Tangerang:bimasislam-- Kegiatan Musabaqah Baca Kitab dan Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional secara resmi ditutup oleh Wakil Menteri Agama (19/6). Kegiatan yang digelar selama 3 (tiga hari) (17 s.d 19 Juni 2014) di Hotel Aryaduta, Karawaci, Tangerang Banten ini dihadiri oleh para peserta dari 33 provinsi seluruh Indonesia, dewan hakim dan para pejabat dilingkungan Direktorat Jenderal Bimas Islam.
Dalam arahannya, Wakil Menteri Agama mengatakan bahwa ayat yang pertama Allahturunkan Iqra' (Bacalah!). Mengapa ayat pertama ini langsung kalimat perintah (fi'il amr), kenapa dengan iqra', padahal Nabi sendiri buta huruf, dan kenapa ada amr tanpa maf'ul (obyek yang harus dibaca). iqra' menjadishock terapiuntuk menyentakkan orang agar meninggalkan zaman jahiliyah ke zaman pencerahan dengan menawarkan konsep iqra' bi ismi Rabbik (Bacalah dengan nama Tuhanmu). Ini maknanya sangat dalam. Iqra' adalah simbol ilmu pengetahuan dan bi ismi Rabbik sebagai simbol agama. Ini mengisyaratkan sebuah road map ideal. Ilmu dan agama harus terintegrasi. Tidak boleh ilmunya dominant tetapi agamanya tenggelam. Iqra' tanpa bi ismi Rabbik bisa menjadi malapetaka kemanusiaan. Demikian pula sebaliknya. Jelas Guru Besar UIN Syarif Hiadayatullah Jakarta ini.
“Oleh karena itu, saya menekankan perlunya membaca dan menggali sumber-sumber khazanah Islam yang ditulis dengan bahasa arab. Penguasaan ilmu alat seperti nahwu dan shorof dapat memberikan hasil pemahaman dan penafsiran yang benar, karena diiringi dengan bi ismi rabbik. Akhir-akhir ini disinyalir banyak pemahaman salah yang berkembang menyatakan bahwa memahami Islam cukup dari terjemahannya saja sehingga tak heran banyak penafsiran dan pemahaman yang keliru.” Ujar Mantan Direktur Jenderal Bimas Islam.
“Oleh karena itu, Penghulu Profesional harus mampu membaca dan menerjemahkan hukum-hukum yang terkait dengan masalah Perkawinan dari sumbernya langsung dan kemudian menuangkannya dalam sebuah karya tulis ilmiah yang dapat diakses dan dibaca oleh semua orang. Nah, Karya Tulis Ilmiah bagi penghulu ini merupakan bukti bahwa penghulu mampu menulis sebuah karya ilmiah ditengah-tengah kesibukkannya dalam melayani umat dibidang perkawinan.” Tegas Rektor PTIQ Jakarta ini. (JML/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



