Batam, bimasislam-- “Jangan sampai umat Islam menjadi penonton di rumah sendiri”, demikian sentil Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar saat memberikan arahan sekaligus menutup kegiatan Penguatan Jejaring dan Kerjasaman Pengelolaan Zakat di Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2014 hari Rabu (2/10) malam kemarin. Sentilan Wamen tersebut muncul saat mencermati betapa kue pembangunan bangsa kita lebih banyak dikuasai oleh para masyarakat non-muslim. Simpul-simpul kekuatan ekonomi berada di tangan mereka, sedangkan umat Islam menempati sektor-sektor ekonomi bawah. Kita mayoritas menjadi konsumen, sedikit yang menjadi produsen. Umat Islam hanya menjadi penonton atas pembangunan bangsa ini.
Realitas tersebut, menurut Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Jakarta ini, yang sejatinya menjadi motivasi pemberdayaan potensi zakat secara maksimal ke depan. Zakat harus menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan untuk meningkatkan kemampuan ekonomi umat Islam. Kita semua yang terlibat dalam pemberdayaan dan pengelolaan zakat harus menjadi “pejuang umat” dengan terus memaksimalkan potensi zakat yang ada, agar pada saatnya pembayar zakat (Muzakki) lebih banyak daripada para penerimanya (Mustahiq), ungkapnya.
Dalam kaitan ini, jelas Nasar, Batam memiliki posisi strategis untuk penguatan jejaring dan kerjasama pengelolaan zakat setidaknya dengan mempertimbangkan 3 (tiga) hal: Pertama, Kepulauan Riau (Kepri) merupakan provinsi potensial secara ekonomi di tingkat nasional. Dilihat menurut produk domestik regional bruto (PDRB) per-kapitanya di BPS, Kepulauan Riau menempati peringkat ke-4 tertinggi secara nasional. Kedua, Baznas Kepri mendapat predikat sebagai Baznas Percontohan dari Kementerian Agama Pusat. Ketiga, Kepri memiliki posisi strategis sebagai wilayah penyanggah yang langsung bersentuhan dengan negeri tetangga, terutama Singapura.
Seakan menguatkan pandangan Wamen, Direktur Pemberdayaan Zakat Jaja Jaelani juga mengakui implementasi UU No. 23 tahun 2011 dan PP No. 14 tahun 2014 tentang Pengelolaan Zakat masih mengalami berbagai kendala di lapangan, bukan hanya pada tingkat pengumpulannya tetapi juga dalam hal pemanfaatan dan pendistribusiannya secara efektif dan tepat sasaran. Ini semua memerlukan perjuangan kita semua, ingatnya. Nah, pelaksanaan kegiatan ini di Kepri merupakan langkah strategis agar wilayah ini bisa menjadi pionir pemberdayaan zakat terbaik ke depan, imbuh Mantan Kepala Kemenag Kota Bekasi ini.
Kegiatan yang diadakan di Hotel Golden View Bengkong Laut, Kota Batam ini diikuti oleh 40 orang peserta yang terdiri dari unsur Kanwil Kemenag Provinsi Kepri, Utusan semua Kemenag se-Provinsi Kepri, Baznas Provinsi Kepri, Baznas Kabupaten/Kota se-Kepri, serta Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) se-Provinsi Kepri. Acara dimulai tanggal 30 September dan berakhir 2 Oktober 2014, dengan beberapa Narasumber dari Kemenag Pusat juga Provinsi Kepri. (edijun/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



