Jakarta, Bimas Islam – Islam mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan, termasuk dalam relasi antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan gender bukan sekadar wacana, tetapi bagian dari nilai Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Hal itu disampaikan Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid, dalam kajian Ramadan bertajuk Puasa dan Perjuangan Perempuan dalam Membangun Masyarakat yang Inklusif. Acara yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) ini berlangsung di Masjid Al-Ikhlas, Kemenag, pada Kamis (20/3/2025) bakda salat zuhur.
Alissa mengatakan, kesetaraan gender dalam Islam bukanlah konsep baru. Sejak masa Rasulullah, ajaran Islam telah menekankan keadilan dan keseimbangan dalam kehidupan sosial. Ia menjelaskan bahwa keislaman seseorang tidak hanya diukur dari ibadah personal, tetapi juga dari bagaimana mereka memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
“Puasa bukan hanya instrumen kita untuk membangun habluminallah (hubungan dengan Allah), tapi juga habluminannas (hubungan dengan manusia). Kesalehan individu harus berdampak pada kesalehan sosial, termasuk dalam memperjuangkan keadilan bagi perempuan,” ujarnya.
Ia mencontohkan bahwa perempuan Indonesia sejak lama berperan aktif di ruang publik. Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 1928 menunjukkan bahwa perjuangan perempuan untuk kesetaraan telah dimulai jauh sebelum kemerdekaan. Bahkan dalam lingkungan pesantren, Nyai Syarifah pada Muktamar NU 1938 sudah meminta agar santri perempuan mendapatkan hak pendidikan yang sama dengan santri laki-laki.
Namun, Alissa mengakui bahwa tantangan masih ada, terutama dalam akses pendidikan bagi anak perempuan di daerah pedesaan.
“Sering kali, ketika ekonomi keluarga terbatas, anak laki-laki yang diutamakan sekolah, sedangkan anak perempuan dianggap cukup di rumah. Padahal, ibu yang berilmu akan mencetak generasi yang lebih baik,” jelasnya.
Selain pendidikan, ia juga menyoroti tingginya angka kekerasan terhadap perempuan. Menurutnya, Islam sebagai agama rahmat seharusnya melahirkan kebijakan yang melindungi kelompok rentan, termasuk perempuan.
“Jika masih ada perempuan yang menjadi korban kekerasan tanpa perlindungan yang memadai, berarti kita belum benar-benar mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin,” katanya.
Alissa menekankan bahwa perjuangan menciptakan masyarakat yang inklusif bukan hanya tugas perempuan, tetapi juga laki-laki. Ia mengajak para pria untuk turut serta dalam memperjuangkan keadilan.
“Kalau kita ingin menciptakan masyarakat yang lebih adil, laki-laki dan perempuan harus berjalan bersama, saling mendukung,” tuturnya.
Dalam konteks ekonomi, Alissa mengungkapkan kesenjangan yang terlalu besar antara kelompok kaya dan miskin sebagai bentuk ketidakadilan sosial. Ia mencontohkan Jepang yang membatasi selisih gaji pejabat tertinggi dan terendah maksimal 200 kali lipat. Sementara di Indonesia, kesenjangan bisa mencapai ribuan kali lipat.
“Masyarakat yang lebih sejahtera adalah masyarakat yang tidak hanya berpikir tentang kemenangan individu, tetapi juga kemaslahatan bersama,” katanya.
Lebih lanjut, ia memperkenalkan tiga konsep utama dalam membangun relasi yang lebih adil antara laki-laki dan perempuan, yaitu keadilan, saling menguatkan, dan keseimbangan.
“Jika ketiga prinsip ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka kita tidak perlu lagi berbicara soal perjuangan perempuan, karena keadilan sudah menjadi budaya kita,” ungkapnya.
Sebagai penutup, Alissa mengajak seluruh peserta untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum refleksi dan perubahan.
“Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun kesadaran sosial. Jika kita ingin Islam benar-benar menjadi rahmatan lil alamin, maka perjuangan untuk keadilan dan kesetaraan harus menjadi bagian dari praktik keagamaan kita,” pungkasnya.
Kajian ini merupakan bagian dari program Ramadan Cinta: Menyenangkan, Menenangkan yang diinisiasi Ditjen Bimas Islam Kemenag. Program ini bertujuan memperkuat moderasi beragama dan membangun pemahaman Islam yang lebih inklusif di tengah masyarakat.
An/Mr



