Bogor, bimasislam—Untuk meningkatkan kualitas bidang Hisab dan Rukyat, Direktorat Urusan agama Islam dan Pembinaan Syariah DitjenBimasIslam Kementerian Agama RI mengadakan Temu Kerja Hisab Rukyat sebagaiagenda tahunan Kemenag RIyangdilaksanakan di Sempur Park Hotel,Bogor,3-5 April 2014 dengan tema Standardisasi Hisab Rukyat: Sebuah Upaya Penyatuan Umat. Dalam sambutannya,Direktur Urais dan Pembinaan Syariah, Dr. H. Ali Muchtar Ali, M.Hum,bahwa tujuankegiatan inidalam rangkameningkatkan pelayanan terhadap umat. Topik pembahasan Temu Kerja adalahpembahasan awal bulan hijriyah pada tahun 2016. Selain itu, dilakukan review hisab awal bulan Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah di tahun ini, tandasnya.
Kegiatanini diharapkan agardapat mewujudkan adanya persatuan, paling tidak memberikanmasukan kepada Menteri Agama RI dalam penetapan sidang isbat tahun ini. Output pada muker ini adalah dapat memberikan kepastian kepada masyarakat,khususnya tiga bulan yakni Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah. “Mengumpulkan data hisab dari seluruh sistem hisab yang ada dan mengkaji kriteria awal bulan qamariyah yang kemudian akan menjadi masukan kepada Menteri Agama RI”, imbuhnya.
Dalam pantauan bimasislam, kegiatan dibuka secara resmi oleh Dirjen Bimas Islam, Prof. Dr. H. Abdul Djamil, MA.“Ini merupakan agenda yang menjadi perhatian khusus demi mewujudkan persatuan umat dalam melaksanakan ibadah bagi umat Islam, seperti ibadah puasa, idul fitri dan pelaksanaan idul adha. Perbedaan itubukan hal yang baru,sementara tugas pemerintah agar ormas Islam dapatduduk bersama, tegas mantanRektor IAIN Walisongo Semarang.
Djamilmemberikan mengapresiasi kepada mereka yang masih memiliki kepedulian terhadap pembuatan taqwim standar Indonesia dan merumuskan hal penting yang berkaitan dengan arah kiblat dan penentuan awal waktu shalat. “Kelangkaan bidang ilmu falak harus diakui memiliki tingkat kompleksitas masalah yang bertingkat, bahkan beberapa kalangan merasa tidak begitu familiar dengan persoalan hitung-hitungan. Karena itu, Ilmu falak perlu disemai dalam konteks ilmu keislaman.
Oleh karena itu, tambah Djamil, yang patut diharapkan dari forum semacam ini adalah forum yang harus mencerdaskan publik. Mengingat pemahaman yang harus dibangun manakala dalam kenyataan di forum internasional saja masih belum berhasil menyatukan kriteria. Meskipun kita telah masuk pada era modern, jika semangatnya menyatukan ada,maka hasilnya bisa sepakat untuk berbeda. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa akan terjadi siklus perbedaan di mana suatu saat bersama, kadang berbeda dalam penetapan awal bulan hijriyah. Pertanyaan, bagaimana bisa bersatu? Pertanyaan berupa harapan yang selalu diulang-ulang itu lambat laun menjadi klise, karena potensi perbedaan itu sudahlah ada, ungkapnya.
Hadir sebagai narasumber adalah Prof. Dr. H. Thomas Djamaluddin, M.Si, Ir H. Agus Mustofa, Prof. Dr. H. Susiknan Azhari, M.Ag, Dirjen Bimas Islam, Prof. Dr. H. Abdul Djamil, MA, Direktur Urais dan Binsyar Dr. H. Muhtar Ali, M.Hum dan Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat, Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag. Sedangkan peserta sebanyak 40 orang yang terdiri dari berbagai unsur,yaituKementerian Agama RI, Mahkamah Agung, Pengadilan Agama, Balai Diklat, UIN, IAIN, ITB, LAPAN, BIG, BMKG, Boscha, Ormas, Planetarium, pegiat Ilmu Falak Astrofisika dan Komunitas Falak Perempuan Indonesia.(mfth/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



