Lombok Barat, bimasislam --- Dusun Longserang Timur, Lombok Barat merupakan satu dari 15 lokasi yang ditetapkan oleh Ditjen Bimas Islam, Kementerian Agama, sebagai pilot project kampung zakat. Grand Launching penetapan dusun ini sebagai kampung zakat dilakukan bersamaan dengan Musyawarah Nasional Forum Zakat (FoZ) di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 1-3 Februari 2018 yang dihadiri Gubernur NTB, Menteri Agama, dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ketika itu, bersama pengurus organisasi pengelola zakat se-Indonesia.
Setelah hampir dua tahun berlalu, kini masyarakat di dusun tersebut telah merasakan dampak ekonomi dari program Kampung Zakat. Menurut Muhammad Ramli, Kepala Dusun setempat, dampak ekonomi itu terutama terlihat dari sektor pengrajin anyaman ketak khas Lombok Barat yang selama ini menjadi mata pencaharian sejumlah ibu rumah tangga di sana.
“Setelah ada kampung zakat, masyarakat kecil yang menjadi pengrajin anyaman ketak terbantu terutama terkait dana, jadi tidak lagi mencari pinjaman,” ujarnya kepada bimasislam saat menyambangi kampung tersebut, Senin (16/12).
Dulu, ia menambahkan, pengrajin di daerah itu sangat tergantung pada pengepul sebagai pemberi modal dan bahan baku. Setelah ada bantuan dana melalui program Kampung Zakat keuntungan yang didapat oleh pengrajin bisa lebih besar dari pada sebelumnya. Oleh karena itu program kampung zakat menurutnya, menambah kemandirian para pengrajin karena tidak lagi tergantung kepada pemilik modal dan bahan baku.
Pemasaran Sudah Sampai Belanda dan Jepang
Hasil kerajinan anyaman warga kampung zakat juga telah menembus pasar ekspor. Satu tahun sejak program kampung zakat diresmikan, souvenir anyaman ketak yang dibuat pengrajin warga Longserang Timur sudah berhasil menembus pasar Belanda dan Jepang. Hal tersebut diutarakan Muhammad Daud, tenaga dari BAZNAS Pusat yang ditugaskan di daerah tersebut saat berkeliling melihat para pengrajin ketak bersama bimasislam. Sebelumnya, imbuh Daud, hasil kerajinan masyarakat hanya di dijual di pasar lokal. Berkat pembinaan program kampung zakat, pemasaran mulai meluas hingga Jakarta bahkan hingga ke luar negeri.
BAZNAS sendiri, dikatakannya, memiliki dua kelompok binaan pengrajin, masing-masing beranggotakan sepuluh dan dua puluh orang. Dalam satu bulan, rata-rata tiap kelompok bisa menghasilkan 50 buah souvenir, bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan anyaman ketak itu sendiri.
Daud menambahkan, warga yang mengikuti program ini merupakan ibu rumah tangga dari masyarakat ekonomi lemah, termasuk para janda di daerah tersebut. “Harapan kami, lewat pendampingan yang dilakukan melalui kampung zakat, masyarakat punya kemandirian ekonomi,” harapnya.
Program ekonomi ini awalnya sempat tersendat, terutama diakibatkan gempa bumi berkekuatan 6,4 SR yang melanda pulau lombok bulan Juli 2018 lalu. Setelah gempa bumi, lembaga-lembaga zakat di sana kemudian sepakat untuk fokus pada recovery pasca gempa, terutama pembangunan rumah tidak layak huni (Rutilahu) bagi masyarakat miskin. Semua program dijalankan dengan cara dicicil, setelah penyelesaian Rutilahu ini dianggap cukup, pemberdayaan ekonomi kemudian mulai dijalankan. Selain anyaman katek, program di bidang ekonomi ini juga memberdayakan petani gula aren dan pedagang kecil.
Kampung Zakat adalah sebuah program kolaborasi antara Kementerian Agama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan sejumlah Lembaga Amil Zakat (LAZ) untuk memberdayakan kaum duafa melalui pemanfaatan dana zakat. Pilot project program kampung zakat dilaksanakan di daerah tertinggal dengan memberi manfaat perubahan bagi peningkatan ekonomi mustahik.
Program kampung zakat dimulai tahun 2018 dan 2019 dimana setiap lokasi mendapatkan bimbingan selama tiga tahun sebelum dilepas menjadi desa mandiri.
Penulis: sigit-yasir
Editor: sigit
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



