Tanjungpinang, bimasislam--Perawakannya kecil, pembawaannya ramah. Mudah akrab dengan orang yang baru dikenalnya. Namanya Ustad Muhammad Zaini (Penyuluh Agama Non PNS Kementerian Agama Tanjungpinang Kota). Dia adalah alumni Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir DDII Jakarta yang sejak awal ingin mendarmabaktikan hidupnya untuk jalan dakwah. Baginya, dakwah adalah panggilan hati yang terdalam. Ada dorongan yang kuat dalam dirinya untuk menyeru melalui jalan dakwah, bukan dari luar. Tiada hari tanpa dakwah. Itulah kira-kira filosofi hidupnya.
Untuk menunjang kariernya, saat Kementerian Agama membuka peluang dibutuhkannya Penyuluh Agama Non PNS, alumni pesantren di Bogor ini tidak menyia-nyiakannya untuk mendaftar sebagai peserta tes. Singkat cerita setelah mengikuti rangkaian tes tulis dan wawancara, akhirnya namanya tercantum dalam daftar peserta yang diterima sebagai Penyuluh Agama Non PNS.
Meski "mukafaah" (honorarium) yang diberikan pemerintah kepada penyuluh Non PNS tidak seberapa dibanding beban tugas yang diemban, dirinya tetap mantap menjalaninya dengan penuh tanggung jawab dan komitmen. Karena sebelumnya begitu lulus kuliah ustad Zaini mendatangi ke KUA-KUA menawarkan diri untuk membantu program-program keummatan.
Tidak sampai di situ. Dalam perjalanan berikutnya, ustad Zaini didapuk sebagai ketua Pokja Penyuluh Agama Non PNS Kementerian Agama Tanjungpinang Kota. Tentu keterpilihannya bukan karena faktor dekat dengan para pejabat di Kemenag, namun lebih karena kemahiran verbalnya dalam menyampaikan dakwah dan jangkauan wilayah binaan yang tidak sebatas Kecamatan Tanjung Pinang Timur. Meski amanah yang diembannya tidak ringan, namun ia menjalaninya dengan penuh ikhlas dan kesungguhan.
Sebagai juru penerang "resmi", Ustad Zaini mencoba berbagai metode dakwah agar lebih mengena dan dapat diterima oleh masyarakat. Beberapa obyek dakwah (mad'u) yang menjadi tanggungjawabnya, di antaranya jamaah masjid, kelompok Majelis Taklim, remaja masjid, hingga masyarakat nelayan yang bermukim di pinggir pantai (pesisir) Tanjung Duku.
Saat ditanya kendala dalam menjalankan dakwahnya, Ustad Zaini mengaku tidak banyak masalah yang berarti. Namun hal yang membuat dirinya harus berpikir keras adalah saat membina remaja tanggung yang memiliki berbagai masalah.
"Pembinaan remaja di sini sangat berat pak. Mereka seperti sudah terpengaruh oleh kehidupan kota seperti di Batam. Banyak anak-anak remaja yang suka nongkrong di tempat-tempat wisata, taman tepi pantai, di atas jembatan Dompak, khususnya pada malam hari. Apalagi saat di akhir pekan. Makanya saya membuat program khusus buat remaja dengan berbagai pendekatan dan mengadakan kegiatan pada malam Minggu, sehingga mereka dapat menghindari kumpul-kumpul yang tidak bermanfaat, seperti pacaran atau sekedar main gitar", ujarnya.
Untuk meningkatkan kapasitas remaja, pihaknya juga menyelenggarakan "tahsinut tilawah" dalam rangka meningkatkan kualitas bacaan kitab suci Alquran. Juga sering mengadakan pelatihan dasar untuk khatib dan imam bagi remaja. Menurutnya, program ini penting, setidaknya mereka mengetahui tentang prinsip-prinsip umum tentang khutbah dan imam shalat. Sehingga di masa mendatang bisa menjadi kader-kader muslim yang bisa menggantikan generasi setelahnya.
Binaan dakwah utama yang setiap hari dibimbing lulusan Madrasah Aliyah di Garut ini adalah pengajian bapak-bapak di 4 masjid di sekitar Tanjungpinang. Menurutnya, kelompok bapak-bapak berkumpulnya sulit, sehingga pada saat malam Jumat selesai membaca Yasin di masjid sekaligus pihaknya menyampaikan tafsir surat Yasin, agar mereka tidak hanya mampu membaca tetapi juga memahami makna di dalamnya.
