Bandung, Bimas Islam – Sebanyak 124 penghulu dan penyuluh agama menjadi peserta dalam kegiatan bertajuk Kalibrasi Standar Kompetensi Jabatan SDM KUA yang digelar Bandung, Senin hingga Kamis (26-29/5/2025). Kegiatan tersebut merupakan upaya Kementerian Agama (Kemenag) untuk memastikan kualitas SDM di KUA sesuai dengan kebutuhan pelayanan publik.
Penghulu dan penyuluh agama itu berasal dari KUA di 6 provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Jakarta, dan Banten. Mereka menunjukkan hasil memuaskan dalam kalibrasi standar kompetensi jabatan.
Proses kalibrasi dilakukan melalui asesmen tertulis, wawancara mendalam, dan Leadership Group Discussion (LGD). Selain menilai pengetahuan dan keterampilan teknis, penilaian ini juga menggali kepribadian, kepemimpinan, kemampuan komunikasi, dan kesesuaian dengan Standar Kompetensi Jabatan (SKJ) nasional.
Psikolog Universitas Indonesia dan Tim Asesor Kompetensi, Fivi Nurwianti, mengungkapkan, peserta menunjukkan profesionalisme yang tinggi.
"Saya melihat mereka disiplin waktu, serius, dan antusias. Ini menunjukkan sikap profesional yang kami harapkan dari SDM KUA," ujar Fivi saat ditemui usai acara, Kamis (29/5).
Fivi menjelaskan, dari observasi langsung, para peserta terlibat aktif dalam proses LGD dan wawancara, dengan banyak peserta datang lebih awal untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. "Beberapa peserta datang jauh lebih awal dari jadwal yang ditentukan, mencerminkan semangat dan kesungguhan mengikuti kegiatan," tambahnya.
Peningkatan Kemampuan Peserta
Meski hasil final asesmen masih dalam pengolahan data, Fivi mencatat adanya kecenderungan pergeseran kemampuan peserta ke arah yang lebih tinggi. "Range-nya cenderung ke kanan, artinya rata-rata mereka memiliki skor yang lebih baik. Misalnya, sebelumnya rata-rata di angka 96, sekarang mendekati 98. Ini menunjukkan bahwa pembinaan dan rekrutmen SDM KUA berada di jalur yang benar," jelas Fivi.
Dalam LGD, peserta tidak hanya diuji untuk berpikir kritis, tetapi juga dituntut berkolaborasi dalam kelompok dan menyelesaikan masalah secara kolektif. Hal ini menjadi indikator penting dalam mengukur kapasitas kepemimpinan peserta.
Kompetensi Tambahan di Luar SKJ
Selain menilai SKJ, kalibrasi ini juga menjadi momen untuk mengevaluasi kompetensi tambahan yang relevan dengan peran penghulu dan penyuluh agama di lapangan. Fivi mengatakan bahwa kompetensi seperti inovasi, fleksibilitas, dan sensitivitas sosial kini menjadi bagian penting dalam pekerjaan mereka.
"Kami menggunakan SKJ sebagai dasar, namun dalam proses ini kami juga mencoba mengungkap kompetensi lain yang relevan, seperti kemampuan membaca situasi sosial atau inisiatif dalam menyelesaikan konflik," jelas Fivi.
Menurutnya, peran penghulu dan penyuluh agama tidak hanya terkait dengan tugas administratif, tetapi juga dalam pendampingan masyarakat dalam isu sensitif seperti pernikahan dan kerukunan beragama.
Kegiatan kalibrasi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Kemenag untuk memperkuat reformasi birokrasi dan pelayanan berbasis kompetensi. Fivi mengatakan, asesmen ini bertujuan untuk memetakan kekuatan dan kekurangan SDM, sehingga dapat disusun program pelatihan lanjutan yang lebih tepat sasaran.
“Tujuannya untuk memetakan kekuatan dan kekurangan, agar bisa menyusun program pelatihan yang lebih tepat sasaran dan mendukung kinerja mereka,” kata Fivi.
Kasubdit Bina Kelembagaan dan Mutu Layanan KUA, Wildan Hasan Syadzili, mengungkapkan, kalibrasi kompetensi SDM KUA menjadi sinyal kuat untuk transformasi pelayanan di KUA.
"Transformasi tidak hanya melalui digitalisasi atau infrastruktur, tetapi juga melalui kualitas manusia. Kedisiplinan dan keseriusan peserta menunjukkan perubahan budaya kerja yang sudah mulai terbentuk," ujar Wildan.
Is menyebut, ke depan, hasil kalibrasi ini akan menjadi rujukan dalam pengembangan sistem promosi, mutasi, dan rotasi jabatan di KUA, untuk memastikan profesionalisme dan integritas aparatur negara.
Wildan menambahkan, kalibrasi ini menjadi langkah maju untuk memperkuat pelayanan keagamaan negara di tingkat akar rumput. "SDM KUA tidak hanya dinilai dari pengetahuan mereka, tetapi juga dari bagaimana mereka berpikir, bersikap, dan berkontribusi di masyarakat," pungkasnya.
Fn/Mr



