Oleh:
Syafaat*
Di Indonesia, seni lebih dulu mengetuk hati sebelum akal sempat menyusun bantahan, wayang kulit membawa wejangan para wali. Lagu-lagu religi berdendang di pasar malam. Lukisan, puisi, hingga sinetron Ramadan, semuanya bicara Tuhan dengan bahasa manusia. Kita tidak mendengar ceramah, tapi larut dalam cerita. Di situ seni bekerja: tidak menggurui, tapi mengajak berjalan. Para seniman dakwah tahu, iman bukan hasil debat, melainkan percakapan yang lembut. Dan di negeri ini, seni justru lebih fasih menyampaikan pesan langit, karena ia tidak mengetuk pintu, tapi masuk lewat jendela hati tanpa suara, tanpa ancaman, hanya dengan keindahan.
Saya membayangkan sebuah dusun kecil di kaki Gunung Ijen, tempat angin datang dari lembah dengan bau belerang dan wangi tanah basah. Di salah satu rumah kayu berdinding papan kayu jati, pada suatu malam yang lama sekali, beberapa orang lelaki duduk bersila, di tengah lingkaran mereka ada sepasang rebana, kluncing, dan satu gembrung besar. Mereka melantunkan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW dalam bahasa yang tak sepenuhnya mereka mengerti, namun mampu mereka rasakan, ritme pelan rebana menyatu dengan suara yang ditarik panjang, serak-serak melodi, dan bergetar di udara dingin. Burdah.
Saya mendengarnya pertama kali di sebuah hajatan khitan di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, saya datang bukan karena undangan, tapi karena penasaran. Kata orang, malam itu akan ada pertunjukan Burdah. Waktu itu saya belum tahu apa itu Burdah. Saya pikir semacam pertunjukan Hadrah. Atau sejenis Gandrung yang dilafalkan dengan cara lebih Islami, tetapi malam itu, saat suara gembrung mulai ditabuh serentak, ada lagu osing pembuka, dan selawat dilantunkan, saya merasakan sesuatu yang berbeda. Seolah saya tidak sedang di dunia ini. Saya seperti sedang diarak menuju sebuah zaman yang tidak punya kalender.
Seni tradisional selalu begitu: muncul dari kerinduan yang panjang, kerinduan pada Yang Suci, kerinduan pada yang hilang, kerinduan pada kebersamaan yang dulu pernah hangat. Burdah, atau kadang disebut Burdah Gembrung, adalah kesenian perkusi tradisional yang berkembang di ujung timur Pulau Jawa, ia bukan kesenian hiburan. Ia lebih mirip ibadah yang melibatkan tepuk dan nyanyian, dan hanya dipentaskan pada saat-saat yang dianggap suci: khitanan, hajatan, bersih desa, atau peringatan Maulid Nabi. Ia tidak diundang untuk panggung megah. Ia tidak digemari oleh anak-anak yang mengidolakan TikTok. Tapi ia tetap hidup. Pelan-pelan. Dalam jumlah yang semakin kecil. Dalam kelompok-kelompok yang makin menua.
Alat musik utama Burdah adalah terbang (rebana) dalam berbagai ukuran. Gendhung lanang dan gendhung wadon. Ada juga yang disebut gembrung, alat musik perkusi terbesar dalam satuan ansambel Burdah, cara menabuhnya khas, tidak ada timpalan atau jeda seperti dalam gamelan, semua tabuhan seperti saling mendukung, bukan bersahut-sahutan. Ini yang membuat bunyinya seperti gelombang yang terus datang, mengisi ruang tanpa celah.
Kadang ada kluncing, triangle kecil yang nadanya tinggi dan tajam, menyelip di antara suara tabuh seperti kerlip bintang di langit malam. Lalu juga ada yang ditambahkan gong, tapi ini bukan gong besar dari gamelan Jawa. Lebih kecil, kadang malah hanya berupa dua pelat logam yang dipukul bersamaan. Tapi suaranya... aduh, suaranya bisa membuatmu berhenti bicara, bahkan berpikir. Hal yang tidak lazim di tempat lain di Indonesia, namun inilah Banyuwangi dengan aneka budaya yang lahir dari perselingkungan halal budaya-budaya dari berbagai macam etnik yang hidup di dalamnya. Beberapa orang menyampaikan bahwa jika ditambahan alat-alat musik ini berarti bukan lagi burdah gembrung.
Yang paling mengharukan dari Burdah bukan alat musiknya. Bukan iramanya. Tapi syairnya. Burdah melantunkan syair-syair dari kitab Al-Barzanji, khususnya bagian Qasidah Burdah. Nama lengkapnya "al-Kawakib ad-Durriyyah fi Madhi Khayr al-Bariyyah", atau "Bintang-bintang Cemerlang dalam Pujian kepada Manusia Terbaik". Ia ditulis oleh Imam al-Bushiri, ulama sufi dari Mesir, pada abad ke-13. Teksnya dalam bahasa Arab. Sarat pujian, penuh cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Ketika dilantunkan dalam nada-nada Jawa-Osing, ia berubah menjadi doa yang lembut, mengalir dari lidah-lidah renta.
Saya mendengar seorang lelaki sepuh membacanya sambil menutup mata. Suaranya pelan, bergetar, seperti mencoba menahan tangis. Ia tidak membaca, tapi mengalunkan. Dan saya percaya malam itu Nabi benar-benar hadir, duduk di antara kami, menyimak dengan senyum tipis. Tapi tidak ada yang abadi. Kecuali kenangan. Seniman Burdah hari ini adalah orang-orang yang rambutnya telah putih. Mereka belajar bukan di sekolah musik. Mereka belajar dari bapak mereka, dari malam-malam sunyi, dari latihan di langgar kecil yang dibangun di tepi sawah. Mereka tidak punya partitur. Tidak punya catatan. Mereka hanya punya hafalan. Dan iman.
