Jakarta, Bimas Islam — Tiga anak binaan lembaga zakat berbagi kisah perjuangan hidup yang menginspirasi dalam talkshow “Suara Anak untuk Negeri” pada rangkaian Lebaran Yatim dan Penyandang Disabilitas 1448 H/2026. Kegiatan yang menjadi bagian dari program Peaceful Muharam 1448 H Kementerian Agama itu berlangsung di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta, Kamis (25/6/2026), dan terhubung secara hybrid dengan 34 Kantor Wilayah Kementerian Agama serta 509 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Talkshow menghadirkan tiga narasumber, yaitu anak binaan LAZ Yatim Mandiri dan Dhuafa Zulfiqar Abdurrahman, anak binaan LAZ Baitul Quran Peduli Umat Miftania Apri Indriani, serta anak binaan Rumah Yatim Rosmila. Ketiganya membagikan pengalaman hidup, tantangan yang dihadapi, hingga semangat untuk terus menggapai cita-cita.
Zulfiqar Abdurrahman, mahasiswa semester akhir UIN Antasari Banjarmasin, mengaku pernah berada pada titik ketika pendidikan tinggi terasa hanya menjadi mimpi. Keterbatasan ekonomi keluarga sempat membuatnya ragu untuk melanjutkan studi dan mengejar cita-cita yang diimpikannya sejak kecil.
“Mengingat keadaan dan lingkungan saya yang kurang mendukung untuk melanjutkan mimpi-mimpi saya, akhirnya saya menemukan titik balik setelah mendapatkan dukungan dari para sahabat dermawan melalui lembaga zakat. Dari situlah semangat saya untuk kembali berjuang tumbuh,” ujar Zulfiqar.
Menurut Zulfiqar, bantuan yang diterimanya bukan sekadar dukungan materi, melainkan juga dorongan moral yang membangkitkan kepercayaan diri untuk terus melangkah. Kini ia aktif sebagai host, moderator, dan reporter kampus sambil menyelesaikan pendidikan sarjananya.
Ia menilai keberhasilannya menempuh pendidikan hingga semester akhir merupakan bukti nyata bahwa dukungan masyarakat melalui zakat mampu membuka jalan bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan ekonomi. Karena itu, ia menyebut para penerima manfaat sebagai investasi sosial yang kelak akan memberikan manfaat kembali kepada masyarakat.
“Saya dan teman-teman yang duduk di sini adalah bentuk investasi para sahabat dermawan. Kesempatan yang diberikan kepada kami menjadi alasan untuk terus belajar, berjuang, dan meraih cita-cita,” katanya.
Kisah inspiratif juga datang dari Miftania Apri Indriani, sahabat tuli binaan LAZ Baitul Quran Peduli Umat. Di hadapan peserta yang hadir secara luring dan daring, ia menceritakan bahwa pernah merasa malu dan berbeda dari teman-teman seusianya. Namun, perasaan tersebut tidak membuatnya menyerah untuk berkembang.
“Aku pernah malu karena merasa berbeda. Tapi aku tetap berpikir bahwa aku harus pintar sendiri dan harus terus berjuang,” ungkap Miftania melalui penerjemah bahasa isyarat.
Saat ini Miftania tengah menempuh pendidikan tinggi dan telah menorehkan berbagai prestasi. Ia bercita-cita menjadi pelukis sekaligus guru Al-Qur’an Isyarat di Sekolah Luar Biasa agar dapat berbagi ilmu dan pengalaman kepada generasi berikutnya. Baginya, keterbatasan bukan penghalang untuk memberikan manfaat bagi orang lain.
Sementara itu, Rosmila membagikan kisah perjuangan yang tidak kalah mengharukan. Anak binaan Rumah Yatim tersebut mengaku pernah merasa masa depannya terhenti ketika kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan dirinya melanjutkan pendidikan setelah lulus sekolah dasar. Namun tekad untuk belajar dan membahagiakan ibunya membuatnya terus bertahan menghadapi berbagai kesulitan.
“Yang paling saya takutkan saat itu adalah tidak bisa melanjutkan pendidikan karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat tidak memungkinkan. Tetapi saya berusaha menerima keadaan dan terus semangat menjalani hidup sampai saat ini,” tutur Rosmila.
Rosmila mengenang masa ketika sepulang sekolah ia membantu ibunya membuat layang-layang untuk menambah penghasilan keluarga. Setelah sang ayah wafat akibat sakit yang dideritanya, beban ekonomi keluarga semakin berat. Meski demikian, ia tidak menyerah pada keadaan dan terus mempertahankan mimpinya untuk melanjutkan pendidikan.
Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Rosmila berhasil diterima di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) dan melanjutkan pendidikan tinggi yang sebelumnya nyaris ia kubur karena keterbatasan ekonomi. Kisah Zulfiqar, Miftania, dan Rosmila menjadi gambaran nyata bahwa harapan dapat tumbuh melalui kerja keras, dukungan keluarga, serta kolaborasi filantropi yang membuka akses pendidikan dan pemberdayaan bagi anak yatim maupun penyandang disabilitas.
Pada kesempatan yang sama, Menag Nasaruddin Umar juga menyapa peserta dari berbagai daerah secara virtual dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat kepedulian terhadap anak-anak yang membutuhkan perhatian bersama.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



