sistem Informasi Manajemen Bimas Islam), tandasnya.
Kedua, budaya belajar. Dalam bekerja sangat diperlukan setiap orang untuk belajar kapanpun. Jangan pernah kita berhentu untuk belajar. “Bisa dibayangkan, jika kita mengelola keuangan, tetapi tidak mau belajar tentang aturan-aturan terbaru terhadap keuangan. Apalagi, belakangan ini ketentuan pengelolaan keuangan sering banyak perubah. Sehingga kita ditunut untuk terus belajar soal ini”, imbuhnya.
Ketiga, budaya unggul. Sering kita bekerja dengan kualitas kerja yang minimalis sehingga bekerja hanya berdasarkan target formal. Sementara, target maksimal, khusususnya yang berhubungan dengan kepuasan layanan publik kurang atau bahkan tidak menjadi target. Di lingkungan Bimas Islam banyak kerja-kerja yang sangat erat dengan pembinaan umat, dan sulit diukur tingkat capaiannya, sehingga lebih banyak penekanan secara formil.
Keempat, budaya kerja sama. Dalam istilah manajemen dikenal dengan Team Work, yang artinya unsur kerja sama sangat penting untuk pencapaian maksimal. Antar unit harus mampu bekerja sama untuk membangun sinergi, tidak ada ego sektoral yang sangat mengganggu kebersamaan.
Kelima, budaya ikhlas. Seperti dalam lambang lembaga Kementerian Agama, para pendiri menginginkan agar para pelakunya memiliki budaya ikhlas yang tinggi. Keikhlasan menjadi dasar bagi seluruh aspek kehidupan, termasuk keseluruhan budaya-budaya di atas. Tanpa ada keihlasan, maka pekerjaan menjadi sia-sia, setidaknya tidak memiliki pahala di hadapan Allah.
Dalam catatan bimasislam, kegiatan ini diikuti sebanyak 50 peserta daerah, baik dari peserta Kanwil, peserta Pusat, maupun peserta yang ditunjuk oleh Pusat berdasarkan keaktifan dalam entri data pada server Bimas Islam dan penguasaan aplikasi. (thobib/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



