Oleh:
Insan Khoirul Qolbi*
Boleh dikatakan, Kementerian Agama sukses menggelar Kepustakaan Islam Award (KIA) yang dilaksanakan beberapa waktu lalu. Tahapan demi tahapan hingga malam puncak penganugerahan penghargaan tidak ditemukan kendala, sehingga ajang yang menghasilkan para peraih award dalam beberapa kategori tersebut, yakni Pegiat Literasi, Perpustakaan Masjid, Penulis ASN Kementerian Agama, dan Penulis Masyarakat Umum, menjadi berita viral di tengah masyarakat.
Tanpa bermaksud memuji diri sendiri, sejumlah fakta perlu disampaikan terkait dengan gelaran KIA 2024 ini. Beberapa waktu yang lalu, ada 2 (dua) pemerintah daerah yang beraudiensi kepada kami menanyakan bagaimana mendirikan perpustakaan masjid. Mereka mengaku mendapat tugas dari pimpinan untuk menjajaki pendirian perpustakaan masjid setelah memperoleh berita tentang KIA yang di dalamnya terdapat kategori lomba perpustakaan masjid.
Demikian juga informasi dari Ketua Forum Taman Baca Masyarakat (TBM) Pusat, Kang Opik yang mengatakan kepada saya, berita tentang KIA ini sudah menjadi pusat perhatian di kalangan para penggerak TBM. Makanya tidak heran, jumlah pendaftar pada kategori Pegiat Literasi mencapai ratusan. Lantas agar tidak berpuas diri, perlu dikemukakan pertanyaan, setelah KIA sukses digelar, apa dan mau kemana selanjutnya?
Literasi dan Minat Baca Rendah
Tujuan utama pelaksanaan KIA adalah untuk mendorong peningkatan literasi dan pembudayaan gemar membaca masyarakat. Rendahnya literasi dan minat baca orang Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah bangsa ini. Betapa tidak, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyebutkan hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang rajin membaca. Asesmen Nasional 2021 juga menunjukkan, satu dari dua peserta didik di Indonesia belum mencapai kompetensi minimum literasi. Tak heran bila tingkat literasi Indonesia masih menempati posisi ke-100 dimana posisi Indonesia masih kalah dibanding negara Asia Tenggara lain, seperti Filipina, Brunei Darussalam, dan Singapura.
Ada yang menarik dari pernyataan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kamaruddin Amin pada sambutan Malam Anugerah KIA 2024, (23/11) yang lalu. Kamaruddin berkelakar bahwa minat baca orang Indonesia sebenarnya tidaklah rendah. Buktinya, kata dia, sekarang ini semua orang sangat sering dan cukup kuat bertahan lama dalam membaca pesan di media sosial seperti whatsapp (WA). Bangun tidur yang dilihat pertama kali adalah WA, setelah pesawat landing langsung buru-buru mengaktifkan gawai untuk melihat isi pesan di WA, bahkan sehabis pidato dan salat berjemaah pun juga yang dilihat pertama kali adalah WA.
Tentu yang dimaksud Kamaruddin, bukan minat baca seperti itu yang ingin ditingkatkan. Gemar membaca yang dimaksud adalah gemar membaca seluruh bahan bacaan yang bermutu seperti buku, terutama yang terkait dengan peningkatan pengetahuan dan kecakapan hidup manusia. Pada kesempatan itu, Kamaruddin berbagi pengalaman sewaktu menempuh pendidikan di Eropa, dimana para mahasiswa dari negara Eropa memiliki daya tahan yang kuat dalam membaca. Membaca buku di perpustakaan bisa memakan waktu belasan jam lamanya. Contoh lainnya bisa kita lihat pada penumpang warga asing (bule) saat di pesawat, yang selalu ada di tangannya adalah buku, bukan gawai.
Untuk melengkapi tulisan ini, tidak berlebihan kiranya saya mengutip sebuah utas di media sosial mengenai kebiasaan para tokoh dunia yang begitu kuat dan rajin dalam membaca, sehingga mereka sukses dalam membangun karier.
-
Oprah Winfrey adalah seorang pembaca yang rajin dan memiliki klub buku terkenal tempat ia merekomendasikan dan mendiskusikan buku dengan para pembacanya. Ia menganggap sebagian besar kesuksesannya berkat kebiasaan belajar terus-menerus melalui membaca.
-
Elon Musk dikenal sebagai pembaca yang rajin sejak usia muda. Ia pernah menyebutkan dalam wawancara bahwa ia membaca selama 10 jam sehari saat masih kecil. Ia sering mengaitkan basis pengetahuannya yang luas dengan kebiasaan membaca yang ekstensif.
