Oleh:
Syafaat*
Syafaat*
Ada yang berbeda ketika saya menghadiri ngunduh mantu putra Dr. Moh. Amak Burhanudin, Kabid PAIS Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. Saya justru merasakan sunyi yang khusyuk, seolah Tuhan sedang menyisipkan isyarat-Nya di sela-sela perayaan. Biasanya orang pulang membawa suvenir yang kelak hanya menjadi benda mati di sudut rumah, tetapi hari itu saya pulang juga membawa sesuatu yang hidup: bibit-bibit kecil, dan di antaranya ada sawo kecik, sebuah lambang sarwa becik atau serba kebaikan. Seakan semesta sedang berbisik bahwa pernikahan bukan sekadar perjamuan dua insan, melainkan penanaman doa, akar harapan, dan tunas-tunas kebajikan yang kelak tumbuh menjulang menuju langit rahmat-Nya.
Bibit itu kecil, sederhana, nyaris tak berarti jika dilihat dengan mata biasa. Namun dalam kebudayaan Jawa, sawo kecik bukan sekadar pohon. Ia adalah lambang. Nama itu berasal dari pelesetan sarwa becik yang berarti serba baik. Sebuah doa yang dibungkus dalam batang kecil dan akar yang belum tumbuh. Orang Jawa selalu tahu bahwa hidup tidak cukup dijalani dengan kata-kata; hidup harus dipenuhi lambang agar makna bisa bertahan lebih lama dari usia manusia.
Sawo kecik seolah menjadi pesan diam tentang bagaimana manusia seharusnya hidup: menjadi baik dalam laku, baik dalam budi, baik dalam niat, dan baik dalam kepemimpinan. Ia mengajarkan bahwa hidup yang benar bukanlah hidup yang besar, melainkan hidup yang memberi manfaat. Sebab pohon tidak pernah makan buahnya sendiri; ia tumbuh untuk memberi kepada yang lain.
Mungkin itulah sebabnya bibit sawo kecik dibagikan dalam sebuah pernikahan. Karena pernikahan sejatinya adalah pekerjaan menanam. Menanam kesabaran dalam hari-hari yang tak selalu mudah. Menanam kesetiaan di tengah godaan zaman. Menanam pengorbanan dalam setiap keputusan bersama. Menanam masa depan dalam rahim waktu yang panjang.
Rumah tangga, seperti pohon, tidak pernah tumbuh dalam semalam. Ia membutuhkan hujan dan panas, angin dan musim, bahkan kadang badai. Tetapi justru dari situlah akar belajar kuat. Dalam kehidupan rumah tangga, badai bukan tanda bahwa cinta gagal tumbuh, melainkan cara Tuhan menguatkan akarnya. Sebagaimana pohon yang baik tak tumbang hanya karena angin, begitu pula keluarga yang dibangun dengan iman.
Tuhan selalu berbicara dengan bahasa simbol. Manusia mungkin terlalu sibuk dengan bahasa verbal, tetapi Tuhan kerap memilih bahasa alam. Pohon, air, tanah, gunung, bahkan angin, semuanya adalah huruf-huruf kosmik yang menyusun pesan ilahiah. Sebab yang gaib tak selalu dapat diterjemahkan dengan logika; ia sering hanya bisa dipahami oleh hati.
Bukankah dalam kitab suci Tuhan mengibaratkan kalimat yang baik seperti pohon yang baik: akarnya kuat, cabangnya menjulang, dan buahnya memberi manfaat? Perumpamaan itu bukan sekadar puisi, melainkan peta jalan bagi manusia. Bahwa kebaikan harus berakar, bertumbuh, dan berbuah. Dan rumah tangga adalah ladang pertama tempat kebaikan itu diuji.
Seperti halnya dalam tradisi Jawa, setelah akad nikah ada prosesi temu manten, sebuah ritual perjumpaan dua jiwa yang telah sah. Di sana hadir gagar mayang atau yang sering disebut kembar mayang. Banyak orang melihatnya sebagai hiasan janur, padahal ia adalah kitab simbol yang ditulis dengan daun dan bunga. Ia seperti nasihat dan doa yang tak diucapkan, tetapi dipajang agar setiap orang membacanya dengan mata batin.
Gagar mayang menandai gugurnya masa kanak-kanak. Ia adalah penegasan bahwa hidup telah memasuki gerbang baru: gerbang tanggung jawab. Dalam setiap helai janur yang dibentuk, tersimpan pesan bahwa manusia tak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ada pasangan yang harus dijaga, ada keluarga yang harus dibangun, ada masa depan yang harus dipertanggungjawabkan.
