Jepara, bimasislam— Letaknya tidak lazim, berada di tengah hutan, dikelilingi pepohonan langka. Tidak ada satupun rumah yang berdiri di sekitar bangunan 5 kali 10 meter persegi itu. Kira-kira 150 meter memang ada warung makan, itupun hanya buka siang hari. Saat malam hari bangunan ini pun sepi, hanya seorang marbot ditemani lentera kecil yang setia mengeluarkan cahaya sepanjang malam. Sesekali ada orang singgah, untuk menunaikan shalat atau sekedar merebahkan badan karena capek diperjalanan. Unik, mungkin ini satu satunya di dunia, mushalla dibangun di tengah hutan.
Pekan lalu, (6/1) reporter bimasislam mendapati mushalla yang diberi nama Sabilillah, berdiri 21 Tahun silam, tepatnya pada tanggal 1 Januari-1995. Berjarak sekitar 30 km dari Kota Jepara, kurang lebih 4 km dari Kecamatan Kembang, dan 2 km dari permukiman warga, Desa Cepogo. Kendati jauh dari perkampungan, mushalla ini memiliki peran dan sejarah panjang. Kala itu, tahun 1995, saat jembatan yang menghubungkan jalan raya Jepara-Pati direnovasi, banyak pekerja dan tukang ojek yang singgah di lokasi yang popular disebut Sebagor ini, sebuah pertigaan yang menandai pintu masuk desa Cepogo, desa yang dipisahkan oleh hutan dengan desa lainnya.
Sejak awal pembangunan, mushalla ini mendapat dukungan dari masyarakat luas, diantaranya dari masyarakat Desa Cepogo dan para pengguna jalan. Tidak hanya itu, pemerintah melalui Kementerian Agama setempat pun turut andil dalam menyediakan rumah ibadah ini. “Saat pembangunan, sumber dananya sumbangan dari masyarakat Cepogo, dari bantuan pengguna jalan yang melintas di Sebagor dan Bantuan Depag (Kementerian Agama-red) periode Pak Madhan Anis”, ungkap Ahmad Mustain, tokoh Agama setempatkepada bimasislam.
Hampir 99% warga yang hilir mudik dilokasi ini adalah muslim, oleh karena nya didirikan mushalla sederhana plus sumur untuk mengambil air wudhu. Meski kecil, mushalla ini tidak pernah absen dari kegiatan shalat lima waktu. Keberadaanya yang menonjol dipinggir jalan menjadikan mudah dikenal dan dijadikan penanda, sebut saja mushalla sebagor, pasti orang tahu, begitu populernya.
Selain para tukang ojek, anak pulang sekolah yang sedang menunggu jemputan, para pedagang dan musafir adalah orang yang memakmurkan mushalla klasik ini. Hingga kini, mushalla Sabilillah masih berdiri kokoh. Mengingat mushalla ini menjadi tempat ibadah alternatif bagi orang yang sedang melakukan perjalanan, keberadaannya membutuhkan perhatian khusus.
Kricik, Marbot Legendaris dari Keling
Berada di tengah hutan, syarat dengan cerita mistis, siapa yang berani menjadi marbot Musholla Sabilillah? Adalah seorang seorang alim yang bernama Kricik. Keikhlasannya telah mengantarkan dirinya sebagai satu-satunya marbot yang bersedia merawat dan memakmurkan mushalla Sabilillah dari awal hingga kini.
LekKricik Keling, begitu masyarakat terbiasa memanggilnya adalah seorang wiraswasta, usahanya serabutan sembari membuka warung makan. Jelas bukan urusan dunia yang dia kejar, melainkan hidup dalam keberkahan dan memberi manfaat bagi yang lain. Sehari-hari Kricik dengan tulus menjaga rumah Allah ini, tanpa digaji, bahkan tak peduli walaupun sekedar pujian.
Potret musholla Sabilillah seolah menggambarkan bahwa tempat ibadah niscaya dibutuhkan masyarakat, tidak terkecuali di dalam hutan sekalipun. Keikhlasan marbot seperti Kricik menandakan bahwa didunia ini masih banyak orang iklhas dan peduli, dia tidak mengejar materi karena niatnya yang suci.
(Syamsuddin/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



