Semarang, bimasislam— Seorang jurnalis pasti punya potensi untuk tidak netral dan pandangannya dipengaruhi oleh sesuatu, meski demikian tidak lantas bisa menulis secara bebas. Jurnalis yang baik akan selalu menulis berita secara seimbang, melihat dari sisi yang pro dan yang kontra, harus cover both side terlebih jurnalis keagamaan. Setiap orang punya misi, begitu juga seorang jurnalis, mereka punya risalah, tugas suci yang harus diemban.
Hal itu disampaikan oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Machasin saat memberi arahan pada peserta Workshop Jurnalis Keagamaan yang diselenggarakan oleh Direktorat Penerangan Agama Islam, di Gedung Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Semarang Jawa Tengah, Senin (3/8) malam.
Menurut Machasin, setidaknya ada tiga misi yang harus diemban oleh seorang jurnalis. Misi pertama, agama harusnya menjadi berkah. “Maka misi pertama adalah menyampaikan hal-hal yang bisa menjadi berkah bagi kehidupan manusia”, jelasnya.
Kasus Tolikara, Machasin mencontohkan, pasca kejadian peran seorang jurnalis sangat penting di dalam pemberitaan, oleh karenanya perpektif yang dimiliki seorang jurnalis turut menentukan. “Kasus Tolikara misalnya, agama seharusnya tidak dijadikan alasan untuk memperkeruh suasana tetapi agama menjadi penyebab kerusuhan tidak menjadi lebih jauh”, ujar Guru Besar UIN Sunan Kalijaga ini.
Kedua, misi menjaga keutuhan masyarakat atau menjaga NKRI, dan ketiga, adanya framing, di mana setiap hal itu harus dibingkai, agama mestinya merangkul semua orang di dalam bingkai ke-Indonesiaan. “Kita menampilkan agama yang dibingkai dalam ke-indonesiaan agar semua orang yang beragama menjadi lebih baik. Tetapi dalam membuat bingkai harus sangat hati-hati”, jelas Machasin.
Jurnalis keagamaan, dia menambahkan, jangkauannya akan lebih luas daripada membuat pengajian yang mengundang banyak orang. “Jika kita menulis suatu berita atau artikel yang bermanfaat itu jangkauannya akan luas ketimbang membuat pengajian yang hanya bisa didengar beberapa orang, tapi ingat seorang jurnalis keagamaan jangan punya misi yang ngaco”, pungkasnya.
Selama tiga hari, 3 s.d 5 Agustus sebanyak 40 orang yang terdiri dari Penyuluh Agama Islam (PAI) dan tenaga teknis Publikasi Dakwah di Provinsi Jawa Tengah mengikuti workshop yang menghadirkan Praktisi media, Roby Soegara. (syam/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



