Jakarta, Bimas Islam— Joglo Wakaf di Mijen, Semarang, menjadi salah satu contoh penerapan wakaf produktif dalam Program Inkubasi Wakaf Produktif (IWP) Kementerian Agama. Kawasan ini berkembang dari lahan wakaf seluas hampir 6.000 meter persegi yang sebelumnya kurang dimanfaatkan karena berada tepat di bawah jaringan Sutet.
Pengembangan Joglo Wakaf disampaikan Nazir Yayasan Ziswaf Masjid Pelajar, Suharto, dalam Diskusi Tematik Bakohumas Kementerian Agama di Jakarta (18/11/2025). Suharto menjelaskan bahwa pengelolaan dilakukan melalui model Integrated Farming Zero Waste.
“Wakaf itu harus terjaga dan bermanfaat. Karena itu Joglo Wakaf kami kelola agar tetap lestari dengan menggabungkan nilai tradisi dan produktivitas,” ujar Suharto.
Sejak 2023, pengelola membangun fasilitas Joglo Wakaf, mengembangkan peternakan domba, serta menanam 10.000 bibit kopi untuk mendukung penyelamatan 10 hektar hutan di Kabupaten Batang. Limbah peternakan diolah menjadi kompos padat, kompos cair, dan pupuk berbasis bioteknologi.
Pada 2024, pembibitan pepaya, alpukat, mangga, dan lengkeng diperluas. Joglo Wakaf kemudian membangun greenhouse untuk budidaya melon, selada, dan pokcoy, serta mengembangkan sistem hidroponik agar lebih efisien.
Kawasan ini juga memberi dampak ekonomi bagi enam pengelola lahan yang mayoritas lulusan SMP dan SMA. Selain itu, terdapat program beasiswa bagi mahasiswa yang tinggal di kawasan Joglo Wakaf serta pembinaan sekolah digital untuk 12 anak yatim-duafa.
Di bidang sosial, Joglo Wakaf mendukung pembentukan Kelompok Wanita Tani “Tani Kita Jaya” di Wonolopo dan membina petani melalui Asosiasi Juragan Organik Semesta. Kawasan ini juga menjadi tempat praktik dan penelitian bagi pelajar hingga mahasiswa dari berbagai lembaga pendidikan.
Penerapan bioteknologi dilakukan untuk mengurangi polusi bau di peternakan ayam dan kolam lele sekitar Boja. Limbah dimanfaatkan sebagai kompos, sementara pengelolaan kolam diperbaiki untuk menekan dampak lingkungan.
Dengan pendampingan Program Inkubasi Wakaf Produktif, kapasitas produksi greenhouse meningkat. Selada diproduksi hingga 50 kilogram per hari, sedangkan pokcoy mencapai 150 kilogram per pekan. Produk-produk ini telah dipasarkan di sejumlah jaringan ritel, termasuk Superindo dan Istana Buah.
“Kami berharap pengelolaan Joglo Wakaf terus berkembang agar lebih banyak pihak yang menerima manfaatnya,” kata Suharto.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, mengapresiasi perkembangan Joglo Wakaf, terutama karena mampu menunjukkan model pengelolaan wakaf yang berorientasi pada kemanfaatan jangka panjang.
“Mas Suharto ini mengembangkan Inkubasi Wakaf Produktif. Ini stimulus yang luar biasa, menghadirkan layanan ekonomi umat di luar layanan keagamaan dan pendidikan. Harapan kami, model seperti ini bisa menjadi upaya optimal untuk menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan umat,” ujar Abu.
Abu Rokhmad berharap, keberhasilan ini dapat direplikasi pada pengelolaan wakaf lainnya di berbagai daerah. “Inisiatif-inisiatif seperti ini harus kita kerjakan bersama. Dengan pengelolaan zakat, infak, dan wakaf yang tercatat dan jelas, kita memiliki sumber pendanaan paten untuk menyejahterakan umat,” pungkas Abu Rokhmad.
Fn/Mr



