Asmawi Mahfudz
Pengasuh PP al-Kamal Blitar dan
Pengajar di IAIN Tulungagung
--
Marhaban ya ramadhan, patut diungkap oleh umat Islam di seluruh dunia pada tahun 2015M/1436H ini, karena seorang muslim menyambut dan menerima sebuah kewajiban mulia yaitu puasa ramadhan. Puasa adalah menahan makan dan minum dimulai dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari pada waktu masuknya sholat maghrib. Pada waktu berpuasa ini seorang yang berpuasa (Shaim) dilarang untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkan puasa. Misalnya makan, minum, berhubungan suami istri di siang ramadhan, muntah dengan sengaja, atau memasukkan semua barang-barang baik benda cair atau padat ke dalam lobang-lobang yang ada di tubuh si shaim. Hal ini dapar dipahami bahwa seorang yang berpuasa harus menahan kebutuhan yang sifatnya Phisik-Biologis (jasadiyah atau jasmaniyah).
Juga ditambah lagi dengan larangan-larangan yang lain seperti berkata-kata kotor, berbohong (penipuan), sumpah palsu, melihat orang lain dengan syahwat, melakukan adu domba, menggunjing orang lain (ngrasani). Yang semuanya ini disebut dengan perilaku psikologis manusia. Artinya dari beberapa larangan yang harus dihindari orang yang berpuasa, sebenarnya manusia diharapkan dapat mengendalikan kebutuhannya sebagai energi pemasok syahwat yang paling utama. Puasa Ramadan dari aspek ini merupakan pengendalian diri dari hegemoni nafsu syahwat dan pemisahan diri dari kebiasaan buruk dan maksiat, sehingga memudahkan bagi seorang hamba untuk menerima pancaran cahaya ilahiyah.
Fakhruddin al-Razi menjelaskan dalam tafsirnya Mafatihul Ghaib, bahwa cahaya ketuhanan tak pernah redup dan sirna, namun nafsu syahwat kemanusiaan sering menghalanginya untuk tetap menyinari sanubari manusia. Puasa merupakan satu-satunya cara untuk menghilangkan penghalang tersebut. Oleh karena itu pintu-pintu mukasyafah (keterbukaan) ruhani tidak ada yang mampu membukanya kecuali dengan puasa.
Telah dimengerti oleh seorang muslim bahwa pada mulanya manusia diciptakan oleh Allah Swt. Dalam keadaan suci (fitrah), tidak ada dosa dan dosa. Bersih secara hissiyah maupun maknawiyah. Bersih secara hissiyah artinya dari perspektif panca indra yang kelihatan manusia dalam keadaan suci atau bersih. Badannya bersih, penampilannya (performancenya) bersih, tutur katanya , perilakunnya bersih dan tidak pernah menyakiti orang lain. Seiring dengan perjalanan kehidupannya banyak kotoran-kotoran yang membuat manusia tidak bersih lagi. Phisiknya sudah berubah baik warna dan higinitasnya dari hari ke hari, tutur katanya dan perilakunya sering menyakiti orang lain, sehingga membuat performanya secara phisically menjadi kotor. Bersih secara maknawiyah artinya manusia pada awalnya tidak pernah melakukan kemaksiatan (kedurhakaan) terhadap komitmen pengabdiaanya (ibadah) kepada Allah Swt. Tetapi seiring dengan perjalanan waktu, banyak kesalahan, kesembronoan, keteledoran manusia yang menyebabkannya menjadi orang-orang yang durhaka karena tiada kepatuhan kepada Tuhannya.
Untuk itu Ibadah puasa ramadhan sebagai fasilitas dari Allah untuk mengembalikannya keposisi semula yang fitrah (suci/bersih) secara hissiyah maupun maknawiyah. Sebuah keadaan di mana manusia dekat kembali kepada yang maha Agung Allah Swt. Setelah manusia dengan sungguh-sungguh melepaskan diri dari hegemoni syahwat yang mengungkungnya selama ini. Dengan lepasnya hegemoni syahwat terhadap manusia, seorang mempunyai kesempatan untuk meningkatkan kualitas dimensi keagamaannya. Pertama, aspek spiritualitas yang tercermin dalam komunikasi antara manusia dan Tuhannya (hablun min Allah), sehingga memungkinkan dalam dirinya semakin berkembang sifat-sifat ketuhanan yang sebenarnya sudah dimiliki, yakni sifat-sifat positif untuk berbuat kebajikan dan tertanam kepekaan hati nurani dalam bertingkah laku. Seperti yang diungkap oleh Rasulullah Saw: Takhallaqu bi akhlaqillahi (berakhlaklah seperti sifat-sifat Tuhan). Kedua, aspek sosialnya. Yaitu tumbuhnya kesadaran sosial dalam batin untuk peduli dengan aspek-aspek sosial kemanusiaan. Kualitas kesadaran batin dapat diukur dengan tingkat kepedulian terhadap realitas sosial tersebut, seperti ketaatan kepada pemimpin, hormat dan berbakti kepada orang tua, menyantuni anak yatim dan orang-orang miskin, membela orang yang tertindas hak dan martabatnya, keberanian melakukan kontrol sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ketiga, Aspek mental. Dengan berpuasa akan melahirkan mental tegar dan tahan banting, sehingga mampu untuk mengahadapi berbagai tantangan, cobaan, godaan, dan ujian dalam kehidupan ini. Senantiasa optimistis dalam berikhtiar dan berusaha untuk meraih kehidupan yang lebih baik dengan tetap mengacu pada nilai-nilai etika dan moral agama. Puasa juga akan melatih mentalitas kita untuk sportif dan jujur dalam menerima amanat dan mengemban tugas, menjauhi sikap pengecut dan khianat serta tidak mudah mengumbar emosi amarah dan permusuhan.
Keempat, aspek etika. Dengan menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan benar dan berkualitas, maka akan tercermin dalam diri kita nilai-nilai etika dan moral agama yang positif untuk diaktualisasikan dalam pola kehidupan sehari-hari, seperti: kemampuan menghadirkan alternatif-alternatif terbaik, dalam pola berpikir, bersikap, dan bertingkah laku; kemampuan dalam mengendalikan diri terhadap keinginan-keinginan negatif, maupun emosional destruktif; kemampuan mengarahkan diri sendiri kepada kebenaran, sifat obyektif dan konstruktif; kemampuan untuk menahan diri dari jebakan materialistik dan hedonistik serta kemampuan moralitas dalam melakukan tugas dan kewajiban melalui pertimbangan rasionalitas dan hati nurani.
Maka dari itu inti dari berpuasa adalah bagaimana seorang muslim dapat melepaskan diri dari hegemoni syahwatnya, sehingga dapat mengendalikan dirinya dalam kehidupan sehari-hari, dalam rangka mengabdi kepada Allah Swt. Baik pengabdian itu berwujud Hablun min Allah wa Hablun min al-Nas). Terakhir selamat berpuasa bagi kita semua, semoga dapat meningkatkan kualitas ibadah puasa kita dari tahun-tahun sebelumnya. Amiiin
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



