Jakarta, Bimas Islam -- Sebanyak 80 penghulu dari berbagai daerah mengikuti Training Komunikasi dan Konseling berbasis AI TalentDNA yang digelar oleh Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) bekerja sama dengan Universitas Ary Ginanjar (UAG) di Jakarta, Senin-Selasa (13-14/1/2025).
TalentDNA adalah metode berbasis AI untuk mengenali pola perilaku alami seseorang. Kasubdit Bina Kepenghuluan Kemenag, Afief Mundzir mengatakan, pelatihan ini bertujuan meningkatkan kompetensi dan kapabilitas penghulu dalam mengenali calon pengantin (Catin).
“Dengan memahami ego masing-masing, penghulu dapat membantu pasangan saling melengkapi, menghargai, dan menyempurnakan kekurangan,” ujar Afief, Senin (13/1).
Afief mengungkapkan, penerapan TalentDNA juga dapat memperkuat ketahanan keluarga di Indonesia dan mendukung terciptanya generasi yang berkontribusi pada Indonesia Emas 2045. Ia berharap, pelatihan ini dapat menjangkau seluruh penghulu di Indonesia serta mampu memperkuat program Bimbingan Perkawinan (Bimwin).
“Pelatihan ini sangat bermanfaat dalam membantu penghulu memahami karakteristik setiap Catin. Ilmunya dapat diterapkan dalam program Bimwin demi mewujudkan ketahanan keluarga,” ungkapnya.
Sementara itu, Pendiri UAG sekaligus Founder ESQ Corp, Ary Ginanjar Agustian menyebut, ketahanan keluarga dimulai dengan mengenali karakter diri dan pasangan. “Ketahanan keluarga bermula dari mengenali karakter diri dan pasangan. Dengan memahami pasangan secara mendalam, kita bisa mencintai mereka dengan lebih tulus. Keluarga yang harmonis adalah kunci menciptakan bangsa yang kuat dan toleran,” kata Ary Ginanjar.
Ketahanan Keluarga di Indonesia
Training Komunikasi dan Konseling berbasis AI TalentDNA digelar sebagai respons atas krisis ketahanan keluarga. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 463.654 kasus perceraian di Indonesia pada 2023. Penyebab utamanya meliputi masalah ekonomi, ketidakcocokan, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
KDRT juga menjadi persoalan serius dengan 18.466 kasus dilaporkan pada 2023, menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA). Dampaknya tidak hanya merusak hubungan keluarga, tetapi juga memberi trauma psikologis mendalam bagi korban, terutama anak-anak.
Ary Ginanjar menambahkan, “Jika keluarga gagal bertahan menghadapi konflik, dampaknya tidak hanya dirasakan pasangan, tetapi juga anak-anak yang kehilangan figur orang tua utuh. Kondisi ini berisiko mengganggu perkembangan mental generasi muda Indonesia,” ungkapnya.
Melalui pelatihan ini, Ary Ginanjar meyakini para penghulu dapat berkontribusi dalam memperkuat ketahanan keluarga, menekan angka perceraian, dan menciptakan masyarakat yang damai, toleran, dan harmonis sebagai modal menuju Indonesia Emas 2045.
“Pelatihan ini merupakan yang pertama di Indonesia, yang dapat menjadi bekal bagi teman-teman penghulu untuk mewujudkan keluarga dan bangsa yang harmonis dan toleran,” pungkasnya.
Wcp/Mr



