“Smartphone dengan koneksi internet menjadi kebutuhan pokok yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan, terutama generasi muslim milenial. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat saat ini juga banyak melalui internet,” kata Anam saat menjadi narasumber kegiatan Temu Konsultasi Kepustakaan Islam di Swiss-Belhotel, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (09/3).
Menurut Anam, kemajuan teknologi informatika bisa berdampak penyebaran hoaks. Di sisi lain, kata dia, bisa menjadi sarana belajar agama Islam. Mayoritas masyarakat belajar tentang kehidupan, politik dan agama dari internet, media sosial, google, atau tokoh tokoh agama yang sering muncul di Youtube.
Faktanya, Anam melanjutkan, generasi Muslim bisa jadi lebih akrab dengan Ideologi Transnasional daripada Islam di lingkungannya. Keadaan era pandemi juga mempercepat proses migrasi digital itu.
“Oleh karena itu, manfaatkan internet untuk hal yang positif dan produktif. Internet dimanfaatkan untuk belajar dan menjadi sarana pendukung belajar agama. Namun harus dipastikan sumbernya tepat dan jelas. Kemudian internet bisa menjadi sarana silaturrahim, bahkan melalui internet kita bisa menjadikan sarana untuk berkreatifitas dan bisnis,” urainya.
Acara yang bertema “Peningkatan Akses Literasi Pustaka Keagamaan Islam Berbasis Moderasi Beragama” dihadiri oleh peserta dari Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman Majelis Ulama Indonesia (LPBKI MUI), Akademisi, Perpustakaan Organsisasi Masyarakat Islam, Perpustakaan Masjid, Komunitas Pustaka Islam, Badan Litbang dan perwakilan Kanwil Kemenag Provinsi se-Indonesia.
(Anty)



