Jakarta, Bimas Islam — Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kebijakan Publik, Media, dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Ismail Cawidu, menjelaskan panduan pelaksanaan takbiran Idulfitri di Bali apabila malam takbiran bertepatan dengan perayaan Hari Raya Nyepi.
Penjelasan tersebut disampaikan Ismail dalam press briefing isu-isu aktual kebimasislaman di Jakarta, Senin (9/3/2026). Menurutnya, pemerintah bersama tokoh agama dan unsur masyarakat di Bali telah menyepakati panduan bersama agar umat Islam dan umat Hindu dapat menjalankan ibadah dengan tenang serta saling menghormati.
“Tahun ini ada momen yang sangat spesial di Bali, di mana malam takbiran Idulfitri bertepatan dengan Hari Raya Nyepi. Karena itu disepakati panduan bersama agar kedua umat dapat menjalankan ibadahnya dengan khidmat dan saling menghormati,” ujar Ismail.
Ia menjelaskan, umat Islam tetap dapat melaksanakan takbiran, namun secara sederhana dan terbatas di lingkungan masjid atau musala terdekat.
“Takbiran tetap dapat dilaksanakan di masjid atau musala terdekat, namun tanpa menggunakan pengeras suara, sound system, petasan, ataupun bunyi-bunyian lainnya,” jelasnya.
Selain itu, pelaksanaan takbiran juga diatur dalam rentang waktu tertentu agar tidak mengganggu suasana hening yang menjadi bagian dari pelaksanaan Nyepi.
“Kegiatan takbiran dilaksanakan mulai pukul 18.00 hingga 21.00 WITA dengan tetap menjaga ketertiban dan kekhidmatan,” kata Ismail.
Ia menambahkan, pengaturan tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap umat Hindu yang sedang menjalankan rangkaian ibadah Nyepi yang identik dengan suasana sunyi dan refleksi diri.
Menurut Ismail, keamanan dan ketertiban kegiatan juga akan dijaga secara bersama oleh berbagai unsur masyarakat dan aparat keamanan.
“Pengurus masjid akan berkoordinasi dengan Pecalang, Linmas, serta aparat keamanan setempat agar pelaksanaan ibadah tetap berjalan tertib dan kondusif,” ujarnya.
Ia menilai kesepakatan tersebut menjadi contoh nyata praktik toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia, khususnya di Bali yang dikenal memiliki keberagaman budaya dan agama.
“Kesepakatan ini merupakan wujud indahnya sikap saling menghargai dan menjaga toleransi di Pulau Dewata. Kita ingin menunjukkan bahwa perbedaan tidak menjadi penghalang untuk tetap hidup rukun dan saling menghormati,” tambahnya.
Ismail juga mengajak masyarakat untuk mendukung kesepakatan tersebut dengan menjaga suasana tetap damai dan tertib.
“Mari kita dukung bersama agar suasana tetap kondusif, damai, dan penuh keberkahan bagi semua pihak yang menjalankan ibadahnya,” pungkasnya.
Msk/Mr