Kembang mayang, atau bunga pinang, dipilih bukan tanpa alasan. Ia tetap harum bahkan ketika kering. Orang-orang tua Jawa menjadikannya doa: semoga rumah tangga tetap harum sampai tua. Sebab cinta yang sejati bukanlah cinta yang hanya mekar ketika tubuh masih segar dan wajah masih muda. Cinta sejati adalah yang tetap wangi meski usia telah mengeringkan banyak hal.
Di bawahnya, batang pisang menjadi pondasi tempat kembar mayang ditancapkan. Pisang adalah simbol kesuburan dan keberlanjutan. Sekali tumbuh, ia melahirkan tunas-tunas baru. Begitu pula rumah tangga. Ia bukan hanya tentang menyatukan dua manusia, tetapi juga melahirkan generasi yang akan mewarisi nilai, iman, dan peradaban.
Janur, yang oleh sebagian orang dimaknai sebagai Jannatun Nur atau taman cahaya, tak sekadar anyaman daun muda yang menghias sakralnya temu manten, melainkan kitab sunyi yang menampung doa-doa langit. Ketika dibentuk menjadi cambuk, belalang, keris, gunung, dan ular, ia seakan menuturkan jalan panjang rumah tangga: cambuk sebagai laku disiplin agar cinta tak tercerai oleh ego, belalang sebagai isyarat kelincahan membaca zaman, keris sebagai penjaga martabat dan kehormatan, gunung sebagai lambang teguhnya iman saat badai kehidupan datang, dan ular sebagai tanda kewaspadaan atas godaan yang sering menyelinap tanpa suara.
Pernikahan bukan sekadar akad yang menghalalkan, melainkan madrasah simbol yang mengajarkan bahwa hidup tak cukup dibangun oleh hukum, tetapi juga oleh kesadaran batin. Sebab ketika manusia kehilangan simbol, sering kali yang hilang bukan hanya makna, melainkan kedalaman jiwanya sendiri.
Ini adalah ekoteologi. Sebuah kesadaran bahwa menjaga bumi adalah bagian dari iman. Bahwa menanam pohon bukan sekadar tindakan ekologis, tetapi juga ibadah. Hari ini manusia terlalu sering mengambil dari bumi tanpa menanam kembali. Menebang tanpa mengganti. Memakai tanpa merawat. Menghabiskan tanpa berpikir tentang generasi sesudahnya.
Padahal manusia diciptakan bukan sebagai pemilik bumi, tetapi sebagai penjaga. Sebagai khalifah yang tugasnya merawat, bukan merusak. Dalam sebuah pernikahan, restu tidak berhenti di lisan. Para tamu diminta membawa pulang bibit dan menanamnya. Artinya, restu diwujudkan dalam tindakan. Doa diterjemahkan menjadi akar. Harapan diubah menjadi batang yang kelak tumbuh.
Betapa indah jika setiap pernikahan melakukan hal yang sama, seperti program Kementerian Agama. Seratus tamu datang, seratus pohon ditanam. Sepuluh tahun kemudian, pohon-pohon itu tumbuh menjadi saksi bisu bahwa pernah ada dua insan yang menyatukan cinta, lalu mengubahnya menjadi kehidupan bagi bumi.
Memang demikian cara Tuhan mengajar manusia. Tidak selalu lewat ceramah panjang, tidak selalu lewat kitab yang dibaca keras-keras, tetapi lewat simbol-simbol kecil yang disentuhkan ke tangan kita. Bibit sawo kecik itu, misalnya, tampak sederhana. Tetapi ia membawa pelajaran tentang hidup, tentang cinta, tentang kebaikan, dan tentang tanggung jawab kepada bumi.
Saya pulang dengan langkah yang tak lagi sama; di tangan tergenggam suvenir dan bibit kecil, tetapi di dalam batin tumbuh kesadaran yang jauh lebih besar: bahwa hidup sejatinya adalah menanam, yakni menanam amal, cinta, kebaikan, warisan, dan harapan.
Seperti gagar mayang dalam doa manten yang menjadi saksi gugurnya masa lalu dan mekarnya tanggung jawab baru, setiap simbol itu seolah mengajarkan bahwa kehidupan adalah perjalanan menumbuhkan makna. Dan kelak, ketika segala amal dipanggil menghadap Tuhan, mungkin pohon-pohon yang pernah kita tanam akan berdiri sebagai saksi; bahwa kita pernah mencintai bumi sebagaimana kita mencintai hidup, memahami isyarat-isyarat-Nya, dan pulang dari sebuah perjamuan bukan sekadar membawa kenangan, melainkan membawa amanah yang harus terus bertumbuh menuju rahmat-Nya.