Yang tidak kalah menarik adalah pembinaan Majelis Taklim ibu-ibu dengan memberdayakan ekonomi. Pola pemberdayaan ini dengan sistem pemberian modal usaha kepada para pedagang kecil yang modalnya didapat dari infaq para jemaah Majelis Taklim sendiri.
"Antuasisme jemaah pengajian Majelis Taklim cukup bagus untuk pemberdayaan ekonomi melalui program infaq yang kami lakukan. Jadi kami tidak bergantung pada pihak lain, tetapi dibiayai dari anggota sendiri", katanya.
Selain itu, obyek dakwah yang mendapat perhatiannya adalah masyarakat nelayan. Kelompok masyarakat ini tergolong sulit menerima pesan-pesan dakwah. Mereka sangat sibuk dengan pekerjaannya, seperti tidak sempat memikirkan tentang Tuhan karena kesibukannya mencari ikan di laut.
"Masyarakat nelayan di sini sangat sibuk bekerja cari ikan di laut. Susah sekali mengumpulkan mereka untuk dibina. Mereka lebih berorientasi pada kehidupan duniawi. Lalu kami merintis semacam pondok pesantren untuk masyarakat nelayan Tanjung Duku. Kami sudah beli rumah di sana, tapi entahlah apakah nanti bisa lanjut atau tidak karena pembayaran belum lunas dan konon akan dipinta kembali. Sebenarnya jika mereka peduli, bisa saja ada yang merelakan sebagian kekayaannya untuk kepentingan ini", imbuhnya.
Selain beberapa program di atas, ada inovasi yang dia lakukan untuk mempermudah penerimaan dakwahnya, yaitu melakukan pendekatan yang bisa menyentuh kehidupan masyarakat, yaitu dakwah melalui pengobatan ala Nabi atau dikenal dengan istilah "Thibbun Nabawi".
Menurutnya, di era modern seperti sekarang ini, masih banyak orang yang percaya pada takhayyul atau klenik untuk banyak keperluan. Tak terkecuali dalam urusan penyembuhan penyakit. Berapa banyak orang yang datang ke dukun, orang pintar, atau paranormal untuk pengobatan yang sebenarnya bisa disembuhkan dengan cara medis.
Apalagi pada masyarakat pesisir (kaum nelayan) yang dalam sejarahnya sangat kental dengan praktik-praktik seperti itu. Ditambah lagi kondisi ekonomi lemah dengan segala keterbatasannya. Jangankan untuk berobat ke dokter atau sekedar membeli obat di apotik, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja dirasa sangat berat. Lebih-lebih di tengah kondisi ekonomi yang lesu dengan harga barang-barang kebutuhan pokok yang terus melonjak.
Menurut pengertiannya, "Thibbun Nabawi" secara sederhana dapat dipahami sebagai cara pengobatan ala Nabi Muhammad, yaitu menggunakan terapi alami dan pendekatan spiritual sebagaimana diajarkan oleh Al-Quran dan Sunnah.
Jika ditelisik dari akar sejarahnya, istilah "Thibbun Nabawi" sebenarnya tak dikenal pada masa kerasulan. Penggunaan istilah tersebut baru familiar pada abad ke-13 oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Zaadul Ma'ad. Dalam bahasa Arab, "thibb" berasal dari thabba - yathubbu - thabban yang bermakna kemahiran, memperbaiki, mengobati.
Menurut Ibnul Qayyim, istilah "thibb" bermakna ilmu untuk mengetahui kondisi tubuh manusia dari aspek kesehatan, baik untuk memelihara kesehatan maupun mengobatinya. Metode pengobatannya tidak seperti pengobatan yang dilakukan dokter. Prinsip dari "Thibbun Nabawi" bersifat qath'i yang bersumber dari wahyu kenabian dan kesempurnaan akal. Sementara pengobatan lain secara umum hanya berlandaskan perkiraan, dugaan, dan percobaan.
Ibnul Qayyim juga mengatakan, bahwa kemanjuran metode "Thibbun Nabawi" akan dirasakan manfaatnya jika menerima dan meyakini Allah akan memberikan kesembuhan baginya. Sehingga, pengobatannya hanya cocok bagi jiwa yang baik sebagaimana pengobatan dengan Alquran yang tak cocok kecuali bagi jiwa yang baik dan hati yang hidup.
