Jakarta, Bimas Islam — Wakil Menteri Agama, Romo H. R. Muhammad Syafii, mengungkapkan bahwa majelis taklim memiliki posisi strategis sebagai tulang punggung penguatan moderasi beragama di Indonesia. Penegasan tersebut ia sampaikan saat menutup Festival Majelis Taklim 2025 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (26/11/2025).
Menurut Wamenag, keberagaman budaya, suku, etnis, hingga agama yang dimiliki Indonesia merupakan anugerah yang harus dirawat melalui ruang-ruang pembelajaran keagamaan yang inklusif dan membangun. Majelis taklim, katanya, telah menjadi wadah yang konsisten menghadirkan ekspresi keberagamaan yang damai serta memperkuat persaudaraan. “Banyak praktik keagamaan di Indonesia yang tidak dijumpai di negara lain. Namun di sini, kegiatan seperti halal bihalal, maulid, dan berbagai peringatan keagamaan justru menjadi perekat kebersamaan,” ujarnya.
Ia memandang majelis taklim sebagai ruang aman bagi masyarakat, terutama ibu-ibu, untuk belajar, berdialog, dan memperluas wawasan keagamaan secara hangat. Selain memperkaya ilmu, majelis taklim dinilai memperkuat ikatan sosial antarjemaah. “Majelis taklim itu bukan hanya tempat menerima materi keislaman, tetapi juga tempat seseorang mengaktualisasikan passion-nya. Ada yang membawa kerajinan tangan, ada yang berkonsultasi persoalan rumah tangga, dan semua itu memperkuat solidaritas sosial,” ungkapnya.
Ia juga membagikan pengalamannya yang sangat dekat dengan majelis taklim. Ia bercerita bahwa ibundanya aktif mengajar kasidah, marhaban, dan membaca Al-Qur’an hingga usia senja. “Pendukung saya selama puluhan tahun berkiprah di dunia publik adalah majelis taklim. Mereka yang mendoakan dan mendampingi saya,” katanya.
Dalam pandangannya, kekuatan majelis taklim lahir dari keikhlasan, kepercayaan, dan kedekatan emosional antara jemaah dan para pembinanya. Karena itu, keberadaannya tumbuh secara natural dan diterima luas oleh masyarakat. “Majelis taklim diterima di hati masyarakat. Ia tumbuh bukan karena mobilisasi, tetapi karena kebutuhan dan manfaat nyata yang dirasakan jamaah,” tegasnya.
Wamenag mengapresiasi kiprah Pokja Majelis Taklim yang dua tahun terakhir telah membangun ekosistem pembinaan secara lebih terstruktur, termasuk melalui penyelenggaraan Festival Majelis Taklim 2025. Ia menilai festival ini berhasil meningkatkan kualitas literasi, kreativitas, dan jejaring antarjemaah. “Kami sangat mengapresiasi semangat dan karya seluruh peserta. Kegiatan ini memperlihatkan betapa kuatnya energi positif yang dimiliki majelis taklim,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyebut kehadiran majelis taklim yang kuat, moderat, dan teduh merupakan modal sosial besar bagi bangsa. Menurutnya, ketika warga majelis taklim berinteraksi dengan masyarakat lintas agama, mereka membawa nilai persaudaraan dan keteduhan. “Di situ letak pentingnya majelis taklim sebagai kekuatan moderasi beragama. Ia membentuk pribadi-pribadi yang ramah, peduli, dan terbuka,” tutur Wamenag.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pengajar, dan seluruh jemaah yang terus menjaga ketulusan dalam menghidupkan kegiatan keagamaan. Ia menyebut konsistensi para penggerak majelis taklim sebagai pilar penting ketahanan keluarga dan ketahanan umat. “Majelis taklim telah menjadi ruang yang memelihara akhlak, ilmu, dan kepekaan sosial yang sangat dibutuhkan masyarakat,” katanya.
Selain itu, ia mengapresiasi langkah Ditjen Bimas Islam dalam penguatan ekosistem majelis taklim, mulai dari pendampingan, fasilitasi kegiatan, hingga penyusunan kebijakan yang berpihak pada pemberdayaan jamaah. “Kemenag berkomitmen untuk terus mendampingi majelis taklim agar tetap menjadi ruang yang produktif dan bermanfaat bagi umat,” imbuhnya.
Menutup sambutannya, Wamenag mengajak seluruh pihak untuk terus merawat harmoni dan memperkuat moderasi beragama melalui kegiatan majelis taklim. “Mari kita rawat harmoni, teguhkan moderasi, dan jadikan majelis taklim sebagai ruang yang menumbuhkan kecintaan terhadap agama sekaligus menjaga persatuan bangsa,” pungkasnya.
An/Mr



