Serang, Bimas Islam --- Gagasan mengenai moderasi beragama akan lebih lengkap jika disampaikan melalui tulisan. Namun harus diimbangi dengan kualitas tulisan yang ditentukan dari validitas informasi dan gagasan yang disampaikan dengan kalimat dan gaya tutur yang tepat.
Hal tersebut dikatakan Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, A Khoirul Anam saat menyampaikan materinya, di Le Dian Hotel, Serang, Banten, Selasa (23/2).
Anam mengatakan salah satu tujuan dari Coaching Clinic yang digelar oleh Sub Direktorat Kepustakaan Islam Direktorat Urais Binsyar Kemenag RI, adalah menyamakan frekuensi bagaimana seharusnya menulis dengan perspektif
moderasi beragama.
“Di sesi ini saya diminta untuk sedikit sharing pengalaman menulis, sekaligus bagaimana mengembangkan moderasi beragama yang dikampanyekan oleh Kementerian Agama sekaligus menjadi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan masuk dalam bagian dari agenda negara,” katanya.
Menurut Ketua Tim Penelaah Buku Keislaman di Subdit Kepustakaan Islam Ditjen Bimas Islam Kemenag itu, sebuah gagasan akan menjadi lengkap kalau disampaikan dalam bentuk tulisan. Ia mencontohkan seorang penceramah, tidak semua orang punya kemampuan untuk berceramah, tapi ceramah yang bagus dipandu oleh konsep tulisan meskipun tidak harus disampaikan semua.
Anam menambahkan, ketika sudah bisa membuat konsep gagasan ke dalam naskah tertulis, maka bisa diaplikasikan di dalam multi platform.
“Jadi saya kira sangat strategis Kementerian Agama mengundang para penulis-penulis dan penyuluh agama untuk menyamakan frekuensi mencari satu titik temu tentang berbagai ide, gagasan, atau bidang konsentrasi kita masing-masing dalam satu tujuan, yaitu menyebarkan gagasan moderasi beragama,” tutupnya.
(Anty)
Editor: Sigit
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Penjelasan Kemenag tentang Program Wakaf Saham Masjid Istiqlal
Jakarta, Bimas Islam --- Penyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar terkait Masjid Istiqlal, Wakaf Tunai, dan Bursa Efek Indonesia mendapat perhatian yang luas…



