Jakarta, Bimas Islam -- Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan komitmen dalam meningkatkan layanan keagamaan dengan memprioritaskan pemenuhan rumah ibadah di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) serta daerah afirmatif. Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah (Urais dan Binsyar), Arsad Hidayat, mengatakan, langkah ini merupakan bagian dari program strategis Ditjen Bimas Islam tahun 2025 yang mencakup empat fokus utama.
“Pemerataan akses terhadap rumah ibadah menjadi perhatian utama Kemenag. Kami memastikan rumah ibadah di wilayah 3T dan afirmatif mendapat dukungan pembangunan, rehabilitasi, serta operasional yang layak,” ujar Arsad Hidayat dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Ditjen Bimas Islam 2025 di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta, Kamis (20/3/25).
Lebih lanjut, Arsad merinci beberapa fokus utama layanan keagamaan berdampak yang akan dijalankan Ditjen Bimas Islam sepanjang 2025.
Peningkatan Bidang Kemasjidan
Arsad menargetkan pembangunan dan rehabilitasi rumah ibadah, terutama masjid di daerah 3T dan afirmatif. Selain itu, peningkatan kualitas SDM pengelola masjid juga menjadi perhatian melalui pelatihan dan pembinaan yang lebih intensif. Program Masjid Berdaya dan Berdampak (MADADA) turut diperkuat sebagai upaya menjadikan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial dan ekonomi umat.
Penguatan Kepustakaan Islam
Dalam peningkatan literasi keislaman, Arsad mendorong optimalisasi perpustakaan masjid dengan memenuhi kebutuhan sarana, prasarana, serta koleksi buku keagamaan Islam yang moderat. Selain itu, dilakukan penelaahan terhadap naskah dan buku umum keislaman demi memastikan kualitas dan kesesuaiannya dengan prinsip moderasi beragama.
Hisab Rukyat dan Pembinaan Syariah
Kemenag terus memperkuat sistem hisab rukyat melalui bimbingan teknis bagi tenaga ahli serta kaderisasi tenaga hisab rukyat nasional dengan program Catch the Moon. Sidang isbat penetapan awal bulan Hijriah juga akan semakin diperkuat dengan data yang lebih akurat dan teknologi yang lebih canggih. Selain itu, Arsad menyebut Konferensi Syariah Internasional juga kembali digelar untuk memperkuat pemahaman syariah di tingkat global.
Bina Paham Keagamaan dan Penanganan Konflik
Menurutnya, mencegah konflik sosial berbasis keagamaan tetap menjadi prioritas utama. Kemenag mengembangkan sistem deteksi dini berbasis chatbot messenger serta mengoptimalkan Case Management System dalam menangani konflik sosial. Temu konsultasi dan pelatihan strategi bagi penyuluh agama serta Kasi Bimas Islam juga menjadi bagian dari upaya penguatan aktor resolusi konflik di daerah rawan.
Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ)
Dalam upaya memastikan distribusi mushaf Al-Qur’an yang merata, Kemenag menargetkan peningkatan produksi kitab suci, termasuk edisi ramah disabilitas. Penyediaan Al-Qur’an braille serta mushaf dengan terjemahan dalam berbagai bahasa daerah akan terus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Arsad Hidayat mengatakaan, seluruh program ini bertujuan untuk memastikan layanan keagamaan yang lebih merata dan berdampak nyata bagi umat. “Kami ingin memastikan bahwa tidak ada lagi kesenjangan dalam akses layanan keagamaan, baik dalam hal rumah ibadah, literasi Islam, maupun penanganan konflik berbasis agama. 2025 adalah tahun percepatan bagi Kemenag untuk memberi layanan terbaik bagi umat,” pungkasnya.
An/Mr



