Oleh:
M. Fuad Nasar*
Dr. H. Sugiharto, SE, MBA, mantan Menteri Negara BUMN periode 2004 - 2007, tutup usia Kamis 15 Juli 2021 pukul 9.45 WIB di RS Pusat Pertamina Jakarta. Putra Jawa kelahiran Sumatera Utara tanggal 29 April 1955 itu dikenang sebagai aktivis, entrepreneur, profesional dan mantan pejabat yang baik.
Sewaktu menjabat menteri, Sugiharto menggerakkan Program BUMN Peduli setelah terjadinya gempa dan tsunami di Aceh bulan Desember 2004. Dalam melaksanakan Program BUMN Peduli di Aceh, Kementerian BUMN menjalin kerjasama salah satunya dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Saya waktu itu sebagai pengurus BAZNAS dan ikut mengawal pergerakan BAZNAS dari sisi kelembagaan. BAZNAS proaktif melakukan kerjasama dengan BUMN dalam beberapa program sosial. Saya menyaksikan kerjasama antara pimpinan BAZNAS dengan Sugiharto dan jajaran kementeriannya yang ditugaskan berjalan lancar.
Di masa menjabat Menteri Negara BUMN, Sugiharto menghidupkan secara terlembaga kewajiban BUMN menyisihkan 4 % dari keuntungan bersih yang dialokasikan sebagai tanggung jawab sosial dan lingkungan melalui program kemitraan atau program bina lingkungan. Paradigma yang dibangun Sugiharto, BUMN tidak hanya mencari keuntungan, tetapi punya kewajiban untuk membantu dan memberdayakan masyarakat ekonomi lemah sesuai aturan yang berlaku.
Sekitar tahun 2015 - 2016, saya diajak oleh Zainulbahar Noer, mantan Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia dan Wakil Ketua BAZNAS untuk bergabung dalam Tim Pokja Bank Wakaf ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia). Dalam rapat Tim Pokja Bank Wakaf, Sugiharto selaku Presidium ICMI Pusat beberapa kali beliau hadir dalam rapat rutin Jumat sore di kampus UAI (Universitas Al-Azhar Indonesia) Kebayoran Baru Jakarta. Ia memimpin rapat dengan tenang dan santun, mendengarkan dan menghargai pikiran setiap orang serta memberi tanggapan seperlunya. Saya beruntung dan bersyukur dapat menyerap banyak inspirasi pemikiran dari para senior, pakar dan praktisi serta duta besar di dalam rapat-rapat Tim Pokja pendirian Bank Wakaf. Gagasan besar bank wakaf belakangan difokuskan menjadi bank wakaf ventura, namun hingga kini masih berupa konsep. Di antara anggota Tim Pokja Bank Wakaf ICMI telah ada yang mendahului dipanggil Allah, sebelum ini, yaitu Muzammil Basyuni, Iing Solihin, dan Ricky Rachmadi.
Dalam wawancara media online ekonomisyariah.org yang dipublikasikan 1 Februari 2017, Sugiharto mengatakan pendirian bank wakaf ventura adalah untuk mengangkat ekonomi kerakyatan yang selama ini belum tertangani secara maksimal. Sasaran utama dari bank wakaf ventura adalah pemberdayaan kelompok UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) sehingga akan menggerakkan roda ekonomi umat.
Menurutnya, bank wakaf ventura yang berbentuk modal ventura akan bersumber dari dana wakaf yang berasal dari pengusaha dan CSR perusahaan. Kalau sudah beroperasi, bank wakaf ventura juga dapat bertindak sebagai nadzir wakaf tunai dari masyarakat, dengan begitu dananya bergulir dari wakaf untuk pembiayaan bisnis.
Pemegang saham bank wakaf ventura ini pun akan berasal dari ormas-ormas Islam. Sugiharto menjelaskan, “Kami ingin ini perusahaan, bukan milik pribadi. Kami belajar dari pengalaman seperti Bank Muamalat Indonesia yang tadinya punya pribadi, lama-lama jadi punya asing. Belajar dari situ kami tidak mau itu terjadi lagi. Bank wakaf ini dimiliki umat tapi diwakili ormas. Jika sudah bergerak nantinya bank wakaf ventura ini akan membantu permodalan pebisnis yang merupakan anggota dari ormas Islam. Dengan demikian, ormas Islam akan dapat ikut menggerakkan roda ekonomi umat. Kalau bank wakaf sudah terbangun, pasti ormas Islam akan diajak. ICMI, NU, Muhammadiyah, Persis dan yang lainnya.”
Sugiharto telah pergi untuk selamanya sebelum cita-cita bank wakaf atau bank wakaf ventura yang digagas bersama teman-temannya terwujud. Beberapa proyek amal sempat dirintisnya sebelum meninggal seperti di bidang pendidikan. Ia seorang tokoh muslim yang berkomitmen terhadap peningkatan kualitas umat Islam dan kemandirian bangsa melalui pendidikan dan perbaikan ekonomi.
Buku kisah hidupnya ditulis oleh Zaim Uchrowi berjudul Sugiharto Pengasong Jadi Menteri sangat baik dibaca oleh anak-anak Indonesia dalam rangka pendidikan karakter. Sebagaimana diungkapkan sendiri oleh Sugiharto dalam sebuah acara di televisi, ia pernah merasakan kemiskinan dan hidup penuh keprihatinan. Semasa SMP dan SMA di Jakarta ia pernah menjadi pembantu di rumah orang, pedagang asongan untuk membiayai sekolahnya dan adik-adiknya dan menjadi penjaga parkir di bioskop. Baginya arti kesuksesan ialah ketika bisa menolong dan caring dengan orang lain.
Menurut kesaksian mantan Sekretaris Kementerian BUMN M. Said Didu, sebagai pimpinan Sugiharto tidak hanya percaya dengan telinganya, tetapi percaya dengan matanya, dalam arti setiap laporan mesti dibacanya dengan cermat. Ketika melakukan seleksi wawancara calon-calon Direksi BUMN, dua hal penting yang dinilainya dari seorang kandidat ialah sejauh mana pengetahuan yang bersangkutan tentang laporan keuangan perusahaan dan SDM (sumber daya manusia).
Semenjak beberapa tahun terakhir Sugiharto mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Umum DPP ICMI Pusat, Sekretaris Dewan Pembina Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Ketua Dewan Pembina Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) dan Ketua Pembina Yayasan Cendekia Islamic Center. Ia pernah menjabat Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) dan di beberapa perusahaan lain. Selain itu, Ketua Dewan Penasehat FKA ESQ. Hal yang menarik, ketika menjabat Menteri Negara BUMN, Sugiharto mewajibkan jajaran BUMN mengikuti Training ESQ (Emotional Spiritual Quotient).
Saya terakhir bertemu Sugiharto pada waktu pelaksanaan seleksi wawancara calon anggota BAZNAS tanggal 18 Juli 2020. Saat itu Sugiharto hadir di Hotel Aryaduta Jakarta dan diwawancarai secara virtual. Saya hadir mengamati di ruangan wawancara dan menyimak tanya jawab tim seleksi dengan para peserta. Sugiharto mengutarakan tujuannya mendaftar menjadi calon anggota BAZNAS adalah melengkapi sisa hidup untuk berbagi dan mengabdi bagi mustahik dan negara melalui BAZNAS. Insya allah niat baik Lillahi ta’ala akan menambah timbangan kebajikan bagi beliau.
Semoga almarhum Bapak Sugiharto memperoleh husnul khatimah, diampuni segala kekhilafannya dan diterima Allah SWT di tempat terbaik di surga yang kekal.
*Sesditjen Bimas Islam



