Jakarta, Bimas Islam -- Sekretaris Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama (Kemenag), Arskal Salim, mengungkapkan pentingnya peran penceramah dalam menyebarkan moderasi beragama di platform digital. Dikatakannya, 46,9% masyarakat mengakses fatwa dan bimbingan agama melalui media sosial.
"Dakwah yang efektif harus mengikuti perkembangan zaman. Media sosial sekarang menempati urutan kedua sebagai sumber konsultasi agama (survei religiousity index 2023), dengan 46,9% umat mengakses fatwa atau bimbingan agama melalui platform ini,” jelas Arskal dalam kegiatan Bimbingan Teknis Penguatan Kompetensi Penceramah Agama Islam, yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag di Jakarta, Senin (7/10/2024).
Moderasi beragama, menurutnya, bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan untuk menghadapi berbagai tantangan ideologis dan kultural, baik dari dalam maupun luar negeri, terutama di kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. "Masih banyak yang belum memahami pentingnya pegangan ideologis yang moderat, sehingga rentan terjebak dalam perpecahan dan sikap ekstrem," ujar Arskal.
Ia mengatakan, moderasi beragama adalah solusi untuk menjaga keutuhan bangsa di tengah ideologi ekstrem yang berupaya masuk melalui berbagai jalur, termasuk media sosial.
Merujuk data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), dari total 279 juta penduduk Indonesia, sebanyak 79,50 persen terhubung dengan internet, dan mayoritas pengguna berasal dari generasi milenial.
Ia mendorong penceramah untuk tidak hanya mengandalkan dakwah konvensional seperti pengajian dan ceramah langsung, tetapi juga aktif di media sosial. Menurut Arskal, teknologi informasi adalah kunci untuk mengarahkan generasi muda menuju cita-cita Indonesia Emas 2045, ketika generasi Z akan menjadi pemimpin, manajer, dan profesional di berbagai sektor.
"Kita tidak bisa hanya membicarakan Indonesia Emas tanpa persiapan yang matang. Generasi milenial harus berperan aktif dalam membimbing generasi di bawah mereka agar siap menghadapi masa depan yang penuh tantangan," tambahnya.
Moderasi Beragama Respons Tantangan Global
Selain tantangan internal, Arskal juga menguraikan bahwa moderasi beragama lahir sebagai respons terhadap ideologi-ideologi ekstrem yang berkembang di dunia global, baik dari Barat maupun Timur. Di kawasan Asia Tenggara, seperti Indonesia yang memiliki keragaman agama dan budaya, tantangan ini terasa lebih kompleks. Penceramah diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang mempromosikan nilai-nilai moderasi, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama.
Kegiatan Bimbingan Teknis ini diikuti 80 penceramah dari berbagai perwakilan Ormas Islam se-Indonesia, serta negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura). Acara ini berlangsung Senin hingga Kamis (7-10/10/2024). Selain mengikuti sesi bimbingan, para peserta dari Malaysia, Brunei, dan Singapura dijadwalkan akan mengunjungi Masjid Istiqlal di Jakarta dan Unit Percetakan Al-Qur'an di Ciawi, Bogor.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas para penceramah dalam menyampaikan pesan-pesan moderasi beragama, baik melalui dakwah langsung maupun lewat platform digital.
Mr-Msk



