Bogor, Bimas Islam --- Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta Khoirul Anam mengatakan moderasi beragama sesungguhnya merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan, dan cara memahami agama dengan tawazun dan tawassuth, serta berhubungan erat dengan manusia dan mahluk lainnya.
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber acara kegiatan Temu Konsultasi Kepustakaan Islam yang bertema “Peningkatan Akses Literasi Pustaka Keagamaan Islam Berbasis Moderasi Beragama” di Swiss-Belhotel, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (09/3).
“Ketika bicara moderasi beragama itu urusannya tidak hanya terkait dengan muslim saja tapi dengan non muslim. Kalau antar sesama manusia yakni muslim dengan non muslim. Kemudian juga hubungan umat Islam dengan negaranya atau dengan pemerintah,” katanya.
Dalam konteks ini, menurut Anam, organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sudah menyepakati bahwa negara Indonesia didirikan dengan jihad dan darah perjuangan para ulama, sampai terbentuk NKRI hingga saat ini.
“Jangan sampai kemudian ada generasi baru yang tidak jelas berguru dengan siapa, atau salah mengambil sumber referensi, menganggap Indonesia ini sebagai negara kafir yang menjadi tidak nyaman bagi masyarakat lainnya yang berada di Negara Indonesia ini,” papar Anam.
Ia pun mengingatkan bahwa hubungan muslim dengan lingkungan alam sekitarnya juga termasuk dari bagian moderasi beragama. Dalam ajaran fikih taharah tidak selalu terkait dengan ubudiah tapi juga dengan lingkungan.
“Secara umum moderasi beragama terkait keberimbangan kita antara dunia dan akhirat, antara spiritualisme (ruhaniyyah) dan materialisme (maddiyyah), dimana kedua poin itu seimbang atau tidak condong ke salah satunya. Sedangkan dalam bahasa Arab sendiri, kata moderat disebut dengan wasathiyah,” katanya. Ia mengutip Surah Al-Baqarah Ayat 143, yang artinya: "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu."
“Oleh karena itu melalui moderasi beragama ini, kita ingin menunjukkan karakter keberagamaan dan karakteristik wajah umat Islam di Indonesia yang perlu ditularkan tidak hanya di lingkup nasional atau Asia Tenggara tapi juga bisa ke seluruh dunia,” tutupnya.
(Anty)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Penjelasan Kemenag tentang Program Wakaf Saham Masjid Istiqlal
Jakarta, Bimas Islam --- Penyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar terkait Masjid Istiqlal, Wakaf Tunai, dan Bursa Efek Indonesia mendapat perhatian yang luas…



