Yogyakarta, Bimas Islam -- Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta kini memiliki Endowment Fund atau Dana Abadi dan KKN Tematik 1000 Kampung Zakat dan Kota Wakaf. Program tersebut dirilis hari ini oleh Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf (Ditzawa) Kemenag Waryono Abdul Ghafur.
Program ini merupakan kolaborasi antara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Ditzawa melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi umat seperti KUA Pemberdayaan Ekonomi Umat, Kota Wakaf, dan Inkubasi Wakaf Produktif. Hadir dalam grand launching ini, Rektor UIN Sunan Kalijaga Noorhaidi, Kakanwil Kemenag DI Yogyakarta Ahmad Bahiej, Badan Wakaf Indonesia (BWI), Nadhir, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Lembaga Amil Zakat (LAZ), serta civitas academica UIN Yogyakarta.
Waryono menekankan pentingnya kolaborasi strategis antara kampus dan program pemerintah dalam mengembangkan potensi wakaf dan zakat di masyarakat. “Ini adalah gerakan besar yang bisa mempercepat akselerasi tujuan zakat dan dengan hadirnya program KKN Tematik, kita berharap ada sinergi nyata antara mahasiswa, kampus, dan masyarakat dalam membangun ekonomi umat melalui zakat wakaf,” ujar Waryono di Yogyakarta, Jumat (11/10/2024).
Menurut Waryono, Ditzawa memiliki beberapa mitra strategis dalam pengelolaan zakat dan wakaf, yaitu Baznas dan LAZ di bidang zakat, serta Badan Wakaf Indonesia (BWI), nazhir dan bank syariah LKSPWU di bidang wakaf. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat profesionalitas pengelolaan aset wakaf yang jumlahnya masih besar namun belum sepenuhnya dikelola secara optimal.
Prof. Waryono juga mengumumkan bahwa bantuan inkubasi wakaf produktif akan disalurkan dari hasil wakaf uang yang dikelola Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama. “Kita akan memberikan bantuan dari imbal hasil wakaf uang ASN Kemenag dimana jumlah wakaf uang abadi mencapai 4, 6 Miliar yang akan disalurkan kepada dua organisasi besar, Muhammadiyah dan PCNU Gunungkidul sebagai piloting Kota Wakaf,” jelasnya.
Dalam konteks pengembangan wakaf, Waryono memaparkan empat program utama Ditzawa, yaitu Kampung Zakat, KUA PEU (Pemberdayaan Ekonomi Umat), Inkubasi Wakaf Produktif, dan Kota Wakaf. “Tahun ini kami telah berkomitmen untuk mendukung 118 Kampung Zakat bersama BAZNAS dan LAZ, serta meluncurkan enam Kota Wakaf yang akan memiliki aset wakaf bersertifikat, pengelola aktif, dan praktek wakaf uang yang jelas,” tambahnya.
"Gunungkidul telah ditetapkan sebagai salah satu lokasi pengembangan Kota Wakaf, di mana wakaf tanah dan aset lainnya akan dikelola secara produktif untuk mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar, mengingat sudah ada program wakaf uang calon pengantin, Pemberdayaan wakaf untuk penanaman rumput gajah hingga kolaborasi industri halal dan wakaf " jelas Waryono.
Pengembangan Kota Wakaf ini diharapkan dapat mempercepat transformasi ekonomi berbasis wakaf di wilayah tersebut dengan dukungan penuh dari Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan para nazhir. Menurut Waryono, peran kampus sangat penting dalam keberhasilan program-program Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf.
“Tanpa survei, penelitian, dan metode ilmiah yang dihasilkan oleh kampus, program kami tidak akan berjalan maksimal. Kolaborasi dengan akademisi sangat penting agar dampak nyata dari program ini bisa dirasakan oleh masyarakat luas,” tegasnya.
Ditambahkan Waryono, potensi wakaf uang di Indonesia sangat besar, mencapai 180 triliun rupiah per tahun. Namun, perlu adanya profesionalisasi pengelolaan wakaf agar potensi ini bisa terwujud. “Kami berharap melalui inkubasi wakaf produktif, para nazhir dapat mengelola aset wakaf secara lebih efisien dan produktif, demi kesejahteraan umat,” tutup Waryono.
Acara diakhiri dengan penyerahan bantuan inkubasi wakaf produktif kepada Muhammadiyah dan PCNU Gunungkidul, sebagai bagian dari langkah konkret dalam mewujudkan pengelolaan wakaf yang lebih baik di Indonesia.
(kemenag.go.id)
(kemenag.go.id)



