Oleh:
Halimatus Sa’diyah, S. I. Kom., M. Sos*
Halimatus Sa’diyah, S. I. Kom., M. Sos*
Allah tidak menciptakan kita untuk hidup dalam penderitaan mental yang berkepanjangan. Kita diciptakan untuk menjadi hamba yang dimuliakan, bukan untuk terus-menerus menjadi korban manipulasi dan kekerasan emosional. Sebab itu, ketika kita berhadapan dengan seseorang yang memiliki kecenderungan Narsistic Personality Disorder (NPD)—gangguan kepribadian narsistik—kita perlu bersikap waspada, cerdas, dan spiritual.
Apa itu NPD menurut pandangan akhlak dan ruhaniyah Islam?
NPD bukan sekadar penyakit kejiwaan modern. Dalam kacamata Islam, ia adalah bentuk kerusakan jiwa (fasadun fi an-nafs) yang sangat membahayakan orang lain. Seseorang dengan NPD memiliki rasa bangga diri yang melampaui batas, kebutuhan untuk selalu ingin dikagumi, tidak mampu menerima kritik, sering menyalahkan orang lain untuk menutupi kesalahan sendiri, dan kurangnya empati terhadap orang lain.
Dalam kehidupan rumah tangga, penderita NPD sering kali menjadi sumber penderitaan pasangan dan anak-anaknya. Bahkan pasangan dengan NPD sering kali menunjukkan perilaku manipulatif, kontrol berlebihan, serta merendahkan pasangan mereka untuk mempertahankan superioritas. Allah berfirman:
> “لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ”
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat seberat biji zarrah dari kesombongan.” (HR. Muslim)
Dampak Memiliki Pasangan NPD dalam Rumah Tangga
Berpasangan dengan NPD kerap membuat rumah tangga menjadi neraka sunyi. Mereka tidak mau minta maaf, tidak bisa introspeksi, dan sangat mahir membalikkan kesalahan. Dalam istilah psikologi, ini disebut gaslighting—membuat pasangan merasa bersalah padahal tidak. Korban bisa kehilangan jati diri, kepercayaan diri, bahkan merasa tidak layak dicintai hingga isolasi sosial.
Pasangan dengan diagnosa NPD sering kali menunjukkan perilaku manipulatif dan kurangnya empati, yang dapat menyebabkan stres dan kecemasan bagi pasangannya. Seperti dalam isu kasus perceraian aktris Veve Zulfikar yang mengungkapkan bahwa korban narsistik biasanya adalah individu yang kuat, tetapi menjadi lemah akibat kontrol dan manipulasi dari pasangan mereka.
Hubungan dengan individu narsistik dapat menyebabkan perasaan terasing dan kesepian. Pasangan sering kali merasa tidak didengar dan diabaikan, yang berdampak pada kesehatan mental mereka.
Perubahan sikap yang tiba-tiba dari pasangan narsistik dapat menciptakan ketidakpastian dan kebingungan dalam hubungan. Hal ini dapat membuat pasangan merasa tidak aman dan meragukan diri mereka sendiri. Bahkan tidak jarang korban NPD tidak mendapatkan hak-haknya sebagai pasangan sebagaimana dalam syariat Islam yakni Al-Qur’an dan Hadits. Pasangan NPD kerap kali menganggap beban terkait pemberian nafkah, tidak ada tanggung jawab terhadap anak-istri, menyelesaikan masalah dengan silent treatment tanpa kejelasan, hingga emosi yang tidak terkontrol dan parahnya mengarah ke KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga).
Kerusakan hubungan dengan pengidap NPD dapat menyebabkan kerusakan serius seperti perceraian. Dalam Islam, hubungan suami-istri dibangun atas sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang). Allah berfirman:
> “الظلمُ ظُلُماتٌ يومَ القيامةِ”
“Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika kita membiarkan diri terus berada dalam tekanan pasangan NPD, dan ikut larut dalam kezaliman itu, kita juga turut terjebak dalam lingkaran gelap yang Allah murkai.
---
Menjadi Mandiri dan Menjaga Kesehatan Mental
Islam sangat menganjurkan kemandirian dan kekuatan jiwa. Tidak bergantung secara total kepada manusia, terlebih kepada pasangan yang merusak mental kita. Allah-lah tempat kita bergantung seutuhnya:
> إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍۢ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Semoga tulisan ini menjadi cermin yang jernih dan pemandu yang terang bagi siapa pun yang saat ini sedang bertanya-tanya: bertahan atau pergi? Menikah tanpa pemahaman yang cukup tentang dinamika hubungan dapat berujung pada masalah serius. Adanya kesiapan emosional dan pemahaman mendalam tentang pasangan adalah kunci keberhasilan dalam membangun rumah tangga yang harmonis.
Jika pilihanmu adalah menyelamatkan diri, maka itu bukanlah tanda kelemahan, tapi bukti keberanian untuk hidup dengan penuh harga diri di bawah cahaya petunjuk Allah.
Wallāhu a’lam bish-shawāb.



