Jakarta, Bimas Islam -- Guru Besar Ilmu Tafsir Universitas PTIQ Jakarta, Nur Arfiyah Febriani, mengungkapkan adanya hak asasi bagi alam dalam Al-Qur’an. Hal itu disampaikannya dalam International Conference on Islamic Ecotheology for the Future of the Earth (ICIEFE) 2025 yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama di Jakarta, Selasa (15/7/2025).
Ia menjawab perdebatan klasik tentang apakah makhluk (selain) manusia memiliki hak moral, sebagaimana disangkal filosof lingkungan Paul Taylor yang membedakan hak legal dan hak moral dan menilai alam tidak memiliki keduanya.
Menurut Nur Arfiyah, Surah al-An’am ayat 73 memuat frasa bil-haq yang lazim diterjemahkan “dengan kebenaran”, tetapi juga dapat dimaknai “dengan hak”, menandakan bahwa langit dan bumi diciptakan beserta hak asasinya sendiri. Hak asasi tersebut, lanjutnya, berhubungan langsung dengan kewajiban manusia untuk menjaga, melindungi, dan melestarikan alam agar tetap indah, rapi, dan bebas cacat seperti saat pertama diciptakan.
“Harusnya, kita tidak lagi sekadar berbicara konservasi, melainkan memuliakan alam sebagai saudara, merujuk Surah al-An’am ayat 38 yang menggambarkan ukhuwah makhluqiyyah atau persaudaraan antarmakhluk Allah,” ujarnya.
Terdapat berbagai dalil yang berbicara tentang hak-hak bagi alam. Nur Arfiyah mengutip Surah al-Qasas ayat 77 mengenai kewajiban menghormati bumi, al-An’am ayat 165 tentang hak alam untuk hidup harmonis, al-Kahf ayat 7 tentang hak alam mendapat perlakuan baik, serta Yasin ayat 40 dan al-Anbiya ayat 33 yang menunjukkan setiap makhluk memiliki hak untuk menunaikan ibadah kepada Tuhan.
Nur Arfiyah juga menepis tudingan bahwa ayat-ayat kitab suci bersifat antroposentris, yang memusatkan manusia, dituding sebagai penguasa di alam raya . Konsep khalifah dalam Al-Qur’an, imbuhnya, harus dipahami sebagai amanah kepemimpinan ekologis yang mengharuskan kebijakan berwawasan lingkungan, penghindaran kerusakan, dan pemeliharaan produktivitas alam.
“Dalam kerangka itu, peran kita sebagai manusia adalah pelayan bagi alam. Kita tidak menjadi raja. Manusia itu tidak bisa hidup tanpa bumi, tetapi bumi bisa hidup tanpa kehadiran kita,” ungkapnya.
Ia menyerukan pembaruan sikap umat agar memahami hak dan martabat alam, serta mewariskan bumi yang lebih lestari kepada generasi mendatang sebagai bagian dari tanggung jawab kekhalifahan.
”Peran kita sebagai manusia bukan mewarisi pada anak cucu kita bahwa alam ini milik manusia. Alam ini milik Allah. Kita hanya diamanahi sebagai khalifah yang bertanggung jawa terhadap keseimbangan alam semesta,” pungkasnya.
Wcp/Mr



