Cirebon, Bimas Islam --- Di tengah tekanan ekonomi global, kecemasan sosial yang meningkat, dan ruang digital yang memanas, penyuluh agama dituntut tidak hanya menjadi penyampai pesan-pesan keagamaan, tetapi juga penjaga ketahanan sosial bangsa. Karena itu, Kementerian Agama terus memperkuat kapasitas dan peran strategis penyuluh agama agar mampu hadir sebagai peneduh dan penguat harapan masyarakat.
Komitmen itu diwujudkan melalui Pembinaan Penyuluh Agama Islam yang diselenggarakan Direktorat Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI di Aula Kantor Kementerian Agama Kota Cirebon, Senin (25/5/2026). Kegiatan tersebut diikuti para penyuluh agama Islam dan lintas iman serta jajaran Kementerian Agama Kota Cirebon.
Hadir, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Cirebon Hj. Riana Anom Sari, Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam Direktorat Penerangan Agama Islam, Jamaluddin Markih, Kasubbag Tata Usaha Direktorat Penerangan Agama Islam, Kasubbag Tata Usaha Kemenag Kota Cirebon, Kasi Bimas Islam, para penyuluh agama lintas iman, dan sejumlah undangan lainnya.
Direktur Penerangan Agama Islam Muchlis M. Hanafi menegaskan bahwa penyuluh agama memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas dan ketahanan sosial masyarakat di tengah situasi global dan nasional yang penuh tantangan.
Menurut Muchlis, penyuluh agama tidak cukup hanya memahami teks-teks keagamaan (fiqh al-nushush), tetapi juga harus mampu membaca dan memahami realitas sosial masyarakat (fiqh al-waqi’). “Teks-teks keagamaan terbatas dan telah selesai proses turunnya, tetapi realitas masyarakat terus bergerak dan berubah. Karena itu, penyuluh agama harus mampu menjadi jembatan antara teks dan realitas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, masyarakat saat ini menghadapi berbagai tekanan yang tidak ringan. Situasi ekonomi yang belum stabil, meningkatnya kecemasan publik, memanasnya media sosial, hingga munculnya krisis kepercayaan sosial telah memengaruhi kondisi psikologis dan hubungan sosial masyarakat.
“Tidak sedikit masyarakat yang hari ini sedang menghadapi tekanan ekonomi, krisis mental, polarisasi sosial, bahkan distrust atau menurunnya rasa saling percaya di tengah kehidupan sosial,” katanya.
Karena itu, lanjut Muchlis, penyuluh agama dituntut mampu menghadirkan agama sebagai sumber ketenangan dan harapan. Penyuluh agama harus menjadi penguat optimisme masyarakat, memperkuat solidaritas sosial, sekaligus menghadirkan dakwah yang menyejukkan dan mempersatukan.
“Penyuluh agama harus hadir sebagai sahabat masyarakat. Bukan hanya menyampaikan ceramah, tetapi juga mendengar kegelisahan umat, menguatkan harapan, dan menghadirkan agama sebagai sumber ketenangan,” ungkapnya.
Muchlis juga mengingatkan bahwa dalam situasi sosial yang penuh tekanan, masyarakat membutuhkan narasi keagamaan yang menenangkan, bukan yang memperkeruh keadaan. “Dalam situasi sulit, masyarakat membutuhkan suara agama yang menenangkan, bukan menegangkan; menguatkan, bukan memecah-belah,” pungkasnya.
(Kemenag.go.id)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



