Kuningan, bimasislam—Meihat sisi lain perayaan Idul Fitri tidak melulu tentang kemacetan arus mudik. Ya, momen Idul Fitri juga menjadi waktu favorit untuk melangsungkan hajatan bagi warga Kuningan,Jawa Barat, khususnya pekawinan. Hampir di setiap desa dijumpai satu sampai dua tenda lengkap dengan pelaminan, dan beberapa bahkan dihibur dengan orkes dangdut. Walhasil, momen Idul Fitri dimana seluruh anggota keluarga tengah berkumpul, benar-benar menjelma menjadi ajang silaturahim yang membahagiakan.
Hal ini berbanding lurus dengan data yang tertera dalam catatan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Cibingbin, Kuningan. Wilayah yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah ini terdiri 10 desa dengan penduduk berjumlah37.722jiwa. Biasanya, setiap bulan frekuensi peristiwa nikah di kecamatan ini berjumlah20-30 pernikahan. Namun bertepatan dengan momentum Idul Fitri, jumlah pengajuan pernikahan melonjak menjadi60 peristiwa. Hebatnya, 60 peristiwanikahini akan diselenggarakan pasca lebaran hanya sampai akhir Juli 2015.
Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Cibingbin yang terletak di Desa Sukaharja, hanya memiliki dua orang penghulu, satu orang merangkap sebagai Kepala KUA. Didin Wahidin, penghuluyang merangkap kepala KUA kepada bimasislam menuturkan, pelayanan pernikahan tetap dilakukan meski di hari lebaran.
“Sejak hari kedua lebaran, kami sudah sibuk menikahkan. Sehari bisa 4-5 tempat. Ya kita atur waktu dan bagi wilayah saja, alhamdulillah semua terlayani,”tuturnya dengan penuh senyum.
Ia melanjutkan, selain momen Idul Fitri, peningkatan peristiwa nikah juga terjadi di bulan rayagung atau Idul Adha, walau jumlahnya tidak sebanyak saat Idul Fitri. Menurutnya, sebagian masyarakat Kuningan memiliki hitung-hitungan dalam menentukan tanggal pernikahan.
“Di kedua momen ini biasanya kesibukan kami meningkat tajam, bahkan hampir tak ada waktu istirahat,”pungkasnya dengan ramah.
Disinggung perihal kendala salam pengelolaan SIMKAH, Aminuddin, staf pada KUA Cibingbin mengeluhkan aliran listrik yang sering mati dan jaringan internet yang belum tersedia. Untuk menyiasatinya, input data dilakukan pagi hari, sementara proses uploaddilakukan saat jaringan internet normal.
Walau dalam keterbatasan, pelayanan tetap dilakukan secara prima. Hal ini terlihat dengan model pelayanan yang cepat dan mengedepankan kepuasan masyarakat, serta menyampaikan informasi seperti bebas pungutan, standar waktu pelayanan dan lainnya, baik melalui spanduk, banner maupun papan informasi. (kangjeje/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



