Jakarta, bimasislam--Tulisan ini hanya mewakili satu sisi di kehidupan Pak Kuatman, sosok yang hampir 10 tahun saya kenal. Sebuah pendapat pribadi yang mendorong saya untuk menulis apa yang dipahami dari sosok yang cukup dikenal luas oleh karyawan Kementerian Agama. Sebuah renungan untuk saya pribadi, mungkin juga menjadi ibroh bagi kita semua. Baiklah, mari kita ikutin tulisan ini dengan ringan. Jangan terlalu serius.
Dari namanya saja sudah terbayang sosok yang kuat. Lelaki tangguh.
Perawakannya kurus, badannya cukup tinggi. Bekerja sebagai staf pada Bagian Perencanaan Bimas Islam. Ia-lah sosok yang biasa mondar mandir mendistribusikan surat, SK, honor atau foto copy. Di usianya yang tak lagi muda, bahkan kulit keriput menggambarkan panjangnya waktu yang telah habiskan, ia maish cekatan nai turun tangga lantai 6 hingga 9.
Pak Kuatman mewakili sosok pegawai yang sederhana: bekerja tanpa mengeluh. Apa yang diperintahkan, ia kerjakan, tanpa sempat berdebat atau bertanya balik. Juga tak sempat menolak perintah itu. Mungkin karena pendidikannya yang hanya lulusan SD, tak cukup ruang untuk menyusuan alasan mangkir dari tanggung jawab. Seperti air mengalir, bekerja dan tak malu bertanya jika itu tak dipahaminya, meskipun itu kepada para junior.
Mengawali sosok sebagai Satpam pada Kementerian Agama, Pak Kuatman bergabung dengan Bimas Islam pada tahun 2006, tepat ketika terjadinya pemisahan dari Ditjen PHU. Sejak 2007 itulah ia tergabung dengan tim pada bagian perencanaan dan sistem informasi Bimas Islam. Mungkin etos kerja sebagai Satpam itulah yang membuatnya begitu mudah menyatu dengan anggota bagian perencanaan lainnya. Tak lagi sungkan, ia mentasbihkan diri sebagai sosok penting yang selalu dibutuhkan oleh setiap bidang.
Di sekelilingnya ada anak-anak muda yang energik. Biasa bekerja cepat dengan sejuta target. Terkadang bekerja hingga larut malam, bahkan sering mengambil waktu libur akhir pekan. Para junior ini beragam pendidikannya, dari S1 hingga S3. Di tengah-tengah mereka yang muda dan energik itulah Pak Kuatman hadir bukan sebagai pelengkap, tapi penyempurna. Karena dialah sosok yang jeli dalam mendokumentasikan apa saja: surat, SK, lembar disposisi, dll. Sudah menjadi tradisi, jika ada yang kehilangan surat tugas misalnya, tinggal datang saja ke Pak Kuatman. Ada. Tersimpan rapih. Bahkan hingga tahun-tahun ke belakang. Tertata rapih di meja kerjanya.
Ia tak pernah merasa minder berada di antara para konseptor dan pegawai lainnya. Ia juga tak suka berdiam diri di saat yang lain tengah sibuk dengan seabrek pekerjaan. Ia selali ada dalam posisi yang tepat, menjadi bagian utama dari cerita sebuah program. Bagi saya, ia adalah sosok yang cerdas menempatkan diri, meski secara pendidikan formal tak terpenuhi.
Di tengah lingkungan yang “serba cepat” dan membutuhkan keterampilan yang luas, Pak Kuatman adalah sosok yang menyempurnakannya. Dokumen. Selalu menjadi masalah “agak serius” dalam dunia birokrasi. Hal-hal kecil sering luput dalam pantauan, padahal suatu saat itu akan sangat dicari. Apalagi history disposisi, sesuatu yang wajib dihadirkan saat pimpinan mengambil kebijakan. Dan Pak Kuatman ada untuk semua itu.
Ketika birokrasi mulai menerapkan komputerisasi dan bahkan digitalisasi, keberadaan Pak Kuatman tak ikut terpinggirkan. Teknologi belum sepenuhnya mampu menangani hal-hal sederhana dalam birokrasi, padahal semua itu sangat vital. Rasanya terlalu berlebihan jika saya menyebutnya sosok lelaki yang super tertib administrasi, karena kesempurnaan itu bukan milik manusia. Namun kehadirannya saat dibutuhkan terkait dokumentasi persuratan dan sejenisnya, mungkin itu “layak” disematkan padanya.
Senin ini, (30/7) adalah hari terakhirnya sebagai pegawai pada Bimas Islam. Mulai esok, (1/8), sosok ayah dua anak ini akan pulang kampung ke Banyumas, ke desa dimana ia pertama kalinya tumbuh sebagai sosok yang berkepribadian. Tak ada rasa gundah meski ia tak lagi menjadi bagian dari PNS, tak lagi mendapat tunjangan kinerja atau uang makan. Tak pula sibuk mengajukan lamaran untuk bekerja di lembaga lain. Masa pensiun ia sambut dengan senyuman.
Ada perasaan aneh saat saya ikut melepasnya menanggalkan jabatan sebagai PNS. Aneh, karena mungkin ia sosok yang patut diteladani. Di balik kesederhanaannya, ia mewariskan kejujuran dan ketulusan sebagai aparatur pemerintah.
Kami melepasnya dengan haru.
Selamat jalan Pak, sukses selalu di kampung, Bumiayu yang asri. Darimu kami belajar kesederhanaan menjalani hidup. Bergerak dan beribadah.
(jaja Zarkasyi)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



