Oleh:
Jaja Zarkasyi, MA*
Di suatu titik saya pernah merasa jenuh, bahkan saya hampir merasa “terbunuh’ oleh rutinitas. Setiap pagi melewatkan sarapan dengan keluarga, menuju kantor dengan setumpuk agenda. Sederet agenda tertulis dalam jadwal, bahkan hampir tak ada waktu untuk santai. Tak dapat dipungkiri, sesekali halitu membuat saya bangga.
Di satu titik saya pun terhenti. Rasanya ada yang hilang dari kehidupan. Setumpuk aktivitas dan kegiatan tak mampu menenangkan diri. Dalam keramaian saya merasa terasing. Entitas diri seakan tak pernah hadir di tengah keriuhan aktivitas. Seperti orang asing, saya pun terhempas dalam ketiadaan. Di titik itulah saya merasa “tak pernah ada.”
Setelah saya amati, ternyata kejenuhan telah mengisi mayoritas jiwa. Jiwa-jiwa mekanis yang tenggelam dalam keseharian. Tak pernah menemukan ujung, rutinitas begitu saja berlalu tanpa sempat memberi makna. Tujuan dan target tak pernah benar-benar tercapai. Semua bercerai berai, hanya sebatas rutinitas.
Satu di antara hal yang berhasil saya ungkap adalah, kita tak pernah benar-benar sampai pada tujuan. Ada banyak rencana, langkah dan kegiatan yang telah dilaksanakan, namun itu tak benar-benar mengantarkan pada target dan tujuan. Di tengah jalan ada banyak yang terhenti, bahkan berpindah haluan.
Masing-masing dari kita begitu asyik dengan ide, setiap kita sangat mahir menjadi pembicara. Namun kita lupa bagaimana menjabarkan ide itu menjadi sebuah program yang terstruktur. Ide-ide sahut menyahut, namun tak pernah benar-benar membumi dan menjadi nyata. Hingga akhirnya ide itu tenggelam tanpa pernah ada jejak entitasnya.
Birokrasi didominasi oleh “perasaan” ketimbang rasionalitas. Ada yang merasa lebih senior, lebih paham, lebih tinggi. Mobilitas ide tak terjadi karena terdapat sumbatan struktur sosial di mana-mana. Padahal, mobilitas ide adalah keniscayaan dalam sebuah organisasi.
Di sinilah dialektika tak lebih dianggap sebagai “ketidakpantasan”. Padahal dialektika pemikiran adalah keniscayaan, tanpanya sangat sulit tumbuh sebuah birokrasi yang sehat dan kompetitif.
Benarkah dialektika itu dibutuhkan?
Di awal tahun 2021, saya berjumpa virtual dengan seorang sahabat yang lama tak berjumpa. Lebih dari 18 tahun, kami berjumpa dalam sebuah jamuan ide yang luar biasa. Ia dan beberapa temannya tengah menggawangi sebuah marketplace pembelajaran yang menyasar para pelajar SLTP dan SMU. Lebih dari 4 tahun, kini flatform digital pembelajaran telah diakses ribuan orang dan valuasi perusahaannya mencapai puluhan miliar.
Di awal diskusi ia berbagi tips. Kami memulainya dari diskusi. Setiap kami diminta mengungkapkan ide-ide “nakal” dan “radikal” menyelamatkan bimbel yang mulai ditinggalkan pelanggannya. Hingga akhirnya tercetuslah bimbel online dengan metode sorogan atau khas pesantren. Singkat kata, bimbel online pun lahir dan berjalan hingga saat ini.
Dialektika telah membesarkan bimbel online tersebut. Setiap orang memiliki ide, lalu dikaji secara mendalam dan ditindaklanjuti dengan langkah-langkah teknis yang efektif dan efisien. Baginya, dialektika justru banyak melahirkan ide. Namun itu tak mudah, karena ada syarat yang harus dipenuhi: setiap orang harus rela menjadi bagian dari tim.
Tak mudah membangun tim, karena di dalamnya bukan hanya ketajaman analisis, namun juga kesediaan untuk menjadi satu. Bisa dibayangkan, setiap anggota tim datang dari latar belakang sosial yang berbeda, juga berbagai kecenderungan politik dan hobby yang berbeda. Butuh effort yang kuat untuk “menurunkan” kadar ego dan mengkonversinya menjadi “kami.”
Dalam setiap sekumpulan individu, akan selalu tumbuh persaingan. Begitulah sunatullah. Namun semua itu dapat dimaknai sebagai ujian saat kita masuk dalam sebuah sistem organisasi. Bersediakah menjadi bagian dari tim, inilah hal yang mendasar yang akan menopang jalannya roda organisasi.
Salah satu penyakit birokrasi yang sangat susah diperbaiki adalah ego individual dan ego sektoral. Kedua hal inilah yang sering memicu disharmoni program dan kegiatan. Setiap kita lebih suka sendiri ketimbang menjadi satu. Sinergi amatlah susah dijumpai, meski itu ada namun kadarnya tidak sampai “24 karat.” Pada akhirnya tak pernah benar-benar ada target yang tercapai dan yang tersisa hanya rutinitas yang sangat parsial.
Hari ini kita memperingati Idul Adha. Di tengah pandemi yang terus mengganas, langkah awal kitamemulai reformasi birokrasi adalah dengan mengendalikan ego. Semangat RB harus direspon dengan kesediaan menjadi tim, bersinergi dan berdialektika secara terbuka. Sudah saatnya RB mendorong tumbuhkembangnya ide-ide brilian tanpa terhalang oleh sekat-sekat sosial.
Dimulai dengan penghapusan jabatan struktural dan menggantinya denganjabatan fungsional, harapan RB “sepertinya” hampir menemukan momentumnya. Birokrasi harus menyambut dengan sukacita para JF baru yang akan berkompetisi melahirkan ide dan gagasan, untuk selanjutnya menjadi kebijakan organisasi.
Memangkas jabatan struktural adalah langkah tepat memotong alur birokrasi lebih efektif danefisien. Para JF akan bahu membahu menopang terlaksananya program, sementara pejabat struktural adalah pengarah yang akan mendrive seluruh tim berjalan dalam satu visi yang sama.
RB itu bukan utopia. Saya membayangkan sebuah birokrasi yang efektif, dimana ide dan gagasan hilir mudik mengisi meja-meja diskusi, lalu dikonversi menjadi sebuah kebijakan. Semua kita adalah ide, namun setiap kita juga siap menjadi bagiandari kebijakan.
Lagi-lagi, RB juga potensial hanya menjadi sebuah utopia saat ego individual dansektoral tidak ditempatkan pada proporsinya. Inilah tugas bersama kita, karena birokrasiyang sehat selalu memberi ruang yang luas bagi sebuah perubahan.
Hari ini banyak umat Islam yang berkurban. Menyempurnakan spirit qurban sauda-saudara kita, kiranya para birokrat pun bersedia berkurban ego demi tujuan organisasi yang lebih besar. Wallahu a’lam.
*Analis Kebijakan Ahli Muda Ditdaya Zakat dan Wakaf