*ASN / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.
Bibit itu kecil, sederhana, nyaris tak berarti jika dilihat dengan mata biasa. Namun dalam kebudayaan Jawa, sawo kecik bukan sekadar pohon. Ia adalah lambang. Nama itu berasal dari pelesetan sarwa becik yang berarti serba baik. Sebuah doa yang dibungkus dalam batang kecil dan akar yang belum tumbuh. Orang Jawa selalu tahu bahwa hidup tidak cukup dijalani dengan kata-kata; hidup harus dipenuhi lambang agar makna bisa bertahan lebih lama dari usia manusia.
Sawo kecik seolah menjadi pesan diam tentang bagaimana manusia seharusnya hidup: menjadi baik dalam laku, baik dalam budi, baik dalam niat, dan baik dalam kepemimpinan. Ia mengajarkan bahwa hidup yang benar bukanlah hidup yang besar, melainkan hidup yang memberi manfaat. Sebab pohon tidak pernah makan buahnya sendiri; ia tumbuh untuk memberi kepada yang lain.
Mungkin itulah sebabnya bibit sawo kecik dibagikan dalam sebuah pernikahan. Karena pernikahan sejatinya adalah pekerjaan menanam. Menanam kesabaran dalam hari-hari yang tak selalu mudah. Menanam kesetiaan di tengah godaan zaman. Menanam pengorbanan dalam setiap keputusan bersama. Menanam masa depan dalam rahim waktu yang panjang.
Rumah tangga, seperti pohon, tidak pernah tumbuh dalam semalam. Ia membutuhkan hujan dan panas, angin dan musim, bahkan kadang badai. Tetapi justru dari situlah akar belajar kuat. Dalam kehidupan rumah tangga, badai bukan tanda bahwa cinta gagal tumbuh, melainkan cara Tuhan menguatkan akarnya. Sebagaimana pohon yang baik tak tumbang hanya karena angin, begitu pula keluarga yang dibangun dengan iman.
Tuhan selalu berbicara dengan bahasa simbol. Manusia mungkin terlalu sibuk dengan bahasa verbal, tetapi Tuhan kerap memilih bahasa alam. Pohon, air, tanah, gunung, bahkan angin, semuanya adalah huruf-huruf kosmik yang menyusun pesan ilahiah. Sebab yang gaib tak selalu dapat diterjemahkan dengan logika; ia sering hanya bisa dipahami oleh hati.
Bukankah dalam kitab suci Tuhan mengibaratkan kalimat yang baik seperti pohon yang baik: akarnya kuat, cabangnya menjulang, dan buahnya memberi manfaat? Perumpamaan itu bukan sekadar puisi, melainkan peta jalan bagi manusia. Bahwa kebaikan harus berakar, bertumbuh, dan berbuah. Dan rumah tangga adalah ladang pertama tempat kebaikan itu diuji.
Seperti halnya dalam tradisi Jawa, setelah akad nikah ada prosesi temu manten, sebuah ritual perjumpaan dua jiwa yang telah sah. Di sana hadir gagar mayang atau yang sering disebut kembar mayang. Banyak orang melihatnya sebagai hiasan janur, padahal ia adalah kitab simbol yang ditulis dengan daun dan bunga. Ia seperti nasihat dan doa yang tak diucapkan, tetapi dipajang agar setiap orang membacanya dengan mata batin.
Gagar mayang menandai gugurnya masa kanak-kanak. Ia adalah penegasan bahwa hidup telah memasuki gerbang baru: gerbang tanggung jawab. Dalam setiap helai janur yang dibentuk, tersimpan pesan bahwa manusia tak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ada pasangan yang harus dijaga, ada keluarga yang harus dibangun, ada masa depan yang harus dipertanggungjawabkan.
Kembang mayang, atau bunga pinang, dipilih bukan tanpa alasan. Ia tetap harum bahkan ketika kering. Orang-orang tua Jawa menjadikannya doa: semoga rumah tangga tetap harum sampai tua. Sebab cinta yang sejati bukanlah cinta yang hanya mekar ketika tubuh masih segar dan wajah masih muda. Cinta sejati adalah yang tetap wangi meski usia telah mengeringkan banyak hal.
