Oleh:
Insan Khoirul Qolbi*
Insan Khoirul Qolbi*
Presiden Jokowi dalam kunjungannya ke AS menyempatkan diri bertemu Elon Musk, pemilik pabrik Tesla, stasiun antariksa Space-X, dan Twitter. Sejak namanya dinobatkan oleh Bloomberg Billionaires Index, sebagai orang terkaya di jagat dunia, Elon Musk memang menjadi perhatian dan "gunjingan" dunia.
Tidak hanya soal kekayaannya yang berjumlah 197 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2.775 triliun. Namun keberadaan Elon Musk juga menjadi ancaman bagi perusahaan raksasa otomotif dunia yang masih berkutat dengan mengandalkan produksi mesin berbahan bakar minyak. Tesla sendiri merupakan pabrik otomotif yang memakai bahan bakar listrik.
Namun di luar dua isu di atas, hal menarik dari seorang Elon Mask adalah totalitasnya dalam berjuang membangun kerajaan bisnisnya. Ia menjadi sosok yang kontroversi dan melakukan banyak hal di luar kelaziman. Salah satu contoh adalah, tidak jarang ia kedapatan tidur di kantor dan tidak mandi beberapa hari.
Keseharian Elon Musk pun menarik perhatian banyak media di dunia untuk dilublikasi. Diberitakan bahwa Elon memulai harinya dengan bangun tidur jam 6 pagi yang (tanpa mandi) dilanjutkan dengan sarapan roti dan secangkir kopi. Setelah itu langsung tancap gas ke kantornya yang sudah ia agendakan ke perusahan mana terlebih dahulu dulu yang akan didatanginya. Sepanjang hari sampai malam ia akan berada di perusahaannya untuk mengawal dan mengawasi produksi secara langsung.
Ketika ditanya ketidaklaziman tersebut, ia menjelaskan, bahwa ia tidak cukup waktu untuk mendongkrak inovasi dan penjualan produk-produknya. Karena bagi Elon Musk, untuk memastikan pengembangan produk dan peningkatan layanan, ia harus hadir di tengah-tengah tim pekerjanya.
Perspektif Elon sangat berbeda dengan para memimpin perusahaan bisnis yang suka di belakang meja dan berkutat pada kerja-kerja rapat dan presentasi. Baginya, cara seperti itu bukanlah cara yang produktif dan efektif. Sehingga dalam suatu waktu Elon Musk pernah mengkritik para bos-bos perusahaan besar di AS yang sibuk bekerja di belakang meja dan hanya mengandalkan rapat dan rapat.
Ini kemunduran. Begitu kata Elon Musk. Baginya perusahan bisnis tidak hanya fokus pada angka-angka, namun juga yang lebih utama adalah peningkatan kualitas produk dan peningkatan pelayanan. Untuk melakukan dua hal ini, seorang pebisnis harus turun ke lapangan.
Bahkan ia mengkritik perusahaan-perusahan di Amerika yang banyak diisi lulusan sarjana dan bergelar MBA. Baginya, Banyaknya CEO perusahaan yang bergelar MBA (Magister Business Administration), tidaklah bagus. Ia mengkhawatirkan para CEO lulusan sekolah bisnis itu hanya melihat angka demi angka dan kehilangan misi untuk membuat produk atau layanan yang hebat.
"Masalah terbesar bagi perusahaan AS adalah terlalu banyak MBA di perusahaan terkemuka," jelasnya.
Maka tidak heran, jika pria berusia 49 tahun ini, mengambil tenaga kerja, tidak mensyaratkan seorang sarjana. Baginya tidak terlalu penting sarjana dalam mengelola bisnis. Sebab banyak pendahulunya yang sukses, juga bukanlah seorang sarjana. Elon Musk mencontohkan kesuksesan pendiri Microsoft, Bill Gates, dan pendiri Apple, Steve Jobs, yang sama-sama tidak lulus kuliah namun bisa mengelola perusahaan teknologi dunia.
"Saya pikir kampus pada dasarnya adalah untuk bersenang-senang dan untuk membuktikan bahwa Anda bisa menyelesaikan pekerjaan rumah, tapi bukan untuk belajar," tegas Elon Musk.
Apa yang dipikir dan dilakukan oleh Elon Musk tentu saja tidak populer. Tapi cara itu telah membuat garis tangannya mampu menggantikan posisi Bill Gates sebagai orang terkaya di dunia.
Barangkali, konsep bekerja ala Elon Musk layak ditiru jika ingin berproduksi secara kuantitas dan kualitas sekaligus. Sosok yang tidak pernah berada di jejeran orang-orang terkaya versi Forbes, melalui konsep jihad dan totalitas bekerjanya itu, mengubah segalanya.
Salah satu poin yang bisa ditangkap dari cerita ini adalah, selain jihad membutuhkan pikiran dan ide-ide inovatif terhadap produk dan layanan, jihad membutuhkan waktu dan energi yang bersifat total. Kebiasaan Elon Musk tidur di kantor, bahkan tidak mandi beberapa hari, menunjukkan totalitas seorang CEO otomotif listrik terbesar di dunia ini.
Namun, bukan berarti kita harus menjiplak utuh apa yang dilakukan oleh Elon Musk. Paling tidak, spirit juangnya dalam melakukan totalitas dan bersifat praktis perlu dijadikan budaya di kalangan warga bangsa jika ingin bangkit dari ketertinggalan dan keterpurukan.
ASN kita juga tidak salah jika ingin mencontoh konsep bekerja ala Elon Musk. Apalagi jika menilik rencana pemerintah RI yang ke depan akan mengandaikan skill, keahlian dan talenta (tanpa melihat pendidikan) dalam menilai kompetensi seorang aparatur. Selamat mencoba!
*Analis Kebijakan Ahli Muda Seksi Bina Kepenghuluan Wilayah I Ditjen Bimas Islam



