Semarang (Kemenag) --- Pengintegrasian kajian Al-Qur'an dengan teknologi digital menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat peradaban Islam global. Arah baru keilmuan tersebut menjadi fokus utama dalam Seminar Internasional Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional XXXI di Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Forum ilmiah ini dibuka Menteri Agama Nasaruddin Umar. Dalam sambutan, Menag menegaskan bahwa kekayaan warisan intelektual Islam di Nusantara harus segera diadaptasikan dengan kemajuan sains dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Menag menyampaikan bahwa Jawa Tengah memiliki tradisi intelektual dan keagamaan yang panjang. Sejumlah tokoh keilmuan disebut pernah tumbuh dari wilayah tersebut, antara lain Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Syekh Ahmad Mutamakkin, dan Kiai Saleh Darat.
Tradisi tersebut perlu terus dikembangkan dalam konteks kekinian. Perguruan tinggi dan lingkungan akademik, kata Menag, memiliki ruang penting untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual yang menjadikan Al-Qur'an sebagai objek kajian yang terus digali," ujar Menag, Minggu (13/9/2026).
Menag menjelaskan, Al-Qur'an memiliki susunan dan kandungan yang dapat terus dikaji dari berbagai perspektif. Karena itu, ia mengajak peserta seminar untuk melihat Al-Qur'an tidak hanya sebagai teks yang dibaca secara berulang, tetapi juga sebagai sumber kajian yang dapat ditelaah secara lebih mendalam.
Dalam konteks perkembangan teknologi, Menag menyinggung kehadiran artificial intelligence (AI) yang semakin berkembang. Menurutnya, kemajuan teknologi membuka kemungkinan bagi manusia untuk melihat berbagai fenomena secara lebih mendalam dan memperluas ruang kajian terhadap ayat-ayat Al-Qur'an.
Ia juga mengaitkan perkembangan kajian tersebut dengan konsep guru yang lebih luas. Dalam tradisi Al-Qur'an, menurutnya, proses belajar tidak hanya berlangsung melalui manusia sebagai guru, tetapi juga dapat dilakukan dengan mempelajari alam dan berbagai fenomena di dalamnya.
“Konsep multiple teachers atau guru yang kompleks inilah yang perlu kita bangkitkan kembali,” katanya.
Ia menilai perkembangan teknologi digital dapat menjadi bagian dari proses memperluas cara manusia memperoleh pengetahuan. Karena itu, kajian Al-Qur'an perlu ditempatkan dalam ruang intelektual yang terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Selain membahas era digital, Menag juga menyoroti kekayaan tradisi intelektual Jawa Tengah. Ia menyebut sejumlah tokoh dan pusat keilmuan yang pernah berkembang di wilayah tersebut sebagai bagian dari sejarah intelektual yang dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan kajian Al-Qur'an saat ini.
Menurut Menag, pengembangan tradisi tersebut perlu diarahkan agar Indonesia memiliki peran lebih besar dalam pengembangan kajian Al-Qur'an. Ia berharap Indonesia dapat menjadi salah satu pusat pengembangan kajian Al-Qur'an pada masa mendatang.
“Tugas sejarah berikutnya adalah Indonesia untuk mengembangkan Al-Qur'an,” ujarnya.
Menag juga menyampaikan harapan agar pengembangan tersebut dapat dimulai dari Semarang melalui penguatan tradisi keilmuan dan kegiatan akademik yang melibatkan berbagai pihak.
Seminar internasional tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno, Rektor Universitas Negeri Semarang Martono, Direktur Penerangan Agama Islam Muchlis Hanafi, Rektor Universitas Al-Azhar Kairo Salamah Daud, serta Muhammad Hannan Hassan dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura.
Menag Nasaruddin Umar kemudian membuka secara resmi seminar internasional ilmiah Al-Qur'an di era digital tersebut. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan akademik untuk membahas pengembangan kajian Al-Qur'an dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
(Kemenag.go.id)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