Anak-anak muda, meskipun kadang ikut menabuh rebana kecil, jarang yang benar-benar belajar. Mereka lebih suka memainkan gitar akustik, atau membuat beats elektronik di laptop. Tidak salah. Tapi suatu hari nanti ketika lelaki tua itu meninggal, siapa yang akan menghidupkan Burdah? Saya pernah mendengar seorang seniman Burdah mengatakan: "Burdah itu dakwah. Tapi bukan ceramah." Kini Burdah bukan sekadar Burdah, tetapi telah menjelma menjadi majelis salawat yang dinikmati banyak orang, dengan irama berbeda yang banyak orang menganggap bahwa itu bukanlah Burdah.
Ia benar. Burdah adalah dakwah yang datang dari nada, bukan dari mikrofon. Ia mengajak orang mencintai Nabi bukan dengan kata-kata yang keras, tapi dengan irama yang lembut. Ia tidak menyuruh. Ia tidak memaksa. Ia hanya bernyanyi. Dan mengajak siapa saja yang mendengar untuk ikut hanyut. Maka penting sekali kegiatan seperti "Senandung Burdah Gembrung: Menanam Warisan, Merawat Kebudayaan". Sebab yang ditanam bukan hanya tradisi. Tapi juga ruh. Dan yang dirawat bukan sekadar kesenian, tapi cara sebuah masyarakat menjaga kesuciannya.
Saya membayangkan suatu hari anak-anak Sekolah Lanjutan Atas di Banyuwangi punya mata pelajaran kesenian lokal. Di dalamnya, mereka belajar cara menabuh gembrung. Mereka belajar melantunkan syair-syair Burdah, bukan untuk lomba, tapi untuk mengenang. Untuk mewarisi. Untuk mencintai. Dan mereka tampil bukan di atas panggung megah, tapi di pelataran masjid. Di bawah langit terbuka. Di antara bau kemenyan dan kopi hitam.
Saya membayangkan festival Burdah yang digelar setahun sekali. Bukan sekadar kompetisi, tapi reuni. Tempat para pemain lama bertemu pemain baru. Tempat anak-anak muda merasa bangga bisa menyanyikan syair yang ditulis 800 tahun lalu. Saya membayangkan gembrung dibuat lagi. Oleh pengrajin lokal. Dengan kayu dari hutan desa. Dengan kulit kambing yang disamak sendiri. Dengan suara yang tidak bisa ditiru oleh alat musik digital mana pun. Saya membayangkan pemuda-pemuda kampung mengundang grup Burdah untuk tampil di acara tasyakuran wisuda. Di acara panen. Di acara ulang tahun. Bukan sekadar untuk romantisme masa lalu, tapi untuk menciptakan masa depan yang punya akar.
Indonesia tidak kekurangan suara. Kita punya ratusan alat musik perkusi tradisional. Gendang, kendang, tifa, sasando, rebana, calung, bonang. Setiap daerah punya cara sendiri mengolah irama. Tapi terlalu banyak dari suara-suara itu yang kini menghilang. Digantikan speaker bluetooth dan remix dari YouTube.
Yang menyedihkan bukan karena kita meninggalkan tradisi. Tapi karena kita kehilangan makna. Burdah bukan sekadar alat musik. Ia adalah penanda, bahwa sesuatu yang penting akan dimulai, bahwa kita sedang menyambut, bahwa kita sedang merayakan, bahwa kita sedang berdoa.
Saya tahu tulisan ini tidak akan menyelamatkan Burdah, saya juga tidak menyebut diri saya sebagai juru selamat, tetapi mungkin, jika satu-dua orang membacanya dan tergerak untuk bertanya kepada kakeknya tentang rebana, mungkin Burdah akan tetap hidup. Jika satu-dua anak muda mulai merekam suara gembrung dan mengunggahnya ke kanal YouTube mereka, mungkin Burdah akan punya kehidupan kedua. Jika seorang guru seni membaca ini dan menambahkan satu pertemuan untuk mengenalkan Barzanji kepada muridnya, mungkin kita masih punya harapan. Karena begini: kesenian tradisional tidak akan hidup karena dana hibah. Ia hidup karena dihayati. Karena diamalkan. Karena dicintai.
Dan cinta, seperti Burdah, tidak perlu teriak-teriak. Cukup pelan. Tapi terus. Seperti tabuhan gembrung di malam sunyi, di kaki Gunung Ijen, di desa yang tidak punya papan nama, tapi punya hati.
Tulisan ini saya buat dalam satu malam, dengan suara rebana yang terus terngiang di kepala saya, saya tidak tahu siapa nama lelaki tua yang memimpin Burdah malam itu. Tapi wajahnya tidak akan saya lupa. Wajah seseorang yang sedang memuji Nabi dengan cara terbaik yang ia bisa: dengan suara, dengan tabuhan, dan dengan cinta. Semoga suatu hari nanti saya bisa menemuinya lagi, Burdah tanpa tambahan alat musik modern, di panggung kecil, di halaman musholla, di bawah bulan purnama. Dengan suara gembrung yang masih hidup. Masih bergetar. Masih mengajak kita untuk percaya: bahwa tradisi tidak pernah benar-benar mati. Selama kita masih mendengarkan.
*Penulis adalah ASN Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.



