Jakarta, bimasislam--Kementerian Agama hari Rabu (24/9) kemarin mengadakan Sidang Itsbat untuk memutuskan Awal Dzulhijjah 1435 H. Acara yang mengundang beberapa Pimpinan Ormas, pakar-pakar Ilmu Falak dan Ahli Astronomi, juga semua Eselon 1 dan 2 Kementerian Agama Pusat ini dilaksanakan di Auditorium HM. Rasjidi Kementerian Agama Jalan MH. Thamrin Jakarta Pusat.
Dalam Sidang yang dimulai jam 17.00 Wib itu, memang tampak adanya perbedaan pandangan soal penentuan Awal Dzulhijjah. Bahkan, menurut Kapala Seksi Hisab Ru’yat Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Ditjen Bimas Islam, Ismail Fahmi, indikasi perbedaan penentuan Awal Dzulhijjah ini sebenarnya sudah terendus sejak beberapa hari sebelumnya. Kondisi ini sempat mengkhawatirkan beberapa pihak akan terjadi perdebatan yang serius dalam Sidang itsbat kemarin.
Tidak kurang seorang Wakil Menteri Agama, Nasaruddin Umar, pun tampak tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran tersebut. Ketika memimpin Sidang Itsbat mewakili Menteri Agama kemarin, Nasaruddin terlihat begitu hati-hati saat akan mengetuk palu dalam mengambil keputusan Awal Dzulhijjah di hadapan puluhan peserta. Mantan Dirjen Bimas Islam ini mewanti-wanti seluruh peserta yang hadir agar berfikir jernih dan berbesar hati menerima keputusan apapun yang akan diambil dalam Sidang Itsbat tersebut, bahkan mengingatkan untuk menjunjung tinggi prinsip kedamaian dan memberikan contoh baik seselesainya acara. “Saya ingin kita semua menjunjung tinggi kedamaian dan memberikan contoh baik kepada masyarakat setelah keluar dari ruangan ini”, ingatnya penuh serius sebelum mengetukkan palu tanda akhir keputusan Sidang Itsbat.
Melihat kenyataan tersebut, jelas Wamenag, dengan beberapa masukan dan pertimbangan dari para peserta, terutama dari Wahdah Islamiyah, DDII, Muhammadiyah dan Thomas Jamaluddin Malik (Pakar Astronomi) yang memberikan pendapat saat Sidang Itsbat, Kemenag berinisiasi membentuk Tim Khusus yang akan membuat Standar Penentuan Hisab dan Ru’yat. Dengan standar yang disepakati tersebut, kita berharap ada keseragaman pelaksanaan Awal Ramadhan, ‘Idul Fithri, dan ‘Idul Adha, ujarnya.
Seperti sudah diinformasikan, walaupun tidak bisa dihindari ada perbedaan pandangan dalam penentuan Awal Dzulhijjah, Pemerintah akhirnya tetap memutuskan bahwa tanggal 01 Dzulhijjah 1435 Hijriah. jatuh pada hari Kamis bertepatan dengan tanggal 26 Oktober 2014 Masehi. Dengan demikian, Hari Raya ‘Idul Adha (10 Dzulhijjah) jatuh pada hari Ahad, 05 Oktober 2014. Salah satu alasan utama penentuan tanggal tersebut adalah hasil penglihatan Hilal di hampir semua provinsi pada hari Rabu (24/9) kemarin yang mengindikasikan tidak terlihatnya Hilal, karena posisinya masih dalam kisaran -0,5 (minus setengah derajat) sampai +0,5 (plus setengah derajat). (edijun/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



