Banda Aceh, Bimas Islam -- Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Aceh, Azhari, meminta 1.100 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang diangkat sebagai penyuluh agama di Aceh untuk lebih aktif menjangkau hingga pelosok desa dan masyarakat terpencil.
Hal itu disampaikan Azhari dalam kegiatan Evaluasi Kinerja dan Serap Aspirasi Penyuluh Agama Islam Provinsi Aceh yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam di Banda Aceh, Senin (16/6/2025).
Menurutnya, penyuluh agama memiliki peran vital sebagai ujung tombak pelayanan Kemenag sekaligus jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. “Penyuluh harus hadir di tengah umat, apalagi di wilayah pelosok yang minim akses informasi,” ujarnya.
Azhari menjelaskan, keberadaan 1.100 PPPK penyuluh agama menjadi kekuatan besar untuk memperluas jangkauan layanan keagamaan. Ia berharap, seluruh penyuluh mampu merata ke desa-desa terpencil sehingga masyarakat dapat merasakan kehadiran negara.
Selain membimbing masyarakat dalam urusan keagamaan, penyuluh juga diharapkan menjadi penghubung informasi terkait kebijakan pemerintah. “Mereka bukan hanya berceramah, tetapi juga menyampaikan kebijakan keagamaan agar masyarakat paham dan tidak salah persepsi,” tegasnya.
Ia menekankan agar penyuluh tetap peka terhadap dinamika sosial yang terjadi di masyarakat. Penyuluh diminta sigap membantu menyelesaikan konflik, mendampingi keluarga bermasalah, serta turut berperan dalam pengentasan kemiskinan.
Untuk mendukung peran tersebut, pihaknya terus mendorong peningkatan kompetensi penyuluh melalui pelatihan dan pembinaan berkelanjutan. Azhari juga mengingatkan pentingnya adaptasi teknologi digital agar penyuluh dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah yang positif.
“Kita ingin penyuluh Aceh tidak hanya aktif turun ke lapangan, tetapi juga kreatif di dunia digital. Dengan begitu, dakwah kita bisa menjangkau masyarakat lebih luas,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Penerangan Agama Islam diwakili Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam, Jamaluddin M. Marki, menambahkan, dengan status yang kini jelas sebagai ASN, para penyuluh agama mesti semakin profesional dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas di lapangan.
“Penyuluh harus punya style, punya wawasan, dan tampil meyakinkan di depan masyarakat. Jangan hanya piawai berceramah, tetapi juga mampu membangun citra diri yang baik dan berwibawa,” katanya.
Jamal berharap agar para penyuluh tidak sekadar puas dengan rutinitas biasa, tetapi mampu berinovasi dalam metode penyuluhan. “Kita tantang penyuluh Aceh untuk membuat silabus dan metode pembelajaran seperti layaknya guru. Harus ada target, indikator, dan evaluasi. Ini akan menjadi tolok ukur keberhasilan dakwah dan pendampingan masyarakat,” tandasnya.
Wcp-Mr



