Jakarta, bimasislam— Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) bekerjasama dengan Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada tanggal 3-7 Maret 2014 menyelenggarakan Workshop Nasional Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan”. Acara ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan, serta meningkatkan kapasitas kalangan kampus dan mengkonsolidasi jaringan kampus dalam proses advokasi kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia.
Sebagai pembuka acara, Panitia menghadirkan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar untuk memberikan keynote speech. Dalam orasinya Nasaruddin menegaskan, “Indonesia lebih maju dalam toleransi beragama dibandingkan negara-negara tetangga”. Bangsa kita, tuturnya di hadapan 40 orang mahasiswa/i kampus berbagai agama dari Jakarta, Banten, dan Bandung, sudah sejak lama mendapatkan pencerahan teologi yang cenderung rasional dan terbuka seperti yang diusung oleh Harun Nasution. Begitu pula dalam bidang fiqh, kaum muslimin Indonesia sudah lama diperkenalkan empat mazhab pemikiran oleh para kyai di Pesantren maupun tokoh-tokoh agama di masyarakat.
Di samping itu, lanjut Wamen, Islam sebagai ajaran sesungguhnya mengandung makna nilai-nilai dan norma. Karenanya, dalam ruang pertemuan di Paramadina Graduate School, Energy Tower Lantai 22 SCBD, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 52-53 Jakarta Selatan ini, Mantan Dirjen Bimas Islam ini mengingatkan bahwa walaupun Islam merupakan agama mayoritas tetap menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma kehidupan beragama dan berkeyakinan di Indonesia. Rasulullah saja, imbuhnya, sangat menoleransi dan memberikan kesempatan tokoh agama lain untuk menjalankan ibadah saat pertemuan bersama di rumahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Budhy Munawar Rachman sebagai moderator menjelaskan bahwa acara ini merupakan upaya partisipasi kalangan akademis dalam membangun kerukunan umat beragama di masyarakat. Karena itu, peserta acara ini diikuti juga oleh mahasiswa/i dari agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha, selain Islam, katanya beralasan. Dan, keberadaan Wamen sebagai pembicara pembuka memiliki makna strategis karena wewenangnya di bidang kerukunan umat beragama, ungkapnya di akhir pengantar. (edijun/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