-
Bill Gates dikenal sebagai pembaca yang rajin dan sering membagikan rekomendasi bacaannya melalui blognya, Gates Notes. Ia membaca berbagai macam materi, mulai dari buku nonfiksi tentang teknologi dan sains hingga novel dan biografi.
-
Sheryl Sandberg, CEO Facebook, dikenal karena kebiasaan membaca yang disiplin. Ia menyisihkan waktu setiap hari untuk membaca dan sering terlihat berbagi wawasan dari buku-buku yang dibacanya di platform media sosialnya.
-
Mark Zuckerberg, CEO Facebook, telah menjadikan membaca buku setiap dua minggu sebagai tantangan pribadinya. Ia membagikan daftar bacaannya setiap tahun dan sering membahas dampak buku terhadap pertumbuhan pribadi dan profesionalnya.
-
Satya Nadella, CEO Microsoft, dikenal karena kecintaannya pada puisi dan sastra. Ia sering memasukkan pelajaran yang dipetik dari sastra ke dalam gaya kepemimpinan dan proses pengambilan keputusannya.
-
Indra Nooyi, mantan CEO PepsiCo, adalah seorang pembaca yang rajin yang menganggap buku telah membentuk gaya kepemimpinan dan pendekatannya terhadap bisnis. Ia sering merekomendasikan buku kepada karyawan dan rekan-rekannya sebagai cara untuk menumbuhkan pembelajaran dan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Warren Buffett dikenal karena kebiasaan membaca yang rakus. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca berbagai materi, termasuk laporan tahunan, surat kabar bisnis, dan buku tentang berbagai subjek, khususnya investasi dan manajemen bisnis.
Orang-orang tersebut menunjukkan pentingnya membaca sebagai kebiasaan untuk pengembangan pribadi dan profesional, serta untuk memperluas perspektif dan basis pengetahuan seseorang.
Kembali ke fakta rendahnya literasi dan minat baca orang Indonesia, maka perlu menjadi bahan refleksi bagi semua pihak tidak terkecuali orang tua, guru/dosen, pemerintah, pemangku kepentingan, bahkan setiap anggota masyarakat itu sendiri. Kamaruddin Amin juga menegaskan bahwa tingkat literasi sangat merefleksikan peradaban suatu bangsa. Sebab, pendidikan dan tingkat literasi sangat menentukan kemajuan seseorang. Orang yang banyak membaca akan memperoleh banyak ilmu, dan orang yang banyak ilmu, maka dirinya akan menjadi orang yang arif dan bijaksana.
Ketersediaan Bahan Bacaan
Peningkatan literasi dan kegemaran membaca tidak bisa lepas dari ekosistem yang mengelilinginya. Ketersediaan dan kemudahan dalam mengakses buku yang bermutu merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan. Komitmen Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang akan menggelontorkan masing-masing 1.000 buku ke semua perpustakaan masjid tahun 2025 patut diapresiasi. Sebab, dari 857 perpustakaan masjid yang terdata di Perpustakaan Islam Digital ELIPSKI, masih banyak yang belum mencukupi koleksi bukunya sesuai standar.
Gerakan peningkatkan literasi tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan effort yang luar biasa dari setiap individu yang dimulai dari kemauan, pembiasaan, pengembangan, dan komitmen yang kuat. Budaya literasi bukan sekadar membangun kegemaran membaca. Upaya ini juga menjadi investasi jangka panjang untuk menjemput masa depan anak dan bangsa yang berdaya saing.
Oleh karena itu, setelah hajatan besar KIA 2024 ini, Kementerian Agama dapat menjadikan para peraih dan nomine Kepustakaan Islam Award menjadi duta-duta literasi. Perpustakaan masjid yang menjadi finalis dapat dijadikan sebagai prototype pengembangan perpustakaan masjid di nusantara. Demikian juga para penulis buku yang menjadi pemenang dapat diberdayakan memberikan motivasi dan berbagi skil ilmunya kepada orang lain untuk mampu menulis.
Pembudayaan gemar membaca harus terus didengungkan. Selain melakukan program-program kegiatan yang menarik, juga dapat ditempuh dengan kampanye pro aktif di berbagai media sosial. Apabila diperlukan, para influencer dan publik pigur dilibatkan dalam kampanye mendorong peningkatan literasi dan kegemaran membaca.
*Penulis adalah Analis Kebijakan Ahli Muda/Kepala Sub Tim Pengendalian Mutu Buku Agama dan Keagamaan Islam, Subdit Kepustakaan Islam.



