Oleh:
Jaja Zarkasyi*
Jaja Zarkasyi*
Rasanya ada yang keliru dengan mata saya. Beberapa kali saya membetulkan posisi kacamata, berharap apa yang saya baca di WA itu salah. Ada dorongan ketidakpercayaan dengan apa yang saya baca tentang kepergian seorang sahabat.
Ahmad Khairul Anam yang akrab kami panggil Gus Anam. Bagi kami, Gus Anam merupakan maestro jurnalistik yang tak kenal lelah memberi yang terbaik untuk konten-konten dakwah. Gus Anam, seperti saya baca di beberapa informasi pagi ini, telah dipanggil menghadap Sang Khalik untuk selama-lamanya.
Pada akhirnya, saya meyakini bahwa berita itu benar adanya. Innalilahi wainna ilahi rojiun. Begitulah saya memandangi layar ponsel tanpa sempat menutupnya. Berulang kali saya mengucap tahlil dengan harapan dapat mengendalikan perasaan yang tiba-tiba tak menentu.
Kepergiannya sungguh sangat mengagetkan.
Gus Anam, yang beberapa kali saya panggil Kang Anam, adalah sahabat sekaligus guru yang banyak mendedikasikan waktunya untuk Bimas Islam. Sosoknya biasa wara-wiri berada di barisan para pemikir yang tengah mempersiapkan konsep maupun kajian-kajian kebijakan. Kang Anam adalah penulis buku, jurnalis, dan dai yang biasa menjadi partner kami dalam menjalankan program dan kebijakan.
Ada sebuah momen yang tak pernah saya lupakan bersama Gus Anam.
Suatu hari, kami terbang menuju Kepulauan Bangka Belitung, bertepatan dengan jatuhnya Lion Air di laut Karawang. Kami terbang pukul 15.00 WIB. Sempat terpikir untuk mengurungkan niat, namun Kang Anam berkeyakinan untuk tetap lanjut. Kami melanjutkan perjalanan hingga sampai di Kabupaten Bangka Tengah.
Setelahnya, kami bergegas menuju Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan. Lebih dari dua jam kami berada di tengah hutan sawit, disertai hujan deras yang membuat suasana sangat gelap. Selama perjalanan, Kang Anam tak sedikit pun menampakkan rasa khawatir. Bahkan ia begitu menikmati, meski beberapa kali GPS kami ternyata salah memberi arahan. Hingga akhirnya sampailah kami di KUA Kecamatan Pulau Besar. Menjelang sore, bahkan hampir gelap.
Kang Anam pertama kali turun, lalu menghampiri beberapa warga yang tengah berada di jalanan depan KUA. Ia salami satu persatu, tanpa ragu meski belum dikenal. Setelah sampai di dalam KUA, Kepala KUA memberi tahu kami jika di wilayahnya sangatlah rawan. Ia bercerita, baru saja ada pembunuhan. Dan untuk alasan itulah ia selalu waspada. Namun ia heran dengan gaya Kang Anam yang begitu yakin menyalami orang-orang yang tak dikenalnya.
"Kenapa Bapak tadi menyalami orang-orang yang saya saja tak mengenalnya?” tanya Kepala KUA kepada Gus Anam.
"Saya selalu diajarkan untuk husnuzhan. Tugas saya adalah menunaikan salam, sisanya tawakal kepada Allah," Begitu Kang Anam memberi jawaban singkatnya.
Kang Anam adalah sosok yang tak mau didahului untuk bersalaman.
Sahabat yang Kritis
Ada banyak momen di mana saya berada dalam halaqah kebijakan Bimas Islam. Bersama Mas Thobib, saat itu masih sebagai Kabag OKH Bimas Islam, kami biasa berkumpul di lantai 20 Gedung Kementerian Agama Jl. MH Thamrin. Di tempat inilah Kang Anam mampu menghabiskan waktu berjam-jam mengupas isu-isu kebimasislaman.
Kami biasa mengundang para aktivis, tokoh muda maupun akademisi untuk menjadi “lawan” diskusi. Ini kami lakukan untuk mendapatkan pandangan-pandangan yang tajam dan luas untuk mendukung lahirnya kebijakan yang paripurna.
Satu di antara ketajaman yang kami rindukan dari sosoknya adalah kaidah-kaidah usul fikih yang baik dan disertai wawasan kebangsaan yang holistik. Saya biasa menyebutnya sebagai fikih keindonesiaan.
Kang Anam sangat fasih berbicara hukum fikih dengan corak keindonesiaan. Ini sangat kami butuhkan dalam mendukung lahirnya kebijakan yang membumi. Sejak saat itulah, lantai 20 menjadi rumah bersama kami.
Berbagai pengalaman yang dimilikinya diberikan untuk Bimas Islam. Salah satunya adalah dunia jurnalistik.
Ya, sebagai motor NU Online, Kang Anam banyak mentransfer ilmu dan strateginya dalam mengolah dan mendistribusikan isu-isu serta ide-ide progresif. Dari halaqah itulah lahir Majalah Bimas Islam, website bimasislam.kemenag.go.id, serta beberapa penyusunan buku.
Sebagai “orang luar” Kementerian Agama, Kang Anam secara lugas memberikan kritik membangun yang sangat kami butuhkan. Dari pemikirannya kami banyak menyadari akan kekurangan dalam mengemas isu secara baik dan menarik. Untuk itulah, Kang Anam bersedia menjadi mitra sekaligus mentor untuk penguatan pemberitaan kami.
Tak ada ragu yang menghalanginya berbagi ide dan pengalaman. Tak ada pula transaksi yang diajukan untuk berbagi segala ilmu. Ia sangat ikhlas mengikuti halaqah kami meski secara finansial tak banyak yang ia dapatkan. Namun dengan luar biasa, Kang Anam terus istikamah menjadi sahabat diskusi hingga akhir hayatnya.
Perjalanan itu telah berakhir hari ini, Gus. Allah telah merindukan njenengan untuk rawuh di sisi-Nya. Allah sangat mencintaimu, bukan karena darah keturunanmu, tapi jalan dakwah yang kau tempuh menjadi wasilah bagi kebaikan umat. Kematian itu, kini abadi mengantarmu pada ketenangan, Gus.
Allahummagfirlahu.
Semarang, 24 Juni 2021
*Kepala Seksi Pemantauan dan Evaluasi Harta Benda Wakaf



