Jakarta, Bimas Islam — Psikolog keluarga Alissa Wahid, mengatakan, membangun keluarga maslahah memerlukan kesiapan emosional, spiritual, serta kemampuan menyelesaikan konflik rumah tangga. Oleh karena itu, program Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi calon pengantin harus dimaknai sebagai bekal sekaligus investasi jangka panjang dalam membentuk keluarga yang sehat dan tahan uji.
“Kalau Bimwin dilakukan dengan semangat dan pendekatan yang tepat, angka perceraian akan menurun. Karena kita tidak hanya memberi teori, tapi membekali mereka untuk menghadapi dinamika rumah tangga,” ujar Alissa dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Fasilitator Bimwin Angkatan III dan IV yang berlangsung di Jakarta, Senin (23/6/2025).
Kegiatan Bimtek Fasilitator Bimwin ini diikuti 100 penghulu dan penyuluh agama dari berbagai daerah di Indonesia. Alissa mengungkapkan, Bimwin bukan sekadar kewajiban membaca modul, melainkan ruang pembekalan menyeluruh bagi calon pengantin.
Dalam pelaksanaannya, para fasilitator perlu memahami dan menginternalisasi prinsip-prinsip utama keluarga maslahah, seperti membangun kesadaran berpasangan, menjadikan pernikahan sebagai janji kokoh dan sakral, memperlakukan pasangan dengan baik dan adil, membiasakan komunikasi yang sehat, serta membangun sikap saling menerima, memberi, dan merelakan.
“Kelima prinsip ini menjadi dasar penting dalam pelaksanaan Bimwin dan harus disampaikan dengan pendekatan yang membumi agar mudah dipahami masyarakat,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Alissa juga memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi pasangan muda masa kini, mulai dari standar kebahagiaan semu di media sosial, tekanan ekonomi, krisis komunikasi, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Banyak pasangan yang memasuki jenjang pernikahan dengan ekspektasi tinggi, namun belum memiliki kesiapan mental dan emosional.
Menurutnya, pelaksanaan Bimwin harus disampaikan secara seragam, konsisten, dan mendalam. Modul yang digunakan tidak cukup hanya dibaca sebagai bahan ajar, tetapi harus dipahami sebagai panduan membentuk ketahanan keluarga.
“Kalau penyuluh dan penghulu bisa menyampaikan nilai-nilai keluarga maslahah dengan baik, masyarakat akan merasakan dampaknya. Tidak hanya dalam menurunkan angka perceraian, tetapi juga dalam membentuk keluarga yang kuat, damai, dan berdaya,” pungkasnya.
Msk/Mr



