Jakarta, bimasislam— Apa hubungan antara visi Bimas Islam “Terwujudnya Masyarakat Islam Indonesia yang Taat Beragama dan Sejahtera Lahir Batin” dengan antropolog terkenal dari Amerika Serikat, Clifford Geertz? jawabannya dijelaskan oleh Plt Dirjen Bimas Islam, Abdul Djamil, saat membuka Konsinyering Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Ditjen Bimas Islam Tahun 2018 yang digelar di Hotel Lumire, Jalan Senen Raya, Jakarta Pusat, Rabu (8/2).
Dikatakan Abdul Djamil, mewujudkan visi Bimas Islam merupakan hal yang tidak mudah, terutama membentuk masyarakat yang selain taat beragama, juga sejahtera lahir dan batin. “Mungkin banyak yang taat beragama, tapi tidak sejahtera. Atau sebaliknya, banyak masyarakat yang hidup sejahtera tetapi tidak taat beragama.” ujarnya.
Terkait dengan ketaatan beragama dan kesejahteraan ekonomi tersebut, Guru Besar UIN Walisongo Semarang itu mengutip hasil studi seorang antropolog dari Universitas Chicago, Clifford Geertz, yang membagi sikap keagamaan masyarakat Muslim di Indonesia ke dalam tiga kategori, yaitu kelompok Santri, Priyayi, dan Abangan.
Dikatakan Djamil, ukuran ketaatan beragama bisa diukur secara praktis, “bisa dilihat secara sederhana bagaimana umat berpuasa, shalat, zakat, dan sebagainya,” katanya seraya menambahkan bahwa pengukuran lebih seksama dapat mengacu pada Indeks Kehidupan Beragama sebagaimana telah dirilis Badan Litbang Kementerian Agama.
Djamil menjelaskan, yang dimaksud kategori Santri adalah kelompok masyarakat yang taat pada peraturan-peraturan syariah seperti puasa, shalat, zakat, dan sebagainya. “Selain santri, adapula kategori Islam Priyayi, yaitu mereka yang melakukan shalat sekadarnya, puasa seperlunya, dan tak terlalu kelihatan taat beragama,” jelasnya. Kelompok kedua ini merupakan gaya Islam priyayi, dengan sikap keagamaan yang terbatas, namun tetap memiliki identitas Islam.
Sedangkan tipe ketiga, ia melanjutkan, adalah kategori Islam abangan. “Kelompok ini mungkin baca bismillah saja tidak bisa. Shalatnya bisa jadi sekali seumur hidup, puasanya hanya partisipatif, tetapi mereka tetap beridentitas Islam.”
Tantangannya, kata Djamil, adalah bagaimana visi Ditjen Bimas Islam yang menginginkan terwujudnya masyarakat yang taat beragama dan sejahtera lahir batin itu dapat tercapai di tengah kehidupan masyarakat yang seperti itu.
“Bagaimana kemudian Bimas Islam dapat menerapkan visinya di tengah-tengah kehidupan dan tipologi keislaman yang semacam ini? Pertama merupakan Santri yang orientasinya masjid dan pasar, sementara tipe Priyayi yang berorientasi pada pelayanan atau amtenaar, dan yang terakhir adalah kelompok Abangan yang mungkin tidak kemana-mana,” jelasnya.
Oleh karena itu, dikatakannya, Penyusunan RKP pada Ditjen Bimas Islam tahun 2018, harus sejalan dengan arah pencapaian visi Bimas Islam yang harus terus diperjuangkan di tengah sikap keagamaan umat yang seperti itu.
“Penyusunan RKP harus sesuai dengan arah visi Bimas Islam, dan terus diperjuangkan di tengah kehidupan masyarakat yang sedemikian rupa,” pungkas Djamil.
(sigit/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