Di bawahnya, batang pisang menjadi pondasi tempat kembar mayang ditancapkan. Pisang adalah simbol kesuburan dan keberlanjutan. Sekali tumbuh, ia melahirkan tunas-tunas baru. Begitu pula rumah tangga. Ia bukan hanya tentang menyatukan dua manusia, tetapi juga melahirkan generasi yang akan mewarisi nilai, iman, dan peradaban.
Janur, yang oleh sebagian orang dimaknai sebagai Jannatun Nur atau taman cahaya, tak sekadar anyaman daun muda yang menghias sakralnya temu manten, melainkan kitab sunyi yang menampung doa-doa langit. Ketika dibentuk menjadi cambuk, belalang, keris, gunung, dan ular, ia seakan menuturkan jalan panjang rumah tangga: cambuk sebagai laku disiplin agar cinta tak tercerai oleh ego, belalang sebagai isyarat kelincahan membaca zaman, keris sebagai penjaga martabat dan kehormatan, gunung sebagai lambang teguhnya iman saat badai kehidupan datang, dan ular sebagai tanda kewaspadaan atas godaan yang sering menyelinap tanpa suara.
Pernikahan bukan sekadar akad yang menghalalkan, melainkan madrasah simbol yang mengajarkan bahwa hidup tak cukup dibangun oleh hukum, tetapi juga oleh kesadaran batin. Sebab ketika manusia kehilangan simbol, sering kali yang hilang bukan hanya makna, melainkan kedalaman jiwanya sendiri.
Ini adalah ekoteologi. Sebuah kesadaran bahwa menjaga bumi adalah bagian dari iman. Bahwa menanam pohon bukan sekadar tindakan ekologis, tetapi juga ibadah. Hari ini manusia terlalu sering mengambil dari bumi tanpa menanam kembali. Menebang tanpa mengganti. Memakai tanpa merawat. Menghabiskan tanpa berpikir tentang generasi sesudahnya.
Padahal manusia diciptakan bukan sebagai pemilik bumi, tetapi sebagai penjaga. Sebagai khalifah yang tugasnya merawat, bukan merusak. Dalam sebuah pernikahan, restu tidak berhenti di lisan. Para tamu diminta membawa pulang bibit dan menanamnya. Artinya, restu diwujudkan dalam tindakan. Doa diterjemahkan menjadi akar. Harapan diubah menjadi batang yang kelak tumbuh.
Betapa indah jika setiap pernikahan melakukan hal yang sama, seperti program Kementerian Agama. Seratus tamu datang, seratus pohon ditanam. Sepuluh tahun kemudian, pohon-pohon itu tumbuh menjadi saksi bisu bahwa pernah ada dua insan yang menyatukan cinta, lalu mengubahnya menjadi kehidupan bagi bumi.
Memang demikian cara Tuhan mengajar manusia. Tidak selalu lewat ceramah panjang, tidak selalu lewat kitab yang dibaca keras-keras, tetapi lewat simbol-simbol kecil yang disentuhkan ke tangan kita. Bibit sawo kecik itu, misalnya, tampak sederhana. Tetapi ia membawa pelajaran tentang hidup, tentang cinta, tentang kebaikan, dan tentang tanggung jawab kepada bumi.
Saya pulang dengan langkah yang tak lagi sama; di tangan tergenggam suvenir dan bibit kecil, tetapi di dalam batin tumbuh kesadaran yang jauh lebih besar: bahwa hidup sejatinya adalah menanam, yakni menanam amal, cinta, kebaikan, warisan, dan harapan.
Seperti gagar mayang dalam doa manten yang menjadi saksi gugurnya masa lalu dan mekarnya tanggung jawab baru, setiap simbol itu seolah mengajarkan bahwa kehidupan adalah perjalanan menumbuhkan makna. Dan kelak, ketika segala amal dipanggil menghadap Tuhan, mungkin pohon-pohon yang pernah kita tanam akan berdiri sebagai saksi; bahwa kita pernah mencintai bumi sebagaimana kita mencintai hidup, memahami isyarat-isyarat-Nya, dan pulang dari sebuah perjamuan bukan sekadar membawa kenangan, melainkan membawa amanah yang harus terus bertumbuh menuju rahmat-Nya.
*ASN / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.
Baca Selanjutnya
Lihat semuaSekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Tarik 2.568 Pengunjung, Milfest Kemenag 2026 Catat Perputaran Ekonomi Hingga Rp234 Juta
Bogor, Bimas Islam — Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) Kementerian Agama 2026 mencatat capaian positif selama empat hari penyelenggaraan di Unit…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Menag: Bukan Umat yang Memberdayakan Masjid, tetapi Masjid yang Memberdayakan Umat
Surabaya, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah.…



