Depok, Bimas Islam — Universitas Indonesia (UI) menyatakan kesiapannya menjadi pusat gagasan ekoteologi Islam sekaligus ruang penguatan moderasi beragama. Hal ini disampaikan Wakil Rektor Bidang Infrastruktur dan Fasilitas UI, Agus Setiawan, saat memberikan sambutan pada kegiatan Bincang Syariah Goes to Campus di Masjid UI, Depok, Senin (29/9/2025).
Menurut Agus, agenda yang diinisiasi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama ini sejalan dengan visi besar UI, yaitu menjadi kampus yang unggul dan berdampak (impactful). “Unggul dan impactful tidak hanya bagi sivitas akademika, tapi juga masyarakat luas, bahkan di tingkat internasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam konteks tema acara bertajuk Blissful Maulid: Membumikan Sholawat, Merawat Jagad, Syariah and Eco-Wisdom, UI merasa relevan untuk menghubungkan tradisi keagamaan dengan isu-isu keberlanjutan. “Kami yakin pesan agama, khususnya Islam, sangat dekat dengan nilai-nilai pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan,” kata Agus.
Agus juga menggarisbawahi bahwa visi UI yang menekankan pada keberlanjutan selaras dengan agenda pembangunan global melalui Sustainable Development Goals (SDGs). Menurutnya, penguatan eco-wisdom berbasis Islam dapat menjadi kontribusi nyata UI dalam mendukung pencapaian SDGs, khususnya pada pilar lingkungan dan perdamaian.
“Islam tidak berhenti pada ritual ibadah semata, tetapi hadir dalam dimensi kebudayaan, peradaban, dan keberlanjutan hidup manusia. Karena itu, gagasan ekoteologi Islam perlu terus dikembangkan di ruang-ruang akademik seperti UI,” jelas Agus.
Selain itu, UI juga melihat kegiatan keagamaan di kampus dapat memberi dampak sosial yang luas. Agus mencontohkan, keberadaan Masjid UI yang selama ini dikenal dengan berbagai nama dan singkatan, kini diharapkan dapat menguatkan peran sebagai pusat syiar sekaligus laboratorium sosial. “Semoga dari masjid ini, pesan Islam tentang merawat jagad bisa menginspirasi dunia,” tambahnya.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Ditjen Bimas Islam Kemenag yang telah memilih UI sebagai titik ketiga pelaksanaan Bincang Syariah Goes to Campus. Sebelumnya, kegiatan serupa digelar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Alauddin Makassar. “Kami merasa terhormat UI ditempatkan dalam jejaring strategis bersama perguruan tinggi Islam untuk menguatkan diskursus ekoteologi,” katanya.
Lebih jauh, Agus berharap kolaborasi UI dengan Kementerian Agama tidak berhenti pada momentum maulid ini. Ia menekankan perlunya sinergi berkelanjutan dalam bidang pendidikan, riset, maupun pengabdian masyarakat yang memadukan ilmu pengetahuan dengan nilai keagamaan.
“UI sebagai universitas riset bisa memberikan dukungan data dan kajian, sementara Kementerian Agama bisa menguatkan dimensi keagamaan dan jaringan sosialnya. Kombinasi ini akan memberi dampak lebih luas,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Agus juga menyinggung pentingnya peran mahasiswa dan generasi muda. Menurutnya, mereka harus didorong menjadi agen perubahan yang membawa semangat Islam ramah lingkungan. “Isu moderasi beragama dan kepedulian ekologi bisa berjalan beriringan, apalagi jika dimulai dari kampus,” ucapnya.
Agus menutup sambutannya dengan optimisme bahwa UI siap menjadi mitra strategis Kementerian Agama. “Kami ingin UI bukan hanya dikenal sebagai pusat keilmuan, tetapi juga pusat gagasan ekoteologi Islam dan penguatan moderasi beragama. Dari sini kita bersama-sama membumikan sholawat, merawat jagad, dan merawat peradaban,” ujarnya.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, menyambut baik komitmen Universitas Indonesia untuk menjadi pusat gagasan ekoteologi Islam. Menurutnya, penguatan perspektif ekoteologi merupakan bagian dari layanan keagamaan berdampak yang kini menjadi fokus Kementerian Agama. “Agama harus menghadirkan solusi atas problem nyata umat, termasuk isu lingkungan hidup dan keberlanjutan,” ujarnya.
Arsad menegaskan, tradisi keagamaan dalam Islam memiliki pijakan kuat pada kepedulian lingkungan. Ia mencontohkan ajaran tentang larangan berlebihan dalam menggunakan air, anjuran menanam pohon, hingga pesan menjaga keseimbangan alam. “Semua itu dapat diturunkan dalam bentuk program akademik, dakwah, maupun aksi sosial yang berorientasi pada eco-wisdom,” jelasnya.
Lebih jauh, Arsad menyampaikan bahwa kolaborasi Kementerian Agama dengan perguruan tinggi seperti UI akan memperluas ruang dialog ekoteologi Islam. Ia berharap kegiatan Bincang Syariah Goes to Campus dapat memperkuat literasi keagamaan sekaligus memperkaya riset dan inovasi berbasis nilai Islam. “Inilah wujud nyata moderasi beragama yang tidak hanya berbicara toleransi, tetapi juga keberlanjutan peradaban manusia dan alam semesta,” pungkasnya.
An/Mr



