Asep Mulyana*
Rabu pagi (30/7), pemilihan Ketua dan Wakil Ketua BAZNAS Kota Banjar periode 2025–2030 digelar di Ruang Rapat Gunung Babakan, Setda Kota Banjar. Sekilas, ia tampak seperti agenda rutin lima tahunan: nama-nama dibahas, rekam jejak ditimbang, kriteria disesuaikan. Namun di balik meja-meja itu, sesungguhnya sedang dipertaruhkan sesuatu yang jauh lebih besar: kepercayaan umat dan harapan mereka yang kerap luput dari statistik.
Zakat bukan semata instrumen syariah; ia adalah denyut sosial umat. Ia bukan hanya rukun, tetapi ruh. Dan siapa pun yang dipercaya mengelolanya, sesungguhnya memanggul beban spiritual dan sosial sekaligus. Ia menjadi jembatan antara mereka yang mampu memberi dan mereka yang terlalu letih untuk meminta.
Karena itu, proses penentuan pimpinan BAZNAS tak boleh berhenti pada kecocokan administratif atau kemampuan manajerial. Ia harus menyentuh sisi terdalam: integritas yang tak bisa dipoles, empati yang tak bisa dibuat-buat, dan keberanian untuk hadir di tempat-tempat yang jarang tersorot. Jabatan ini bukan panggung kehormatan, melainkan ladang pengabdian. Bukan ruang untuk dilayani, tapi tempat untuk melayani mereka yang terpinggirkan.
Di era digital, profesionalisme dan transparansi menjadi syarat mutlak. Tapi zakat bukan sekadar angka yang tertata rapi di dashboard atau grafik penghimpunan. Ia adalah kisah-kisah kecil: anak yang kembali ke sekolah, lansia yang bisa berobat, pedagang kecil yang kembali menata harapan. Dan untuk memastikan itu semua terjadi, kita butuh pemimpin yang bukan hanya menguasai sistem, tetapi juga teguh berpihak pada yang lemah.
Lebih dari itu, zakat menuntut kolaborasi. Ia tak bisa dijalankan sendirian. Pemerintah daerah, Kementerian Agama, ormas Islam, tokoh masyarakat—semua harus bergerak dalam simpul kerja bersama. Hanya dengan kebersamaan dan kesadaran kolektif, zakat bisa menjadi kekuatan transformasi sosial, bukan sekadar instrumen ritual.
Sebab pada akhirnya, zakat bukan tentang berapa banyak yang dikumpulkan, tetapi berapa banyak yang dipulihkan. Ia bukan soal dana yang terserap, tapi jiwa-jiwa yang kembali berdaya. Maka mari kita pastikan: siapa pun yang kita beri amanah di BAZNAS, adalah mereka yang mampu melihat bukan hanya angka, tapi wajah. Wajah-wajah yang diam, tapi sesungguhnya sangat menanti kehadiran kita.
*Analis Pelayanan Publik, Kantor Kemenag Kota Banjar