Beberapa jenis obat-obatan yang pernah dianjurkan Rasulullah di antaranya habatussauda atau jintan hitam, madu, minyak zaitun, kurma, air zam-zam, bawang putih, ismid, dan kam'ah.
Rasulullah juga mengajarkan pengobatan seperti bekam (hijamah), khitan, wudhu, dan gurah. Selain itu, ayat-ayat Alquran juga sering kali digunakan untuk pengobatan. Dikenal juga pengobatan dengan ruqyah.
Secara garis besar, Ibnul Qayyim membagi tiga jenis pengobatan nabi, yakni pengobatan dengan menggunakan obat-obatan alami (natural), pengobatan dengan menggunakan obat-obatan ilahiah (petunjuk ketuhanan), serta pengobatan dengan menggabungkan kedua unsur tersebut.
Pejelasan di atas menjadi inspirasi sekaligus pilihan metode dakwah Ustad Zain agar masyarakat (mad'u) yang menjadi obyek dakwah bisa menghindari praktik-praktik syirik atau khurafat melalui dukun atau paranormal.
Menurutnya, penggunaan metode ini sangat efektif karena pengobatan sangat terjangkau oleh ukuran kantong pasien, bahkan gratis selama menyangkut hal-hal yang dapat dilakukan sendiri. Selain itu, cara ini juga dengan mudah memberikan kesadaran masyarakat seiring dengan kebutuhan riil dan harga murah atau nol sama sekali.
Beberapa langkah yang dilakukan oleh Ustad Zaini adalah melakukan pelatihan-pelatihan terbatas kepada masyarakat bagaimana melakukan terapi mandiri saat sakit sesuai dengan petunjuk Rasulullah. Menurutnya, Rasulullah banyak mengajarkan kepada umatnya untuk hidup sehat, dan melakukan "self therapy" sesuai dengan keyakinan kita kepada Allah.
Menurut Ustad Zaini, banyak penyakit yang timbul akibat dari masalah psikis dan keyakinan yang tidak mantap. Sehingga Rasulullah mengajarkan berbagai terapi praktis saat seorang muslim terkena sakit, seperti pusing, stress, halusinasi, dan lain-lain.
Bukan sebatas itu, banyak masyarakat yang datang kepadanya di klinik pengobatan yang dia dirikan bernama "Bengkel Rohani", tidak sekedar berobat, tetapi juga konsultasi dalam banyak hal, seperti konflik rumah tangga, masalah-masalah hubungan dengan kekasih, masalah pekerjaan, termasuk ketergantungan pada Narkoba.
"Dengan pendekatan Thibbun Nabawi, masyarakat mudah untuk kita masuk dalam dakwah. Apa yang kami tawarkan memang benar-benar dibutuhkan, sehingga mudah untuk diarahkan, khususnya dari aspek akidahnya, dan juga akhlaknya. Mereka yang datang bukan hanya untuk kepentingan kesehatan fisik, tetapi juga mental-spiritual", jelasnya.
Pendekatan Thibbun Nabawi juga bisa mendekatkan umat kepada Alquran dan Hadits agar lebih digali dan dikaji terus. Alquran bisa dijadikan "syifa" atau obat bagi orang-orang yang mengimaninya. Sehingga pesan-pesan yang disampaikan mudah untuk dicerna oleh umat.
"Untuk mempraktikkan pendekatan Thibbun Nabawi, saya sering menjelaskan tentang keutamaan Alquran. Perlunya memahami ayat-ayat Allah yang bisa dijadikan sebagai syifa atau obat. Sehingga, dalam banyak kesempatan saya mengajak jemaah yang hadir dalam pengajian saya untuk melakukan ruqyah bersama agar tidak ada gangguan dari jin, dan bila ada yang memiliki jimat dan semacamnya bisa dibuang dan melurusnya keyakinan tauhidnya", urainya.
Ini merupakan potret Penyuluh Agama Non PNS yang berkontribusi nyata bagi pembangunan mental masyarakat. Diperlukan banyak cara dan inovasi agar dakwah bisa lebih tepat sasaran dan mudah dicerna, sehingga tujuan mulia untuk mengajak masyarakat agar lebih beriman dan bertakwa bemar-benar terwujud.
Selamat mengabdi ustad Zaini, semoga Allah selalu membimbingmu dan diberikan banyak kemudahan.
(thobib/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



