Jakarta, Bimas Islam --- Hari lahir Mohammad Hatta, atau biasa dikenal Bung Hatta, yang ke-120 tahun diperingati pada 12 Agustus 2022. Berbagai acara digelar dalam rangka menggali nilai-nilai keteladanan beliau.
Sekretaris Ditjen (Sesditjen) Bimas Islam Kementerian Agama, M. Fuad Nasar mengatakan, semangat juang, karakter, dan pribadi luhur yang ditunjukkan Bung Hatta sepanjang hayatnya adalah nilai-nilai yang diperlukan oleh bangsa Indonesia saat ini dan di masa depan.
“Kita bersyukur dari segi intelektualitas dan keilmuwan telah banyak generasi penerus lulusan pendidikan dalam dan luar negeri yang mengikuti jejak Bung Hatta sebagai intelektual bangsa. Namun generasi penerus perlu meneladani Bung Hatta dari segi kejujuran, integritas moral dan intelektual serta kesetiaan pada cita-cita perjuangan bangsa Indonesia,” kata Fuad saat dihubungi bimasislam, Jumat (12/08).
Menurut Fuad Nasar, sebagai muslim yang dididik dengan agama sejak kecil, Bung Hatta membersihkan harta sejak dari sumber penerimaannya, yaitu menghindari harta yang tidak halal atau syubhat cara mendapatkannya. Bersih jiwa dan bersih harta baginya tak dapat dipisahkan. Bung Hatta sangat membenci korupsi, perbuatan curang, suap, pemberian uang komisi kepada penyelenggara negara, dan segala rupa penyalahgunaan kekuasaan dan ketidakadilan.
Sahabat sesama pejuang kemerdekaan, Mr. Mohamad Roem, pernah mengatakan Bung Hatta tidak meninggalkan gedung atau deposito. Yang ditinggalkannya pelajaran yang baik untuk rakyat dan negara. Cita-cita Bung Hatta adalah menghilangkan perbedaan yang mencolok antara kaya dan miskin pada bangsa Indonesia.
Sejak 1970-an Bung Hatta mengingatkan bahaya yang mengancam bangsa ini, ”Korupsi sudah menjadi budaya di Indonesia.” ungkapnya. Ia mendorong pemerintah Orde Baru pada waktu itu supaya sungguh-sungguh memberantas praktik korupsi di semua lini.
Fuad menuturkan, Bung Hatta yang dilahirkan 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat dicatat dalam sejarah sebagai Perintis Kemerdekaan, Proklamator Kemerdekaan serta Wakil Presiden RI Pertama.
“Bung Hatta juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteri, Menteri Pertahanan, dan Menteri Luar Negeri. Namun, tahun 1956 Bung Hatta meletakkan jabatan Wakil Presiden RI karena perbedaan prinsip dengan Bung Karno pada waktu itu,” tuturnya.
Fuad mengisahkan, saat tidak lagi menjabat Wakil Presiden, sedetik pun republik ini tidak ditinggalkannya. Persahabatannya dengan Bung Karno tetap terjaga sampai akhir. Bung Hatta selalu memikirkan nasib bangsa dan negara yang dicintainya.
Ia seorang muslim yang taat, lanjut Fuad, Bung Hatta itu tokoh besar bangsa yang hidup sederhana sampai akhir hayatnya. Dr. Roeslan Abdulgani menyebut Bung Hatta adalah pengawal dan penjaga hati nurani rakyat.
Fuad Nasar mengungkapkan almarhum Bung Hatta dimakamkan di pemakaman umum di tengah-tengah rakyat yang dibelanya dalam perjuangan, sesuai wasiatnya. Saat upacara pemakaman jenazah almarhum Bung Hatta secara kenegaraan dengan Inspektur Upacara Wakil Presiden Adam Malik di Pemakaman Umum Tanah Kusir Jakarta, Sabtu 15 Maret 1980, Buya Prof. Dr. Hamka (Ketua Umum MUI) dalam untaian doa yang sangat menyentuh hati menyatakan, “Seluruh bangsa Indonesia berhutang pada Bung Hatta, hutang budi yang tidak dapat dibayar, hutang yang akan dibawa mati, yaitu jasa dan perjuangan Bung Hatta untuk Indonesia Merdeka,” sitir Fuad.
(Tommy)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



